Jangan Abaikan Jika Anda Islam, Ini Aturan Menggunakan Pensil Alis Untuk Mempercantik Diri

 Ini Hukum Menggunakan Pensil Alis Untuk Mempercantik Diri Jangan Abaikan Jika Anda Islam, Ini Hukum Menggunakan Pensil Alis Untuk Mempercantik Diri

Mempercantik tampang dengan pensil alis telah menjadi hal yang lumrah bagi perempuan masa kini. Sebagian besar mereka akan ketakutan dan merasa bimbang diri dengan performa polos tanpa alis buatan. Hmm, apakah Islam mengizinkan perempuan mengukir alisnya dengan pensil alis? Coba kita cari tahu dalam uraian berikut ini.

“Allah melaknat perempuan yang menghasilkan tato dan yang minta dibuatkan (tato), yang mencukur alis dan yang meminta dicukurkan.” (HR Muslim)

Dari hadis tersebut dapat dikenali bahwa yang dihentikan merupakan menghasilkan tato (sulam alis) atau mencukur alis (sedikit ataupun banyak), sedangkan menggunakan pensil alis masih diperbolehkan selama tidak mencukur atau mentato sebagaimana yang dihentikan dalam hadis.

Sayangnya, mengerik atau mencukur alis merupakan salah satu andalan perempuan dalam berhias. Berbagai cara dijalankan oleh kaum perempuan ini, mengerik alis lalu melukisnya dengan pensil atau bahkan melakukan teknik sulam alis yang belakangan ini menjadi demam isu gres di golongan masyarakat.

Hati-hati, ini tergolong dalam bentuk tabarruj yang banyak dijalankan oleh perempuan jahiliyyah zaman dulu. Bahkan mengerik alis lalu melukisnya dengan pensil merupakan salah satu bentuk bentuk tabarruj jahiliyah al-uula yang dihentikan oleh Allah.

Oleh alasannya merupakan itu, Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam pun telah memperingatkan bahkan melaknat perempuan yang mengerik alis sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Allah melaknat tukang tato, orang yang ditato, yang mencukur bulu alisnya atau meminta dicukurkan, dan orang yang mengendorkan gigi, untuk kecantikan, yang merubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sejatinya Allah menumbuhkan rambut (bulu) di banyak sekali bab badan manusia. Di antara rambut tersebut ada yang ditugaskan untuk dihilangkan, ada juga yang ditugaskan untuk dibiarkan dan dipelihara. Rasulullah memamerkan tuntunan dalam mempertahankan atau menetralisir rambut bulunya. Seorang mukmin dituntut untuk dapat mengikuti tuntunan tersebut, baik dalam membiarkan rambut (bulu)nya, atau dikala mencukur atau menghilangkannya. Karena ia ittiba (mengikuti) tuntunan Rasulullah, maka tindakannya tersebut dapat bernilai ibadah yang mendapat kecintaan dan ampunan Allah.

Satu hal yang paling penting, jangan hingga impian kita mempercantik diri malah menjadi bumerang dan menghasilkan kita dikategorikan merubah ciptaan Allah. Allah jelas-jelas akan melaknat hamba-nya yang berbuat seumpama ini ini. Na’udzubillah.


Sumber https://www.kabarmakkah.com

Scroll to Top