Cerpen Keluarga Mengenai Kekerabatan Yang Rumit Antara Ayah Dan Anak Laki-Laki

By | September 23, 2017

cybermoeslem – Cerpen Inspirasi wacana Ayah dan Anak Laki-laki. Cerita pendek berikut ini ialah cerpen fiksi yang bercerita wacana kekerabatan antara seorang ayah dan anak laki-lakinya. Kisah ini bisa jadi mewakili banyak ayah dan anak lelaki di luar sana yang acap kali tidak akur padahal gotong royong saling menyayangi. Ya, tidak dapat disangkal bahwa kekerabatan antara Ayah dan anak lelaki memang acap kali tidak serasi lantaran faktor-faktor tertentu umpamanya perbedaan prinsip dan perbedaan cita-cita. Tapi cerpen ini tidak ditulis untuk menyaksikan betapa kedua figur itu dapat saling memusuhi melainkan menyaksikan segi lain yang mungkin tidak siapa saja bisa menyadarinya. Selamat membaca!

Pagi ini lagi-lagi Reno memperoleh omelan dari sang Ayah. Entah sudah berapa kali sang Ayah memanggilnya tetapi Reno kelihatannya masih enggan keluar dari kamarnya. Mungkin saja ia takut atau bahkan sudah jenuh terlalu sering berdebat dengan sang Ayah.

Tak berapa usang pintu kamar kembali diketuk. Tapi kali ini bunyi Ibu yang terdengar dari luar. Sang Ibu meminta Reno untuk keluar dan membicarakan kembali secara baik-baik permasalahannya dengan sang Ayah. Sang Ibu bahkan memohon pada Reno untuk bersikap dewasa.

Reno balasannya keluar setelah membasuh paras dan menyikat giginya. Ia membuka pintu dan menyaksikan sang Ibu memamerkan isyarat padanya. Ia tahu kemana mesti pergi untuk menemui sang Ayah. Seperti biasa, perpustakaan mini ialah lokasi favorit sanga Ayah untuk berbincang.

Tapi kali ini akan berbeda. Sang Ayah terang sedang sungguh murka pada Reno dan mungkin mereka sama-sama akan bersikap keras kepala untuk pendirian masing-masing. Meski begitu tetap saja Reno memberanikan diri menemui Ayahnya.

Setibanya di perpustakaan yang terletak di lantai dua rumah mereka, menyerupai yang disangka oleh Reno, sang Ayah tengah duduk di kursi favoritnya menghadap sempurna ke pintu utama sehingga begitu Reno masuk ia eksklusif berhadapan dengan paras sang Ayah yang terlihat tidak bersahabat.

“Aku sudah menjelaskannya Ayah”, ucap Reno membuka perbincangan mereka.

“Apa? Apa yang kamu jelaskan?”

“Apa yang gotong royong Ayah inginkan?”, Reno justru kembali bertanya. “Jika Ayah ingin saya menuruti kemauan Ayah, maka Ayah sudah tahu saya tidak akan menurutinya! Aku akan menjalankan apa yang saya mau. Aku yang menjalani hidupku bukan Ayah!”, bunyi Reno sudah mulai meninggi.

“Pergilah! Ayah tidak akan menghalangimu. Ayah menjalankan yang Ayah bisa tetapi kelihatannya tidak ada harapan. Pergilah! Lanjutkan keinginanmu. Tak perlu kembali lagi untuk menandakan kamu benar atau salah!”, sang Ayah bangun meninggalkan kursinya dan berlangsung ke balik rak buku.

Merasa sang Ayah tak adil, Reno pun berteriak. Ia kesal lantaran sang Ayah mengusirnya. Meski begitu, jiwa mudanya menjinjing Reno tetap pada pendiriannya. Ia pastikan untuk pergi mengejar-ngejar impiannya dan meninggalkan rumahnya meski tanpa pertolongan sang Ayah.

Mengetahui Reno pergi, sang Ibu cuma menangis sambil menemui sang suami. Ia meminta suaminya untuk terus membujuk Reno dan tidak mengalah pada keegoisan Reno. Namun sama menyerupai Reno, sang Ayah juga sudah teguh pada pendiriannya dan tidak akan mengemis pada Reno untuk kembali.

Sejak tragedi itu, Reno sungguh tidak senang Ayahnya. Bukan cuma lantaran sifat sang Ayah yang egois tetapi juga lantaran sang Ayah tidak mau lagi membiayai kuliah Reno. Meskipun Reno sukses memperoleh beasiswa untuk jurusan kedokteran, ia tetap mesti melakukan pekerjaan untuk menanggung ongkos yang lain.

Sang Ibu berulang kali mengiriminya duit dan Ia sungguh bersyukur lantaran sang Ibu masih begitu peduli padanya. Hanya saja di tahun-tahun terakhirnya kuliah, sang Ibu tidak lagi mengirimi duit lantaran sang Ayah sungguh marah. Ternyata selama ini sang Ibu mengirim duit secara diam-diam.

Mengetahui kenyataan itu, Reno pun kian marah. Ia kian tidak senang sang Ayah. Ia tidak tahu mengapa sang Ayah begitu ngotot agar Reno kuliah di jurusan pendidikan dan seperti berupaya mengahalangi Reno yang ingin menjadi seorang dokter. Reno pun berfikir bahwa sang Ayah sengaja melarang sang Ibu mengirim duit agar Reno kesulitan.

Dan sesuai dengan pemikirannya, Reno memang pada balasannya mengalami banyak kesusahan lantaran kelemahan uang. Ia terpaksa pindah ke asrama kampus lantaran ongkos di sana condong lebih murah. Tentu saja asrama itu tidak dilengkapi dengan kepraktisan yang semala ini ia dapatkan.

Pada titik-titik paling rendah perjuangannya, sang Ibu membujuk Reno untuk kembali dan mengawali kuliah di jurusan yang diseleksi sang Ayah. Reno yang mulai tertekan dengan ongkos hidup kian merasa direndahkan oleh sang Ayah.

Karena kesal, Reno lantas menukar nomor teleponnya agar sang Ibu tidak lagi bisa menghubunginya. Pada di saat itu, Reno bahkan sudah tidak mau lagi mempunyai urusan dengan keluarganya. Ia menilai sang Ayah yakni musuhnya dan ia akan terus berjuang untuk menandakan bahwa ia bisa sukses tanpa derma sang Ayah.

Setelah melalui masa-masa sulitnya tanpa pertolongan keluarga, Reno balasannya sukses lulus dan menikah dua tahun setelah kelulusannya. Reno juga sukses melanjutkan pendidikan profesi dokter pasca sarjana dan mengambil seorang andal bedah.

Delapan tahun menikah, Reno dikaruniai dua orang putra. Dengan bujukan sang istri dan ajakan dari anak-anaknya, Reno balasannya oke untuk mendatangi keluarganya. Meski tidak percaya bagaimana menghadapi sang Ayah, Reno pastikan untuk mencampakkan jauh dendamnya. Bagaimanapun ia tidak sanggup memungkiri bahwa lelaki itu yakni Ayahnya, bagaimanpun sifatnya.

Setibanya di kediaman orangtua Reno, mereka disambut oleh sang Ibu yang memeluk istri dan bawah umur Reno dengan pelukan hangat. Ia juga memamerkan pelukan yang serupa hangatnya terhadap Reno. Mendapat sambutan itu, Reno pun tak bisa menahan airmatanya.

Bukan kehangatan sang Ibu yang menjadikannya menangis, tetapi menyaksikan paras sang Ibu yang menua dengan kerutan di parasnya menghasilkan Reno merasa bersalah sudah meninggalkan orangtuanya begitu lama. Dipandangnya sekeliling rumah, matanya bergerak liar mencari sosok lelaki yang mungkin tidak segagah dahulu lagi.

Tak berapa lama, muncullah sesosok lelaki renta yang parasnya sudah mulai kempot dan rambutnya sudah beruban. Sambil berlangsung perlahan-lahan menuruni anak tangga, Ia melemparkan senyum terhadap para cucunya dan secepatnya memeluk mereka begitu ia sampai.

Untuk sesaat, Reno bertanya-tanya di dalam hati mengapa sang Ayah begitu percaya bahwa kedua bocah itu yakni cucunya. Namun pertanyaan tersebut hilang dengan sendirinya di saat sang Ayah mendekat padanya dan memeluk ia dengan erat walaupun pegangannya tidak lagi seerat dulu.

Meski tidak berkata apa-apa, air mata Reno pun sungguh-sungguh tidak terbendung. Ia menangis terseduh seperti tak perduli kedua jagoannya menyaksikannya menangis menyerupai anak kecil. Dalam fikirannya, ia memang masih anak kecil. Anak kecil sang Ayah yang sekarang sudah menua.

Berbeda dengan Reno, sang Ayah kelihatannya berupaya sekuat mungkin untuk menahan airmatanya. Ia menepuk lembut pundak Reno dan meminta sang istri untuk merencanakan makanan.

Selagi istri dan Ibunya sibuk di dapur, Reno menjajal membuka suatu kamar yang tidak absurd baginya. Dipadangnya lekat-lekat kamar yang dahulu pernah menjadi miliknya itu. Kamar itu sama sekali tidak berubah. Semua barang-barang yang ia masih tersusun rapi di sana.

Merasa puas bernostalgia dengan kamarnya, Reno ditarik oleh putranya yang berusia lima tahun. Dari cara bocah itu menawan tangannya, Reno seolah menyaksikan dirinya sendiri. Ia ingat betul ia pernah menjalankan hal yag serupa terhadap Ayahnya.

 Cerpen Inspirasi wacana Ayah dan Anak Laki Cerpen Keluarga Tentang Hubungan yang Rumit Antara Ayah dan Anak Laki-laki

Bocah itu menawan Reno dan mengajaknya ke halaman belakang untuk menyaksikan danau yang berada di belakang rumah. Untuk sesaat, Reno merasa kembali ke masa kemudian dimana ia dan sang Ayah berlangsung ke tepi danau. Hanya saja. kali ini ia berada di posisi sang Ayah.

Sambil berlangsung menuntun anaknya, Reno terkesima menyaksikan kemiripan antara ia dan anaknya. Bocah itu materi mulai berperilaku sama persis menyerupai ia dulu. Ia mulai bercerita wacana hobinya dan ketertarikannya akan danau yang sedang mereka lihat.

Seolah ingin sungguh-sungguh mengulang masa-masa itu, Reno pun balasannya mengajukan pertanyaan terhadap anaknya mengenai kesempatan sang anak. Ia menanyakan pertanyaan yang persis menyerupai yang diajukan oleh Ayahnya bertahun-tahun yang lalu. Entah mengapa, Reno merasa ingin tau dengan jawaban yang mau diberikan sang anak.

Saat mendengar jawaban sang anak, Reno pun merasa terkejut. Ia begitu terkejut sampai-sampai tidak sanggup menahan airmatanya. Reno pun menggendong sang anak sambil menangis, berlangsung menuju rumah dan secepatnya mencari Ayahnya.

Sambil terus menangis menyerupai anak kecil, Reno berlangsung menuju ke kamar sang Ayah. Melihat tingkah Reno, sang istri berupaya menenangkan anaknya yang juga ikut menangis. Di kawasan yang sama, sang Ibu menjajal menerangkan apa yang mungkin terjadi.

Tangisan Reno pun kian menjadi di saat ia datang di kamar sang Ayah. Ia buka pintu kamar tanpa mengetuk dan secepatnya dipeluknya sang Ayah yang tengah tertidur. Pria itu terlihat tertidur sambil memeluk suatu album foto keluarga mereka.

Sang Ayah terkejut mendapati Reno menangis sambil memeluknya. Meski tidak menyampaikan apa-apa, sang Ayah tahu bahwa Reno mungkin sudah menyadari sesuatu. Sesuatu yang selama ini sudah ia coba untuk jelaskan terhadap Reno. Ia pun membiarkan Reno menangis di dekapannya.

Ketika Reno berusia lima tahun, ia sungguh dekat dengan sang Ayah. Mereka menjalankan banyak hal bareng dan sering menghabiskan waktu sore hari di tepi danau. Terkadang sambil memancing dan bercerita banya hal.

Suatu hari, sang Ayah mengajukan pertanyaan pada Reno wacana cita-citanya. Dengan mantap Reno menyampaikan bahwa ia ingin menjadi seorang guru. Sang Ayah lantas mengajukan pertanyaan apakah Reno tidak kesengsem menjadi dokter? Reno kemudian berganti pikiran dan menyampaikan bahwa ia ingin menjadi dokter.

Untuk meraih kesempatan itu, Reno belajar dengan keras dan sang Ayah senantiasa membantunya dengan membelikan ia buku wacana kedokteran. Sang Ayah bahkan menyebarkan perpustakaan di rumah untuk menghimpun koleksi buku yang dipelajari oleh Reno.

Saat Reno berumur 12 tahun, Ia dan abangnya mengalami kecelakaan sepulang dari pasar. Saat itu keduanya terluka parah. Mereka secepatnya dilarikan ke tempat tinggal sakit dan dokter dengan secepatnya menanggulangi mereka. Dokter yang menagani mereka tidak lain yakni sang Ayah sendiri. Namun sayang, kakak Reno tidak terselamatkan dan Reno mengalami hilang ingatan.

Karena gagal menyelamatkan nyawa sang anak, Ayah Reno merasa putus asa dan kehilangan keyakinan diri. Seteleh berjuang melalui masa-masa sulit itu, sang Ayah pun pastikan untuk merubah segalanya. Ia berhenti dari profesinya dan pastikan untuk berkebun.

Ia aben semua buku wacana kedokteran yang ia punya di perpustakaan dan mengubahnya dengan buku-buku wacana pendidikan guru. Ia membimbing Reno untuk menjadi guru dan senantiasa menyampaikan bahwa kesempatan Reno yakni menjadi seorang guru. Bukan lantaran tidak ingin Reno menjadi dokter, cuma tidak ingin Reno mencicipi perasaan yang sama.