8 Hal Yang Menjadikan Turunnya Rezeki

cybermoeslem – Berusaha dan bekerja keras serta berdoa merupakan salah satu cara kita untuk mengais rezeki atau rejeki. Meskipun kita sudah melaksanakan itu semua, namun faktanya (terkadang) rezeki kita masih susah, tidak lancar atau pas-pasan bahkan kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tetapi kita harus tetap bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan atau rezekikan kepada kita. 
Seperti diketahui, rejeki merupakan salah satu diam-diam Allah SWT, tidak ada satu orang pun yang mengetahui akan rezekinya. Meskipun demikian, kalau kita menyadari ternyata Allah SWT telah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya tentang sebab-sebab turunnya rezeki dengan klarifikasi yang amat gamblang. Allah menjanjikan keluasan rizki kepada siapa saja yang menempuhnya serta memakai cara-cara halal, Allah juga memperlihatkan jaminan bahwa mereka pasti akan sukses serta mendapat rizki dengan tanpa disangka-sangka.

   Berusaha dan bekerja keras serta berdoa merupakan salah satu cara kita untuk mengais re 8 Hal yang Menyebabkan Turunnya Rezeki
Ilustrasi :Pintu Kesuksesan

Nah, berikut yakni 8 hal yang menimbulkan rezeki seseorang menjadi gampang atau sebab-sebab turunnya rezeki yang patut kita ketahui, ibarat dilansir dari laman SedekahDoa
  1. Takwa Kepada Allah
    Takwa merupakan salah satu alasannya yang sanggup mendatangkan rizki dan menjadikannya terus bertambah. Allah Subhannahu wa Ta”ala berfirman, artinya,

    “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah pasti Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya.” (At Thalaq 2-3)

    Setiap orang yang bertakwa, menetapi segala yang diridhai Allah dalam segala kondisi maka Allah akan memperlihatkan keteguhan di dunia dan di akhirat. Dan salah satu dari sekian banyak pahala yang dia peroleh yakni Allah akan menimbulkan baginya jalan keluar dalam setiap permasalahan dan problematika hidup, dan Allah akan memperlihatkan kepadanya rizki secara tidak terduga.

    Imam Ibnu Katsir berkata ihwal firman Allah di atas, “Yaitu barang siapa yang bertakwa kepada Allah dalam segala yang diperintahkan dan menjauhi apa saja yang Dia larang maka Allah akan memperlihatkan jalan keluar dalam setiap urusannya, dan Dia akan memperlihatkan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari jalan yang tidak pernah terlintas sama sekali sebelumnya.”

    Allah swt juga berfirman, yang artinya:

    “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. 7:96)

  2. Istighfar dan Taubat
    Termasuk alasannya yang mendatang kan rizki yakni istighfar dan taubat, sebagaimana firman Allah yang mengisahkan ihwal Nabi Nuh Alaihissalam ,

    “Maka saya katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia yakni Maha Pengampun” pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. 71:10-12)

    Al-Qurthubi mengatakan, “Di dalam ayat ini, dan juga dalam surat Hud (ayat 52,red) terdapat petunjuk bahwa istighfar merupakan penyebab turunnya rizki dan hujan.”

    Ada seseorang yang mengadukan kekeringan kepada al-Hasan al-Bashri, maka dia berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”, kemudian ada orang lain yang mengadukan kefakirannya, dan dia menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah”. Ada lagi yang mengatakan, “Mohonlah kepada Allah semoga memperlihatkan kepadaku anak!” Maka dia menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah”. Kemudian ada yang mengeluhkan kebunnya yang kering kerontang, dia pun juga menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah.”

    Maka orang-orang pun bertanya, “Banyak orang berdatangan mengadukan banyak sekali persoalan, namun anda memerintahkan mereka semua semoga beristighfar.” Beliau kemudian menjawab, “Aku menyampaikan itu bukan dari diriku, sesungguhnya Allah swt telah berfirman di dalam surat Nuh,(seperti tersebut diatas, red)

    Istighfar yang dimaksudkan yakni istighfar dengan hati dan mulut kemudian berhenti dari segala dosa, lantaran orang yang beristighfar dengan lisannnya saja sementara dosa-dosa masih terus dia kerjakan dan hati masih senantiasa menyukainya maka ini merupakan istighfar yang dusta. Istighfar yang demikian tidak memperlihatkan faidah dan manfaat sebagaimana yang diharapkan.

  3. Tawakkal Kepada Allah
    Allah SWT berfirman yang artiny:

    “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah pasti Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. 65:3)

    Nabi SAW telah bersabda, artinya,

    “Seandainya kalian mau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya maka pasti Allah akan memperlihatkan rizki kepadamu sebagaimana burung yang diberi rizki, pagi-pagi dia dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani)

    Tawakkal kepada Allah merupakan bentuk memperlihatkan kelemahan diri dan perilaku bersandar kepada-Nya saja, kemudian mengetahui dengan yakin bahwa hanya Allah yang memperlihatkan dampak di dalam kehidupan. Segala yang ada di alam berupa makhluk, rizki, pemberian, madharat dan manfaat, kefakiran dan kekayaan, sakit dan sehat, maut dan kehidupan dan selainnya yakni dari Allah semata.

    Maka hakikat tawakkal yakni sebagaimana yang di sampaikan oleh al-Imam Ibnu Rajab, yaitu menyandarkan hati dengan bahu-membahu kepada Allah Azza wa Jalla di dalam mencari kebaikan (mashlahat) dan menghindari madharat (bahaya) dalam seluruh urusan dunia dan akhirat, menyerahkan seluruh urusan hanya kepada Allah serta merealisasikan keyakinan bahwa tidak ada yang sanggup memberi dan menahan, tidak ada yang mendatangkan madharat dan manfaat selain Dia.

  4. Silaturrahim
    Ada banyak hadits yang menjelaskan bahwa silaturrahim merupakan salah satu alasannya terbukanya pintu rizki, di antaranya yakni sebagai berikut:

    Sabda Nabi SAW yang artinya:

    “Dari Abu Hurairah ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Siapa yang bahagia untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah menyambung silaturrahim.” (HR Al Bukhari)

    Juga sabda Nabi SAW yang artinya,

    “Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Ketahuilah orang yang ada relasi nasab denganmu yang engkau harus menyambung relasi kekerabatan dengannya. Karena sesungguhnya silaturrahim menumbuhkan kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta dan memperpanjang umur.” (HR. Ahmad dishahihkan al-Albani)

    Yang dimaksudkan dengan kerabat (arham) yakni siapa saja yang ada relasi nasab antara kita dengan mereka, baik itu ada relasi waris atau tidak, mahram atau bukan mahram.

  5. Infaq fi Sabilillah
    Allah swt berfirman, artinya,

    “Dan barang apa saja yang kau nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. 34:39)

    Ibnu Katsir berkata, “Yaitu apapun yang kau infakkan di dalam hal yang diperintahkan kepadamu atau yang diperbolehkan, maka Dia (Allah) akan memperlihatkan ganti kepadamu di dunia dan memperlihatkan pahala dan jawaban di alam abadi kelak.”

    Juga firman Allah yang lain,artinya,

    “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kau menentukan yang buruk-buruk kemudian kau nafkahkan dari padanya, padahal kau sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kau dengan kemiskinan dan menyuruh kau berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 2:267-268)

    Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah saw bersabda, Allah swt berfirman, “Wahai Anak Adam, berinfaklah maka Aku akan bederma kepadamu.” (HR Muslim)

  6. Menyambung Haji dengan Umrah
    Berdasarkan pada hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dari Ibnu Mas”ud Radhiallaahu anhu dia berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,

    “Ikutilah haji dengan umrah lantaran sesungguhnya keduanya akan menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana pande besi menghilangkan karat dari besi, emas atau perak, dan haji yang mabrur tidak ada akhirnya kecuali surga.” (HR. at-Tirmidzi dan an- Nasai, dishahihkan al-Albani)

    Maksudnya adalah, jikalau kita berhaji maka ikuti haji tersebut dengan umrah, dan jikalau kita melaksanakan umrah maka ikuti atau sambung umrah tersebut dengan melaksanakan ibadah haji.

  7. Berbuat Baik kepada Orang Lemah
    Nabi saw telah menjelaskan bahwa Allah akan memperlihatkan rizki dan pertolongan kepada hamba-Nya dengan alasannya ihsan (berbuat baik) kepada orang-orang lemah, dia bersabda, artinya,

    “Tidaklah kalian semua diberi pertolongan dan diberikan rizki melainkan lantaran orang-orang lemah diantara kalian.” (HR. al-Bukhari)

    Dhu’afa’ (orang-orang lemah) klasifikasinya bermacam-macam, ada fuqara, yatim, miskin, orang sakit, orang asing, perempuan yang terlantar, hamba sahaya dan lain sebagainya.

  8. Serius di dalam Beribadah
    Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, artinya,

    “Wahai Anak Adam Bersungguh-sungguhlah engkau beribadah kepada Ku, maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kecukupan dan Aku menanggung kefakiranmu. Jika engkau tidak melaksanakan itu maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kesibukan dan Aku tidak menanggung kefakiranmu.”

    Tekun beribadah bukan berarti siang malam duduk di dalam masjid serta tidak bekerja, namun yang dimaksudkan yakni menghadirkan hati dan raga dalam beribadah, tunduk dan khusyu” hanya kepada Allah, merasa sedang menghadap Pencipta dan Penguasanya, yakin sepenuhnya bahwa dirinya sedang bermunajat, mengadu kepada Dzat Yang menguasai Langit dan Bumi.

Itulah Sebab-sebab turunnya rezeki yang sanggup kita amalkan selain berusaha, bekerja keras serta berdoa. Dan masih banyak lagi pintu-pintu rizki yang lain, ibarat hijrah, jihad, bersyukur, menikah, bersandar kepada Allah, meninggalkan kemaksiatan, istiqamah serta melaksanakan ketaatan, dll.
Mudah-mudahan Allah SWT memperlihatkan taufik, hidayah serta bimbingan kepada kita semua, untuk selalu bertaqwa kepada-Nya. Amin. 

Sumber Referensi :
#https://sedekahdoa.wordpress.com/2012/03/19/sebab-sebab-turunnya-rizki/

Scroll to Top