Babad Rembang Dan Usaha Raden Panji

By | Maret 22, 2015

Kabupaten Rembang, yakni sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya yakni Rembang. Kabupaten ini berbatasan dengan Teluk Rembang (Laut Jawa) di utara, Kabupaten Tuban (Jawa Timur) di timur, Kabupaten Blora di selatan, serta Kabupaten Pati di barat.

Makam jagoan pergerakan emansipasi perempuan Indonesia, R. A. Kartini, terdapat di Kabupaten Rembang, yakni di jalur Rembang-Blora (Mantingan).

Asal seruan Nama Rembang

Dahulu kala ada seorang saudagar kaya yang berjulukan Dampo Awang. Dia berasal dari Negara Cina. Dia ingin pergi kesuatu tempat untuk mengajarkan pemikiran Kong Hu Cu dengan cara mengarungi samudera bersama para pengawal setianya. Suatu hari dia hingga di tanah jawa cuilan timur.

Dampo Awang sangat bahagia akan daerah itu sehingga dia bermaksud untuk berlabuh disana dan menetap sambil mengembangkan pemikiran yang dibawanya. Suatu ketika Dampo Awang bertemu dengan Sunan Bonang, Sunan Bonang yakni salah satu dari 9 wali yang membuatkan agama islam di tanah jawa.

Pada ketika pertemuan pertama kali itu, Dampo Awang sudah memperlihatkan perilaku kurang baik pada Sunan Bonang. Dampo Awang takut bila pemikiran yang selama ini dia ajarkan akan hilang dan digantikan dengan pemikiran agama islam. Perlu diketahui bahwa Dampo Awang sudah terbiasa dengan orang awam di jawa sehingga dia sanggup berbahasa dengan baik.Saat Sunan Bonang mau mendirikan Salat Ashar. Dampo Awang berfikir untuk mecelekai Sunan Bonang. Dia menyuruh pengawalnya untuk menaruh racun ke air putih dalam kendi yang berada diatas meja. Setelah selesai shalat Sunan Bonang menuju ke meja makan. Dampo Awang menerka bahwa Sunan Bonang akan meminum air dalam kendi tersebut.

Tetapi dugaan Dampo Awang keliru, bekerjsama Sunan Bonang mau mengaji. Hari demi hari telah berlalu, setiap waktu shalat Sunan Bonang mengumandangkan adzan dan shalat, sesudah shalat Sunan Bonang mengaji diteras rumahnya. Setiap orang – orang yang lewat di depan rumahnya dan mendengar bunyi Sunan Bonang ketika mengaji dan adzan menjadi kagum akan ayat – ayat alllah. Kemudian banyak penduduk menjadi pemeluk agama islam. Lama – kelamaan pengikut sunan semakin banyak.

Tidak usang kemudian Dampo Awang mendengar bencana tersebut dia sangat murka lantaran pengikutnya semakin berkurang kemudian Dampo Awang mengirim pengawalnya untuk menjemput Sunan Bonang . Mula – mula Sunan Bonang menolak tetapi lantaran dia merasa kasihan akan pengawal – pengawal Dampo Awang, bila Sunan Bonang tidak ikut mereka akan dieksekusi pancung. Akhirnya Sunan Bonang bersedia untuk tiba ke kediaman Dampo Awang.

Saat Sunan Bonang tiba di kediaman Dampo Awang, Dampo Awang menyambutnya dengan ramah. Namun dibelakang dari keramahan tersebut Dampo Awang telah merencanakan sesuatu. Dampo Awang menyuguhi Sunan Bonang dengan buah – buahan segar, makanan enak, minuman lezat, dll. Sunan Bonang tidak menaruh curiga sedikitpun kepada Dampo Awang, padahal Dampo Awang berniat mencelakainya. Saat ditengah perjamuan, tiba – tiba Dampo Awang meminta supaya Sunan Bonang meninggalkan daerah itu. Tetapi Sunan Bonang menolak lantaran dia sudah berniat untuk mengajarkan agama islam di daerah itu.

Dampo Awang sangat murka mendengar ucapan Sunan Bonang yang gres saja diucapkannya tadi. Lalu Dampo Awang menyuruh pengawalnya untuk menyerang Sunan Bonang tetapi dengan waktu yang sangat singkat Sunan Bonang sanggup mengalahkan pengawal – pengawal Dampo Awang. Dampo Awang tidak terima akan kekalahannya. Dia kembali ke negaranya untuk menyusun stategi dan kekuataan baru.

Setelah beberapa tahun Dampo Awang kembali lagi ke tanah jawa sambil membawa pasukan yang lebih banyak dari sebelumnya. Pada ketika hingga di tanah jawa dia sangat kaget sekali lantaran semua penduduk didaerah itu sudah menganut agama islam. Dampo Awang murka kemudian mencari Sunan Bonang. Dampo Awang tidak sanggup menahan amarahnya ketika dia sudah bertemu dengan Sunan Bonang sehingga dia pribadi menyerang Sunan Bonang lebih dulu tetapi dengan singkat Sunan sanggup mengalahkan Dampo Awang dan pengawalnya.

Kemudian Dampo Awang diikat didalam kapalnya sesudah itu Sunan Bonang menendang kapalnya sehingga seluruh cuilan kapal tersebar kemana – mana. Setelah itu sebagian kapal terapung di laut. Dampo Awang menyebutnya “ Kerem ( Tenggelam ) “ sedangkan Sunan Bonang menyebutnya “ Kemambang ( Terapung ) “. Kemudian usang – kelamaan masyarakat mengucapkan Rembang yang berasal dari kata Kerem dan Kemambang.

Akhirnya di daerah itu dinamakan Rembang yang kini menjadi salah satu Kabupaten yang ada di Jawa Tengah.Jangkarnya kini ada di Taman Kartini sedangkan Layar kapal berada dibatu atau biasanya sering disebut “ Watu Layar “ dan kapalnya dikabarkan menjadi Gunung Bugel yang ada di kecamatan Pancur lantaran bentuknya mirip sebuah kapal besar dan diatas Gunung ada sebuah makam konon disana merupakan makam Dampo Awang.

Perlu diingat asal – seruan kota rembang banyak versinya sehingga tidak setiap orang mengetahui asal – seruan kota Rembang yang sama versinya.

Perjuangan Raden Panji

(Asal-usul Desa Gedug, Karangasem, Ngatoko, Telogo, Tapaan, Kasingan)

Pada tahun 1440-1490 Kadipaten Lasem diperintahkan oleh Prabu Santi Puspo. Prabu Santi Puspo anak Prabu Santi Bodro. Prabu Santi Bodro anak Prabu Bodro Nolo dengan Puteri Cempo. Prabu Bodro Nolo anak Prabu Wijoyo Bodro. Prabu Wijoyo Bodro anak Prabu Bodro Wardono. Prabu Bodro Wardono anak Dewi Indu/ Dewi Purnomo Wulan/ Prabu Puteri Maharani dengan Rajasa Wardana. Dewi Indu yakni saudara sepupu Prabu Hayam Wuruk Wilotikto. Dewi Indu pernah menjadi ratu di Kadipaten Lasem. Makara Prabu Santi Puspo masih keturunan raja-raja Majapahit.

Pada masa pemerintahan Prabu Santi Puspo, Kadipaten Lasem mencapai keadilan dan kemakmuran. Rakyat hidup serba kecukupan tidak kurang suatu apapun. Prabu Santi Puspo seorang dermawan, suka memberi pertolongan kepada yang membutuhkan. Pada suatu ketika Prabu Santi Puspo berangan-angan ingin memperluas wilayah kadipatennya. Keinginan dia sangat kuat, maka dipanggillah Raden Panji Singopatoko untuk melakukan kiprah membuka hutan atau tebang ganjal di sebelah selatan Desa Kabongan terus ke selatan.

Pada hari yang ditentukan, berangkatlah Raden Panji Singopatoko melakukan tugas. Raden Panji Singopatoko dibantu beberapa orang pilihan yang loyal kepada pemerintah Kadipaten Lasem dan didampingi oleh dua orang prajurit yaitu Ki Suro Gino dan Ki Suro Gendogo. Rombongan dibagi menjadi dua kelompok. Sebelah barat dipimpin oleh Ki Suro Gino, sedang sebelah timur oleh Ki Suro Gendogo.

Ketika mereka mulai membuka hutan, berbagai rintangan diantaranya yakni gangguan yang dibentuk oleh orang-orang yang tidak bahagia kepada pemerintah Prabu Santi Puspo. Banyak prajurit yang terjangkit penyakit. Gangguan itu juga tiba dari binatang buas dan binatang berbisa. Gangguan dan rintangan itu dihadapi oleh Raden Panji Singipatoko dan prajurit-prajuritnya yang dipimpin Ki Suro Gino dan Ki Suro Gendogo dengan tabah serta tekad dan semangat yang menyala-nyala, meski banyak yang menjadi korban. Akhirnya semua rintangan sanggup diatasi dan pekerjaan terselesaikan dengan memuaskan. Hutan yang dibuka itu menjadi desa yang kini disebut Desa Kunir dan Desa Sulang.

Raden Panji Singopatoko beserta rombongan meneruskan tugasnya membuka hutan lagi, dari Sulang menuju ke barat daya. Dalam perjalanannya itu Raden Panji pun telah siap siaga untuk menyerang dan membunuh harimau itu. Keduanya terlibat dalam pergumulan yang seru. Raden Panji Singopatoko tidak mau surut walau selangkah, terus maju pantang menyerah. Raden Panji Singopatoko yakni seorang yang sakti mandraguna. Akhirnya harimau itu lari dan tidak berhasil dibunuh oleh Raden Panji beserta teman-temannya.

Raden panji Singopatoko beserta rombongannya merasa sangat lelah sesudah bertempur melawan harimau. Kemudian mereka beristirahat dan menciptakan rumah untuk tempat peristirahatan. Di sela-sela istirahatnya, Raden Panji berfikir memikirkan pelaksanaan tugasnya itu. Sebenarnya dia merasa belum sanggup melakukan tugasnya dengan baik, dia kecewa. Karena sebagai orang yang dipercaya oleh Prabu Santi Puspo untuk menjadi pemimpin atau’ “gegedug” (istilah zaman kerajaan) mestinya harus sanggup menuntaskan setiap problem yang dihadapi.

Sudah menjadi kebiasaan orang-orang zaman dahulu apabila menghadapi atau mengalami suatu problem atau bencana yang mengesankan dan penting, maka diabadikan dengan suatu simbul atau ditengarai dengan gejala yang sanggup dikenang sepanjang masa. Oleh lantaran itu, untuk mengenang apa yang sedang dipikirkan oleh Raden Panji Singopatoko itu, dia berkata, “Besuk kalau ada ramainya zaman dan tempat ini menjadi desa, saya beri nama Desa “Gedug”. Maka jadilah desa itu disebut Desa Gedug,sekarang disebut Desa Sumbermulyo.

Setelah beberapa ketika mereka beristirahat, kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke selatan untuk membuka hutan. Pengalaman membuka hutan yang kemarin ternyata terulang disini. Banyak rintangan dan gangguan yang dihadapi. Diantara mereka ada yang meninggal lantaran terjangkit penyakit. Ada yang digigit binatang buas atau binatang berbisa.

Raden Panji Singopatoko beserta rombongan bekerja dengan ulet membuka hutan. Setelah usang bekerja, mereka merasa lelah, kemudian beristirahat di bawah pohon asam yang besar. Ketika tubuh mereka sudah terasa segar, dan hilang kelelahannya serta tenaga mereka telah pulih kembali. Raden Panji bangun sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, kemudian dia berkata, ” Karena sesudah kita beristirahat di tempat ini tubuh kita terasa segar sekali dan disini tumbuh banyak pohon asam, maka kalau besuk ada ramainya zaman, dan tempat ini menjadi desa saya beri nama Desa Karangasem.”

Dari Karangasem, Raden Panji Singopatoko melanjutkan tugasnya membuka hutan ke arah tenggara di sebuah hutan yang masih banyak harimaunya. Pada suatu hari, Ki Suro Gendogo menemukan goa yang cukup dalam. Di atas goa ada seekor harimau betina. Ketika Ki Suro Gendogo mendekati goa, harimau itu membisu saja, tidak menyerang dan juga tidak pergi. Ki Suro Gendogo kemudian berfikir dan berkata dalam hati,

“Ada apa dengan harimau ini?”.

Lalu Ki Suro Gendogo melihat ke dalam goa. Ternyata di dalam goa ada seekor anak harimau yang jatuh ke dalam goa dan tidak sanggup naik. Ki Suro Gendogo berkata kepada harimau betina yang ada diatas goa itu, “Aku mau menolong anakmu, tetapi anakmu saya minta dan akan saya pelihara dengan baik.” Akhirnya anak harimau itu diambil oleh Ki Suro Gendogo. Oleh lantaran itu Ki Suro Gendogo menjadi populer kemana-mana lantaran memelihara anak harimau itu. Setiap hari Jum’at, induk harimau itu tiba ke rumah Ki Suro Gendogo untuk memberi makan anaknya. Pagi harinya niscaya di luar rumah ada binatang yang mati, contohnya kijang, monyet dan sebagainya, lantaran dimangsa induk harimau itu. Desa tempat Ki Suro Gendogo itu menjadi daerah yang ramai tumbuh menjadi pedukuhan, dan oleh Raden Panji Singopatoko diberi nama Dukuh Ngatoko.

Setiap ada orang yang berniat jahat di Dukuh Ngatoko, tiba-tiba didatangi seekor harimau. Sehingga niat jahatnya gagal. Setiap Raden Panji Singopatoko memberi bimbingan dan nasehat serta tuntunan kepada Panji Singopatoko, sehingga penduduk Ngatoko taat dan setia kepada Raden Panji Singopatoko. Di bawah pimpinan Raden Panji, penduduk Ngatoko hidup dengan aman, damai, tentram, dan sejahtera atas berkah Allah SWT.

Raden Panji Singopatoko juga tidak lupa mengajak rakyatnya untuk menjalankan pemikiran Agama Islam. Ki Suro Gendogo dan Ki Suro Gino tinggal di Dukuh Ngatoko. Ki Suro Gendogo di Ngatoko Timur, sedang Ki Suro Gino tinggal di Ngatoko Barat. Demikianlah kehidupan masyarakat Ngatoko terus berjalan dengan tentram dan damai. Dan Raden Panji Singopatoko jadinya menjadi Kyai Ageng Ngatoko dan populer dengan sebutan KYAI ABDUL RAHMAN

Pada suatu ketika Raden Panji Singopatoko menginginkan suatu kehidupan yang lebih tentram. Sejalan dengan usianya yang sudah mulai udzur, dia ingin mengurangi keterlibatannya dalam hiruk pikuknya kehidupan duniawi ini. Beliau ingin bertapa di atas gunung atau punthuk di bersahabat mata air atau telaga, guna merenungi dan tafakur wacana hakekat hidup dan kehidupan serta lebih bertaqqarub kepada Allah SWT.

Di sekitar tempat Kyai Abdul Rahman bertapa, kini menjadi perkampungan yang ramai, banyak orang yang bermukim di sini. Oleh Raden Panji Singopatoko atau Kyai Abdul Rahman, daerah itu diberi nama Dukuh Telogo yang kini masuk di wilayah Desa Karangasem, Kecamatan Bulu.

Di bersahabat tempat pertapaan itu dibangun sebuah masjid lengkap dengan kolahnya. Sampai kini bekas kolah tersebut masih sanggup dilihat berupa kerikil merah yang masih tersusun dengan baik. Daerah ini tidak pernah kekurangan air lantaran ada telaga yang bagus sumbernya, bahkan sumber air telaga ini disalurkan dengan pipa besar untuk memenuhi kebutuhan penduduk Desa Telogo dan Karangasem.

Prabu Santi Puspo (Adipati Lasem), merasa berhutang kebijaksanaan kepada Raden Panji Singopatoko, lantaran berkat usaha Raden Panji Singopatoko wilayah Kadipaten Lasem bertambah luas, dan keadaannya kondusif dan tentram. Sebagai balas kebijaksanaan Prabu Santi Puspo atas jasa-jasa raden Panji Singopatoko dia ingin mengambil Raden Panji Singopatoko sebagai adik iparnya. Raden Panji dinikahkan dengan adik Prabu Santi Puspo yang berjulukan Dewi Sulanjari. Maka dipanggillah Raden Singopatoko menghadap Sang Prabu.

Setelah Raden Panji menghadap Sang Prabu, maka Sang Prabu memberikan maksudnya. Raden Panji tidak sanggup berbuat apa-apa dihadapan Sang Prabu. Kecuali hanya mendapatkan saja usulan Sang Prabu. Akhirnya Raden Panji Singopatoko menikah dengan adik Prabu Santi Puspo yaitu Dewi Sulanjari. Pernikahannya dilaksanakan di rumah Raden Panji Singopatoko di Desa Gedug (Sumbermulyo). Pada tahun 1472 Raden Panji Singopatoko dipanggil lagi oleh Prabu Santi Puspo untuk mendapatkan kiprah gres yaitu membuka hutan di sebelah barat daya Dukuh Kabongan. Raden Panji Singopatoko segera melakukan tugasnya tersebut dan dibantu para prajurit yang lain.

Berbulan-bulan lamanya Raden Panji Singopatoko membuka hutan ini. Akhirnya berhasil dibuka dan tumbuh menjadi sebuah desa. Oleh Raden Panji Singopatoko diberi nama Desa Kasingan. Raden Panji Singopatoko memang seorang pemimpin yang arif bijaksana.

Beliau menyayangi masyarakatnya, demikian juga masyarakatnya menyayangi dan mentaati pemimpinnya. Rakyat hidup rukun, damai, tentram dan sejahtera. Atas pelatihan dan kepemimpinan Raden Panji Singopatoko, rakyat yang tinggal di daerah-daerah yang telah dibuka oleh Raden Panji Singopatoko sanggup disatukan yang jumlahnya mencapai seribu orang. Oleh lantaran Raden Panji Singopatoko sanggup mempersatukan orang-orang lebih dari seribu maka dia dianugerahi oleh Prabu Santi Puspo, Adipati Lasem jabatan sebagai penewu pada tahun 1485.

Pada tahun 1492 Raden Panji Singopatoko alias Kyai Ageng Ngatoko alias Kyai Abdul Rahman, wafat. Sebelum wafat, dia telah berpesan kepada keluarganya, kalau dia meninggal supaya dimakamkan didekat masjid atau Tapakan Telogo Desa Karangasem yaitu Punthuk bersahabat Desa Watu Lintang, sebelah barat daya Goa Watu Gilang.

Setelah Raden Panji Singopatoko wafat, jabatan Penewu digantikan oleh putera dia yang berjulukan Raden Panji Singonagoro. Sebagai penghargaan dan penghormatan masyarakat Dukuh Telogo dan masyarakat Desa Karangasem kepada Raden Panji Singopatoko alias Kyai Abdul Rahman, setiap tanggal 12 Bakda Maulud masyarakat menyelenggarakan peringatan wafat dia atau haul bertempat di makam Kyai abdul Rahman di Tapaan Dukuh Telogo Desa Karangasem.

Kesimpulan

Dari kisah di atas sampailah kita kepada kesimpulan dari beberapa alternatif wacana sejarah asal-usul Desa Gedug, Karangasem, Ngatoko, Telogo, Tapaan, Kasingan. Adanya fakta-fakta sejarah mirip pembentukan pemukiman awal yang kemudian tumbuh menjadi kota, adanya tokoh penguasa daerah dan adanya wilayah kekuasaan.

Sedangkan dulu ternyata sentra kabupaten Rembang atau malah mungkin sebelum terbentuk kabupaten Rembang pusatnya berada di Lasem atau lebih tepatnya kadipaten Lasem, tapi seiring berjalannya waktu jadinya kini berpindah ke kota Rembang sendiri dan jarak antara Lasem dengan kota Rembang kurang lebih 20 KM.

Berdasarkan sumber di atas penguasa pada ketika itu yang tinggal di Kadipaten Lasem masih keturunan kerajaan Majapahit mulai dari Prabu Santi Puspo anak Prabu Santi Bodro. Prabu Santi Bodro anak Prabu Bodro Nolo dengan Puteri Cempo. Prabu Bodro Nolo anak Prabu Wijoyo Bodro. Prabu Wijoyo Bodro anak Prabu Bodro Wardono. Prabu Bodro Wardono anak Dewi Indu/ Dewi Purnomo Wulan/ Prabu Puteri Maharani dengan Rajasa Wardana. Dewi Indu yakni saudara sepupu Prabu Hayam Wuruk Wilotikto. Dewi Indu pernah menjadi ratu di Kadipaten Lasem. Makara Prabu Santi Puspo masih keturunan raja-raja Majapahit. Menurut sumber lain juga menyampaikan bahwa kabupaten Rembang keseluruhannya dulu juga daerah kekuasaan Majapahit yang populer sangat luas.

Pariwisata

Wana Wisata Kartini Mantingan

Tempat Rekreasi wanawisata yang dikelola oleh Perum Perhutani ini terletak di desa Mantingan Kecamatan Bulu Rembang, berdekatan dengan Makam R.A. Kartini. Fasilitasnya:

Konservasi tanaman

Kolam renang

Bumi Perkemahan

Koleksi satwa

Arena olahraga

Bumi Perkemahan Karangsari Park

Terletak di Desa Karangsari. Bumi Perkemahan ini pernah dipakai untuk menggelar Jambore Daerah Gerakan Pramuka Kwarda Jawa Tengah pada tahun 2007.

Sumber Semen

Merupakan hutan wisata yang dikelola oleh Perum Perhutani yang terletak di Kecamatan Sale Rembang. Tempat wisata yang terletak di tengah-tengah hutan lindung ini memiliki kemudahan antara lain:

Pemandian/Kolam renang

Taman bermain anak

Bumi Perkemahan

Puncak Argopuro

Merupakan puncak tertinggi di Gunung Lasem dengan ketinggian 806 meter diatas permukaan laut. Tempat ini banyak dikunjungi oleh para pecinta alam dan penyuka acara outdoor dari Rembang, Pati, Tuban dan lainnya. Jalur pendakian yang sering dilalui yakni melalui Nyode Pancur.

Pasujudan Sunan Bonang

Konon merupakan tempat berdakwah Sunan Bonang. Dan di tempat ini pulalah Sunan Bonang dimakamkan sebelum jadinya mayatnya dicuri dan dipindah ke Tuban oleh murid beliau. Lokasinya terletak di Desa Bonang Kecamatan Lasem, sempurna di atas bukit di sisi jalan Pantura. Setiap bulan Dzulqaidah diadakan program haul.

Obyek-obyek lainnya di sini adalah:

Batu bekas tempat bersujud Sunan Bonang

Bekas kediaman Sunan Bonang

Joran Pancing milik Sunan Bonang

Makam-makam kuno lainnya

Bukit Kajar dan sejarah nya

Konong merupakan sebuah Kadipaten yang dipimpin oleh Rasemi pada masa kerajaan Majapahit.

Desa Kajar terletak di lereng Gunung Kajar, salah satu cuilan dari Pegunungan Lasem. Dari kota renta Lasem atau jalan pantai utara Lasem, desa dengan sumber air yang melimpah itu berjarak sekitar 7 kilometer ke arah selatan.

Desa Kajar memiliki empat peninggalan Kerajaan Majapahit. Peninggalan itu berupa kerikil tapak kaki Raja Majapahit yang dikenal dengan watu tapak, goa tinatah, dingklik kajar, dan lingga kajar. Peninggalan itu tidak mengumpul di satu tempat, tetapi tersebar di sejumlah titik Gunung Kajar.

Kisah di balik peninggalan itu tidak terlepas dari sejarah Kadipaten Lasem pada masa Kerajaan Majapahit. Berdasarkan laporan ”Rekonstruksi Sejarah Kadipaten Lasem” garapan MSI Kabupaten Rembang, Kadipaten Lasem muncul sesudah Tribuwana Wijayatunggadewi membentuk Dewan Pertimbangan Agung atau Bathara Sapta Prabu pada 1351.

Salah satu anggota Dewan Pertimbangan Agung yakni Dyah Duhitendu Dewi, adik kandung Hayam Wuruk. Setelah menikah dengan anggota Dewan Pertimbangan Agung yang lain, Rajasawardana, Dewi Indu tinggal dan menjadi penguasa di Lasem dengan gelar Putri Indu Dewi Purnamawulan, yang kemudian dikenal sebagai Bhre Lasem.

Dalam Nagarakertagama kisah Dewi Indu dan Rajasawardana tercatat di terjemahan Negarakertagama Pupuh V dan VI. Dalam Pupuh V Ayat 1 disebutkan, ”Adinda Baginda raja di Wilwatikta: Puteri jelita, bersemayam di Lasem Puteri jelita Daha, anggun ternama Indudewi Puteri Wijayarajasa”.

Begitu pula dalam Pupuh VI Ayat 1, ”Telah dinobatkan sebagai raja sempurna berdasarkan planning Laki tangkas rani Lasem bagai raja daerah Matahun Bergelar Rajasawardana sangat bagus lagi putus dalam naya Raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala”.

Dalam pupuh yang sama pada Ayat 3 disebutkan, ”Bhre Lasem Menurunkan puteri jelita Nagarawardani Bersemayam sebagai permaisuri pangeran di Wirabumi Rani Pajang menurunkan Bhre Mataram Sri Wikramawardana Bagaikan titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra”.

‎Desa Kajar, merupakan salah satu daerah terpenting Kerajaan Majapahit. Desa Kajar merupakan tempat memperlihatkan pengetahuan serta pemikiran agama dan moral kepada para pejabat, panglima, dan prajurit Kerajaan Majapahit.

”Kajar merupakan akronim dari ’ka’ yang berarti kaweruh (pengetahuan) dan ’jar’ yang berarti ajaran,”

Bukan hal yang mengherankan bila pada 1354 Hayam Wuruk berkunjung ke Lasem dan Desa Kajar. Untuk mengenang kunjungan itu sekaligus sebagai prasasti tanda daerah kekuasaan Majapahit, Bhre Lasem menciptakan tabrakan telapak kaki Hayam Wuruk di sebuah kerikil andesit di lereng Gunung Kajar.

Hingga kini, tabrakan telapak kaki itu masih ada dan warga Desa Kajar meyakini tabrakan itu sebagai bekas telapak kaki Hayam Wuruk. Warga kerap menyebut kerikil telapak kaki itu sebagai watu tapak.

Peninggalan-peninggalan lain Majapahit, mirip goa tinatah, dingklik kajar, dan lingga kajar, juga memperlihatkan kiprah penting Desa Kajar selama Majapahit berkuasa. Goa tinatah merupakan dua goa yang terletak di Gunung Kajar.

Goa pertama merupakan tempat menyepi pejabat atau panglima Majapahit. Goa itu hanya muat untuk satu orang. Goa kedua merupakan tempat para prajurit yang dibawa pejabat atau panglima Majapahit itu berjaga-jaga. Goa kedua itu sanggup memuat sekitar 15 orang.

Setelah menyepi selama beberapa waktu di goa tinatah, pejabat atau panglima Majapahit itu disucikan dengan air Kajar. Dia duduk di sebongkah kerikil yang mirip kursi. Warga kerap menyebut dingklik itu sebagai dingklik kajar.

Selain itu, untuk menghargai Desa Kajar sebagai tempat yang membawa kesuburan bagi daerah lain lantaran banyak sumber mata air, Bhre Lasem menciptakan lingga berhuruf palawa di bersahabat lingga pada zaman kerikil dan salah satu mata air Kajar.

”Lantaran tidak terawat, abjad palawa di lingga itu sulit dibaca lagi. Begitu pula peninggalan-peninggalan Majapahit lain, contohnya kajar kursi, juga tidak terperhatikan. Batu itu tidak lagi mirip dingklik lantaran sudah hancur sebagian. ‎