Ini Skenario Pemberangkat Jemaah Haji Indonesia Jikalau Jadi Diberangkatkan

By | Mei 4, 2021

 

Skenario Alur Pemberangkat Jemaah Haji Indonesia Jika Makara Diberangkatkan. Kementerian Agama sudah menyusun skenario alur pergerakan jemaah, apabila ada pemberangkatan haji 1442 H/2021 M. Skenario Alur pergerakan tersebut dirumuskan selaku bab dari mitigasi penyelenggaraan haji yang sudah disiapkan pemerintah.

 

“Sampai hari ini kita belum memiliki kepastian pemberangkatan jemaah haji. Tapi kita terus berharap mudah-mudahan kita sanggup memberangkatkan jemaah haji. Karenanya kami terus merencanakan banyak sekali skenario serta mitigasinya, tergolong alur pergerakan jemaah, apabila ada pemberangkatan,” ungkap Sekretaris Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Ditjen PHU) Kemenag bulan rahmat Harisman dalam Bahtsul Masail wacana Haji di Masa Pandemi, yang digelar di Ciawi, Bogor, Selasa (27/4/2021).

 

“Penyelenggaraan haji di masa pandemi membutuhkan beberapa penyesuaian. Terutama alasannya diberlakukannya protokol kesehatan,” sambungnya.

 

Menurut Ramadan, skenario alur pergerakan jemaah Indonesia disusun dengan tujuan untuk menegaskan keamanan dan keamanan jemaah, apabila pemberangkatan haji dilakukan. “Alur pergerakan ini termasuk delapan tahapan yang mesti dilalui jemaah selama melaksanakan ibadah haji,” terang Ramadan.

 

Pertama, jemaah haji wajib divaksin. “Sebelum melaksanakan proses rangkaian ibadah haji, setiap jemaah haji wajib melakukan dua vaksinasi. Yaitu, vaksinasi covid-19 dan meningitis,” ujar Ramadan.

 

“Untuk vaksinasi covid-19, saya berharap Kabid PHU di tiap provinsi mesti menegaskan jemaah haji yang mau berangkat sudah divaksin. Apalagi di saat ini, Kemenkes sudah menegaskan jemaah haji selaku kalangan rentan sehingga sanggup memperoleh prioritas peserta vaksin Covid-19,” lanjutnya.

 

Kedua, Karantina Asrama Haji. Selama berada di asrama haji, jemaah haji menjalani karantina selama 3 x 24 jam. “Saat datang di asrama haji, jemaah akan menjalani swab antigen,” terang Ramadan.

 

Pada hari ketiga, dijalankan tes PCR Swab kembali bagi jemaah. Jika alhasil negatif, jemaah haji berangkat ke Arab Saudi. Jika alhasil positif, akan dijalankan isolasi berdikari di asrama haji

 

Ketiga, Karantina Hotel di Makkah. “Karena kita kemungkinan memberangkatkan cuma sedikit jemaah, maka seluruhnya nanti akan turun di Jeddah,” terang Ramadan.

 

Selanjutnya, di Makkah, jemaah haji dikarantina selama 3 x 24 jam di hotel dengan kapasitas optimal dua orang per kamar. “Setelah dikarantina selama 3 x 24 jam, jemaah haji akan tes PCR Swab kembali. Jika alhasil negatif, pada hari ke-4 jemaah sanggup melaksanakan umrah. Jika alhasil positif, akan dijalankan isolasi berdikari pada hotel di Makkah,” ujar Ramadan.

 

Keempat, Miqat dengan Protokol Kesehatan. Jemaah haji yang mau melaksanakan umrah wajib diberangkatkan dengan menggunakan bus menuju tempat miqat dengan mengikuti protokol kesehatan yang diputuskan Pemerintah Saudi.

 

Kelima, Umrah Wajib dan Thawaf Ifadlah. Selama di Makkah, selain umrah wajib dan thawaf Ifadhah di Masjidil Haram, jemaah diberikan peluang ke Masjidil (3 kali kesempatan) dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

 

“Ini juga kita akan betul-betul perhatikan, alasannya di sekarang ini memasuki Masjidil Haram juga perlu memperhatikan ketentuan yang ditetapkan,” ujar Ramadan.

 

“Sementara pergerakan jemaah di saat puncak ibadah haji akan menyesuaikan dengan ketentuan di Arab Saudi,” imbuhnya.

 

Keenam, Jemaah di Madinah. Selesai melaksanakan seluruh proses haji di Makkah, jemaah akan diberangkatkan ke Madinah. Tiba di madinah, jemaah diposisikan pada hotel-hotel yang sudah diputuskan dengan komposisi satu kamar maksimum ditempati dua orang. Jemaah akan tinggal di Madinah selama tiga hari, sehingga tidak ada pelaksanaan shalat Arbain.

 

“Skenario yang kami susun, kalau ada pemberangkatan jemaah haji, tidak akan ada Arbain. Karena di Madinah cuma tiga hari. Ini perlu diberikan klarifikasi terhadap jemaah kita,” terang Ramadan.

 

Ketujuh, PCR Swab sebelum pulang ke Tanah Air. Pada hari ke-4, jemaah haji akan dipulangkan ke Tanah Air lewat bandara Madinah. “Sebelum jemaah haji dipulangkan ke Tanah Air, akan dijalankan kembali tes PCR Swab. Jika alhasil negatif, jemaah haji dipulangkan ke Tanah Air. Jika alhasil positif, akan dijalankan isolasi berdikari pada hotel di Madinah,” kata Ramadan.

 

Kedelapan, selaku tahapan terakhir merupakan swab antigen setibanya di Tanah Air. Setibanya di tanah air, dijalankan tes Swab Antigen bagi jemaah haji. Tes swab Antigen akan dijalankan di Asrama Haji. Jika alhasil negatif, jemaah haji dipulangkan ke daerah masing-masing dan melaksanakan karantina berdikari di rumah. Jika alhasil positif, akan dijalankan isolasi berdikari di asrama haji.

 

“Kesimpulannya, selama proses penyelenggaraan haji, jemaah dan petugas wajib menerapkan protokol kesehatan. Memakai masker, mempertahankan jarak, mencuci tangan, menyingkir dari kerumunan, serta menangkal interaksi dan mobilitas,” tegas Ramadan.

 

Bahtsul Masail Perhajian yang mengangkat tema “Manasik Haji di Masa Pandemi” ini berjalan tiga hari, 27-29 April 2021, di Ciawi, Bogor.

 

Bahtsul Masail ini melibatkan jago fikih dan syariah, jago kesehatan, perwakilan ormas Islam (NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Wasliyah), perwakilan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), akademisi, Asosiasi Haji Khusus, Forum Komunikasi Alumni Petugas Haji Indonesia (FKAPHI), Forum Dekan Fak Dakwah UIN/IAIN se-Jawa, dan Kepala Bidang Penyelenggara Haji dan Umrah se-Indonesia.

 

Demikian pemberitahuan wacana Skenario Pemberangkat Jemaah Haji Indonesia Jika Makara Diberangkatkan. Semoga ada manfaatnya. (Sumber: Kemenag.go.id)