Jangan Gampang Melaknat Dan Mendoakan Buruk Pada Orang Lain

Larangan mendoakan buruk dan melaknat, baik ditujukan pada diri sendiri, orang lain maupun sesuatu apa pun di luar dirinya sebagai berikut:

واحذر – أن تدعو على نفسك أو على ولدك أو على مالك أو على احد من المسلمين وإن ظلمك,  فإن من دعا على من ظلمه فقد انتصر. وفي الخبر “لا تدعوا على انفسكم ولا على أولادكم ولا على اموالكم لاتوافقوا من الله ساعة إجابة”.

Artinya: “Jangan sekali-kali mendoakan datangnya peristiwa atau mengutuk diri sendiri, keluargamu, hartamu ataupun seseorang dari kaum Muslimin walaupun ia bertindak dzalim terhadapmu, alasannya yaitu siapa saja mengucapkan doa kutukan atas orang yang mendzaliminya, berarti ia telah membalasnya. Rasulullah SAW telah bersabda: ‘Jangan mendoakan peristiwa atas dirimu sendiri, anak-anakmu ataupun harta hartamu. Jangan-jangan hal itu bertepatan dengan ketika pengabulan doa oleh Allah SWT’.”

Larangan tersebut ditulis oleh  Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudzâharah wal Muwâzarah, halaman 141.

Hendaknya kita berhati-hati dalam persoalan laknat. Bahkan kepada orang kafir sekalipun. Orang kafir yang masih hidup tidak boleh ditujukan laknat kepadanya secara personal. Hukumnya haram melaknat orang kafir secara personal yang masih hidup. Karena boleh jadi Allah merahmati dia, sehingga dia mendapatkan hidayah untuk masuk Islam.

Definisi laknat secara bahasa adalah:

الإِبْعادُ والطَّرْد من الخير وقيل الطَّرْد والإِبعادُ من الله ومن الخَلْق السَّبُّ والدُّعاء واللَّعْنةُ الاسم والجمع لِعانٌ ولَعَناتٌ ولَعَنه يَلْعَنه لَعْناً طَرَدَه وأَبعده

“Menjauhkan dan menyingkirkan kebaikan. Dikatakan : ‘Menyingkirkan dan menjauhkan (jika berasal) dari Allah. Dan (jika berasal) dari makhluk maknanya yaitu cacian dan doa’. Laknat yaitu kata benda (ism), bentuk jamaknya yaitu li’aan dan la’anaat. La’anahu – yal’anahu – la’nan, yaitu menyingkirkannya dan menjauhkannya” [Lisaanul-‘Arab, hal. 4044].

Adapun secara istilah:

البعد عن رحمة الله تعالى

“Menjauhkan dari rahmat Allah ta’ala dan pahala-Nya” [‘Umdatul-Qaariy 22/117; Majmuu’ Fataawaa Ibni Taimiyyah, 2/167; dan Aadaabusy-Syar’iyyah 1/344].

Semua hal yang dilaknat Allah dan Rasul-Nya berdasarkan dalil, maka itu termasuk dosa besar.

Oleh lantaran itu, haram hukumnya melaknat seorang mukmin yang tidak melaksanakan dosa-dosa besar dan tidak menampakkan kemaksiatan-kemaksiatannya secara terang-terangan.

Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” [QS. Al-Ahzaab : 58].

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ

“Pelaknatan terhadap seorang mukmin menyerupai membunuhnya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6105 & 6653 dan Muslim no. 110].

An-Nawawiy rahimahullah berkata:

اعلم أن لعن المسلم المصون حرامٌ بإجماع المسلمين

“Ketahuilah bahwasannya melaknat seorang muslim yang terlindungi yaitu haram berdasarkan ijmaa’ kaum muslimin” [Al-Adzkaar, 1/354].

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

الاجماع منعقد على تحريم لعنة معين من أهل الفضل

“Telah menjadi ijmaa’ keharaman laknat terhadap person tertentu dari kalangan orang-orang yang mempunyai keutamaan” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 20/285].

Para ulama setuju kebolehan melaknat secara umum yang disebutkan dalil, menyerupai melaknat orang kafir, orang dhalim, mubtadi’, pelaku riba, peminum khamr, dan yang lainnya. Diantaranya firman Allah ta’ala:

فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Maka laknat Allah-lah atas orang-orang kafir itu” [QS. Al-Baqarah : 89].

 وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أُولَئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَى رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الأشْهَادُ هَؤُلاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

“Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka dan para saksi akan berkata: “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka”. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang dhalim” [QS. Huud : 18].

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَعَنَ اللَّهُ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ

“Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut dan perempuan yang meminta disambungkan rambutnya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5205 & 5934 dan Muslim no. 2123].

لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ، وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسْجِدًا “،

“Allah telah melaknat Yahudi dan Nashrani yang telah menimbulkan kuburan para nabi mereka sebagai masjid” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1330 dan Muslim no. 529].

Begitu juga yang dilakukan sebagian shahabat:

فَكَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقْنُتُ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ وَصَلَاةِ الْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ بَعْدَ مَا يَقُولُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَيَدْعُو لِلْمُؤْمِنِينَ وَيَلْعَنُ الْكُفَّارَ

“Dulu Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu melaksanakan qunut pada raka’at terakhir shalat Dhuhur, shalat ‘Isyaa’, dan shalat Shubuh sesudah ia mengucapkan ‘sami’allaahu li-man hamidah’. Lalu ia mendoakan kebaikan bagi orang-orang beriman dan melaknat orang-orang kafir” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 797].

Ibnul-’Arabiy rahimahullah berkata:

وَأَمَّا لَعْنُ الْعَاصِي مُطْلَقًا فَيَجُوزُ إِجْمَاعًا، لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: (لَعَنَ اللَّهُ السَّارِقَ يَسْرِقُ الْبَيْضَةَ فَتُقْطَعُ يَدُهُ)

“Adapun melaknat orang yang bermaksiat secara mutlak, maka diperbolehkan secara ijmaa’ berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Allah melaknat seorang pencuri yang mencuri telur kemudian dipotong tangannya” [Tafsir Al-Qurthubiy, 2/190].

Melaknat Orang Kafir Secara Mu’ayyan

Tentang melaknat orang kafir secara spesifik (mu’ayyan) – menyerupai perkataan : ‘semoga Allah melaknat si Fulaan’ – , maka ada dua keadaan:

1.     Orang yang meninggal dalam keadaan kafir.

Orang yang telah disebutkan secara spesifik oleh nash bahwa ia mati dalam keadaan kafir, menyerupai Fir’aun, Abu Lahab, dan Abu Jahl; maka diperbolehkan berdasarkan janji ulama.

Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa pernah berkata ketika membawakan perkataan perkataan Abu Lahab:

قَالَ أَبُو لَهَبٍ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَبًّا لَكَ سَائِرَ الْيَوْمِ، فَنَزَلَتْ: تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ “

Telah berkata Abu Lahab – semoga laknat Allah atas dirinya – kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Celaka kau sepanjang hari ini”. Maka turunlah ayat : ‘Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa’ (QS. Al-Lahab : 1)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1394].

Orang yang tidak disebutkan secara spesifik oleh nash, namun diketahui/dipersaksikan dengan pasti meninggal dalam keadaan kafir, maka boleh juga untuk melaknatnya. Dalilnya adalah:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan insan seluruhnya” [QS. Al-Baqarah : 161].

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

واما لعنة المعين فان علم أنه مات كافرا جازت لعنته

“Adapun melaknat secara mu’ayyan, apabila diketahui ia mati dalam keadaan kafir, maka boleh untuk melaknatnya” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 6/511].

Melaknat orang kafir yang telah meninggal boleh dilakukan bila ada maslahatnya, bukan sekedar pertimbangan emosi dan balas dendam.

2.     Orang kafir yang masih hidup.

Para ulama berbeda pendapat. Jumhur ulama melarangnya, sedangkan sebagian ulama lain membolehkannya.

Jumhur ulama beropini tidak boleh melaknatnya secara mu’ayyan. Ibnu Katsiir rahimahullah berkata:

فأما الكافر المعين، فقد ذهب جماعة من العلماء إلى أنه لا يلعن لأنا لا ندري بما يختم له، واستدل بعضهم بهذه الآية: { إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ }

“Adapun orang kafir tertentu, sekelompok ulama beropini tidak boleh melaknatnya lantaran kita tidak mengetahui dengan apa ia menutup kematiannya. Sebagian dari mereka berdalil dengan ayat ini : ‘Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan insan seluruhnya’ (QS. Al-Baqarah : 161)” [Tafsiir Ibni Katsiir, 1/474].

Selain ayat di atas, dalil yang mereka pergunakan antara lain adalah:

a.      Hadits wacana qunut nazilah.

عَن ابْنِ عُمَر ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ مِنَ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِنَ الْفَجْرِ، يَقُولُ: ” اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا وَفُلَانًا، بَعْدَ مَا يَقُولُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ “، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ إِلَى قَوْلِهِ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

Dari Ibnu ‘Umar, bahwasannya ia mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila ia mengangkat kepalanya dari rukuk yang terakhir shalat Shubuh, ia berdoa : “Ya Allah, laknatlah Fulaan, Fulaan, dan Fulaan” – yaitu sesudah ia mengucapkan : “Sami’allaahu li-man hamidah, rabbanaa wa lakal-hamd”. Lalu Allah menurunkan ayat : ‘Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah mendapatkan taubat mereka, atau mengazab mereka, lantaran sesungguhnya mereka itu orang-orang yang dhalim’ (QS. Aali ‘Imraan : 128)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 4070].

Dalam riwayat Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, doa yang diucapkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ، وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ، اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ كَسِنِي يُوسُفَ، اللَّهُمَّ الْعَنْ لِحْيَانَ، وَرِعْلًا، وَذَكْوَانَ، وَعُصَيَّةَ عَصَتِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، ثُمَّ بَلَغَنَا، أَنَّهُ تَرَكَ ذَلِكَ لَمَّا أُنْزِلَ لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ “.

“Ya Allah, selamatkanlah Waliid bin Waliid, Salamah bin Hisyaam, ‘Ayyaasy bin Abi Rabii’ah dan orang-orang mukmin yang lemah. Ya Allah, perkuatlah hukumanmu kepada Mudlarr dan jadikanlah untuk mereka masa-masa paceklik sebagaimana paceklik Yuusuf. Ya Allah, laknatilah Lihyaan, Ri’l, dan Dzakwaan, mereka yang telah membangkang Allah dan Rasul-Nya”. Kemudian hingga isu kepada kami, bahwa ia meninggakan doa (qunut) tersebut, ketika diturunkan ayat : ‘Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah mendapatkan taubat mereka, atau mengazab mereka, lantaran sesungguhnya mereka itu orang-orang yang dhalim’ (QS. Aali ‘Imraan : 128)”[Diriwayatkan oleh Muslim no. 675].

Yaitu, ia meninggalkan pelaknatan sesudah turunnya QS. Aali ‘Imraan ayat 128, sebagaimana klarifikasi An-Nawawiy rahimahullah:

وقد روى البيهقي باسناده عن عبد الرحمن بن مهدي الامام انه قال انما ترك اللعن ويوضح هذا التأويل رواية أبي هريرة السابقة وهي قوله ” ثم ترك الدعاء لهم “

“Dan telah diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dengan sanadnya dari ‘Abdurrahmaan bin Mahdiy Al-Imaam[, bahwasannya ia berkata : ‘Bahwasannya yang ditinggalkan oleh Nabi itu hanyalah doa laknat (sementara pensyari’atan qunutnya tetap berlaku)’. Dan ta’wil ini diperjelas oleh riwayat Abu Hurairah sebelumnya, yaitu perkataannya : ‘kemudian ia meninggalkan doa untuk mereka” [Al-Majmuu’, 3/505].

b.      Hadits wacana larangan melaknat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ، قَالَ: ” إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً “

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Dikatakan : “Wahai Rasulullah, berdoalah kecelakaan terhadap orang-orang muusyrik”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya saya tidak diutus sebagai tukang laknat, Aku hanyalah diutus sebagai rahmat” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2599].

Sebagian ulama lain membolehkan melaknat orang kafir secara mu’ayyan. Dalil yang mereka gunakan antara lain:

a.      Hadits ucapan salam orang Yahudi.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ الْيَهُودُ يُسَلِّمُونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُونَ: السَّامُ عَلَيْكَ، فَفَطِنَتْ عَائِشَةُ إِلَى قَوْلِهِمْ، فَقَالَتْ: عَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَهْلًا يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ “، فَقَالَتْ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا يَقُولُونَ؟، قَالَ: ” أَوَلَمْ تَسْمَعِي أَنِّي أَرُدُّ ذَلِكِ عَلَيْهِمْ فَأَقُولُ وَعَلَيْكُمْ “

Dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata : Dulu ada orang Yahudi yang mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata : “As-Saamu ‘alaika (kebinasaan atasmu)”. Maka ‘Aaisyah cepat menangkap maksud perkataan mereka itu, kemudian berkata : “‘Alaikumus-saam wal-la’nah (bagimu kebinasaan dan juga laknat)”.  Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tenanglah wahai ‘Aaisyah, sesungguhnya Allah suka pada kelembutan pada semua hal”. ‘Aaisyah berkata : “Wahai Nabiyullah, tidakkah engkau mendengar apa yang mereka katakan ?”. Beliau bersabda : “Apakah engkau tidak mendengar saya telah menjawab ucapan mereka. Aku katakan : ‘wa’alaikum (dan juga bagimu)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6395].

Sisi pendalilan : Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari ucapan laknat ‘Aaisyah kepada orang Yahudi tersebut. Yang ia ingkari hanyalah bahwa apa yang dilakukan ‘Aaisyah tidak mencerminkan kelembutan. Seandainya ucapan laknat itu dilarang/diharamkan, tentu ia shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan mengkoreksinya.

b.      Hadits laknat dalam qunut naziilah.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَرَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، قَالَ: اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ فِي الْأَخِيرَةِ، ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

Dari Ibnu ‘Umar, bahwasannya ia mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam waktu shalat Shubuh ketika ia mengangkat kepalanya dari rukuk mengucapkan : ‘Allaahumma Rabbanaa wa lakal-hamdu’ – dalam raka’at terakhir. Kemudian ia membaca : “Ya Allah, laknatilah Fulaan dan Fulaan”. Lalu Allah ‘azza wa jalla menurunkan ayat : ‘Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah mendapatkan taubat mereka, atau mengazab mereka, lantaran sesungguhnya mereka itu orang-orang yang dhalim’ (QS. Aali ‘Imraan : 128) [Diriwayatkan Al-Bukhaariy no. 7346].

Sisi pendalilan : Riwayat di atas terperinci menyebutkan doa laknat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang kafir Quraisy. Adapun ta’wil sebagian ulama bahwa ia shallallaahu ‘alaihi wa sallam berhenti mendoakan laknat kepada orang kafir secara mu’ayyan lantaran turunnya ayat, maka ini sanggup ditinjau kembali.

Hal itu dikarenakan ada sababun-nuzuul lain dari ayat sebagai berikut:

عَنْ أَنَسٍ أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ يَوْمَ أُحُدٍ وَشُجَّ فِي رَأْسِهِ فَجَعَلَ يَسْلُتُ الدَّمَ عَنْهُ، وَيَقُولُ: كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ وَكَسَرُوا رَبَاعِيَتَهُ وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ

Dari Anas : Bahwasannya pada peperangan Uhud, gigi geraham Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam patah, dan kepala ia terluka. Maka ia mengusap darah dari kepala ia sambil menyampaikan : “Bagaimana akan mendapatkan keberuntungan, satu kaum yang melukai kepala Nabi mereka dan mematahkan gigi gerahamnya, sedangkan Nabi itu mengajak mereka menuju (peribadahan kepada) Allah?”. Maka Allah ‘azza wa jalla menurunkan ayat : “Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu” (QS. Aali ‘Imraan : 128) [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1791].

Perang Uhud terjadi lebih dahulu daripada kejadian Bi’r Ma’uunah. Ibnu Hajar rahimahullahmenjelaskan penjamakan dua riwayat ini dengan perkataannya:

وَطَرِيق الْجَمْع بَيْنه وَبَيْن حَدِيث اِبْن عُمَر أَنَّهُ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا عَلَى الْمَذْكُورِينَ بَعْد ذَلِكَ فِي صَلَاته فَنَزَلَتْ الْآيَة فِي الْأَمْرَيْنِ مَعًا ، فِيمَا وَقَعَ لَهُ مِنْ الْأَمْر الْمَذْكُور وَفِيمَا نَشَأَ عَنْهُ مِنْ الدُّعَاء عَلَيْهِمْ ، وَذَلِكَ كُلّه فِي أُحُد ، بِخِلَافِ قِصَّة رِعْلٍ وَذَكْوَانَ فَإِنَّهَا أَجْنَبِيَّة ، وَيَحْتَمِل أَنْ يُقَال إِنَّ قِصَّتهمْ كَانَتْ عَقِب ذَلِكَ وَتَأَخَّرَ نُزُول الْآيَة عَنْ سَبَبهَا قَلِيلًا ، ثُمَّ نَزَلَتْ فِي جَمِيع ذَلِكَ ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ

“Dan jalan penjamakan antara hadits Anas dan hadits Ibnu ‘Umar bahwasannya beliaushallallaahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kejelekan terhadap orang-orang tersebut sesudah kejadian tersebut dalam shalatnya; maka turunlah ayat dalam dua perkara secara bersamaan. Pertama, turun untuk perkara yang telah disebutkan (yaitu dalam hadits) dan kedua, turun untuk kejadian doa kejelekan yang ia ucapkan kepada mereka, semuanya terjadi di Uhud. Berbeda halnya dengan kisah Ri’l dan Dzakwaan lantaran ia yaitu kisah lain. Ada kemungkinan untuk dikatakan bahwa sesungguhnya kisah mereka terjadi setelahnya dan ayat turun sedikit terlambat dari sebabnya. Kemudian ayat itu turun untuk semuanya,wallaahu a’lam” [Fathul-Baariy, 8/227].

Dan sebelumnya Ibnu Hajar rahimahullah telah menegaskan penguatan bahwa yang benar ayat tersebut turun untuk kejadian Uhud:

وَالصَّوَابُ أَنَّهَا نَزَلَتْ فِي شَأْنِ الَّذِينَ دَعَا عَلَيْهِمْ بِسَبَبِ قِصَّةِ أُحُدٍ ، وَاَللَّه أَعْلَم . وَيُؤَيِّد ذَلِكَ ظَاهِر قَوْله فِي صَدْرِ الْآيَةِ ( لِيَقْطَعَ طَرَفًا مِنْ الَّذِينَ كَفَرُوا ) أَيْ يَقْتُلهُمْ ( أَوْ يَكْبِتَهُمْ ) أَيْ يُخْزِيَهُمْ ، ثُمَّ قَالَ : ( أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ) أَيْ فَيُسْلِمُوا ( أَوْ يُعَذِّبَهُمْ ) أَيْ إِنْ مَاتُوا كُفَّارًا .

“Dan yang benar, ayat tersebut turun pada perkara yang ia mendoakan kejelekan pada mereka dengan alasannya yaitu kisah Uhud. Wallaahu a’lam. Dan hal itu dikuatkan dengan dhahir firman Allah sebelumnya : ‘(Allah menolong kau dalam perang Badar dan memberi bala proteksi itu) untuk membinasakan segolongan orang-orang yang kafir’ (QS. Aali ‘Imraan : 127), yaitu : membunuh mereka. ‘Atau untuk menimbulkan mereka hina’ (QS. Aali ‘Imraan : 127), yaitu : menghinakan mereka. Kemudian Allah berfirman : ‘atau Allah mendapatkan taubat mereka’ (QS. Aali ‘Imraan : 128), yaitu : kemudian mereka masuk Islam. ‘Atau mengadzab mereka’ (QS. Aali ‘Imraan : 128), yaitu bila mereka mati dalam keadaan kafir [Fathul-Baariy, 7/366].

Dhahir ayat ini berkaitan dengan larangan ikut campur dalam urusan Allah dalam hal membiarkan hamba-Nya dalam kesesatan ataukah menawarkan petunjuk kepadanya.

Ibnu Katsiir rahimahullah berkata:

فقال: { لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ } أي: بل الأمر كلّه إلي، كما قال: { فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ } [الرعد:40] وقال { لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ } [البقرة:272]. وقال { إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ } [القصص:56].

قال محمد بن إسحاق في قوله: { لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ } أي: ليس لك من الحكم شيء في عبادي إلا ما أمرتك به فيهم.

ثم ذكر تعالى بقية الأقسام فقال: { أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ } أي: مما هم فيه من الكفر ويهديهم بعد الضلالة { أَوْ يُعَذِّبَهُمْ } أي: في الدنيا والآخرة على كفرهم وذنوبهم؛ ولهذا قال: { فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ } أي: يستحقون ذلك.

“Allah berfirman : ‘Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu’, yaitu : bahkan semua urusan kembali kepada-Ku – sebagaimana firman-Nya : ‘Karena sesungguhnya tugasmu hanya memberikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka’ (QS. Ar-Ra’d : 40). ‘Bukanlah kewajibanmu menimbulkan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya’ (QS. Al-Baqarah : 272). ‘Sesungguhnya kau tidak akan sanggup memberi petunjuk kepada orang yang kau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya’ (QS. Al-Qashshash : 56).

Muhammad bin Ishaaq berkata wacana firman-Nya : ‘Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu’; yaitu : ‘tidak ada keputusan apapun bagimu terhadap hamba-Ku kecuali apa yang Aku perintahkan dengannya terhadap mereka’.

Kemudian Allah ta’ala menyebutkan pecahan lain. Ia berfirman : ‘atau Allah mendapatkan taubat mereka’ (QS. Aali ‘Imraan : 128), yaitu : (mengampuni) kekufuran mereka, dan kemudian Allah menawarkan petunjuk kepada mereka sesudah mereka terjatuh dalam kesesatan. ‘Atau mengazab mereka’ (QS. Aali ‘Imraan : 128); yaitu : ‘(mengadzab mereka) di dunia dan di darul abadi lantaran kekufuran dan dosa-dosa mereka’. Oleh lantaran itu Allah kemudian berfirman : ‘karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang dhalim’ (QS. Aali ‘Imraan : 128); yaitu : mereka memang berhak mendapatkannya” [Tafsiir Ibni Katsiir, 2/114].

Konteks tafsir ini lebih sesuai dengan sababun-nuzuul yang dibawakan Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, wallaahu a’lam.

Oleh lantaran itu, berhentinya ia shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan qunut nazilah sesudah kejadian Bi’r Ma’uunah (sebagaimana riwayat Ibnu ‘Umar) yaitu terkait teguran supaya ia shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak memastikan seseorang tersesat dan terus dalam kekafiran (sehingga ia mendoakan kecelakaan bagi mereka). Hal itu dikuatkan oleh jalan lain dari hadits Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو عَلَى أَرْبَعَةِ نَفَرٍ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ فَهَدَاهُمُ اللَّهُ لِلْإِسْلَامِ

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mendoakan kejelekan kepada empat orang, kemudian Allah tabaaraka wa ta’ala menurunkan ayat : ‘Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah mendapatkan taubat mereka, atau mengazab mereka, lantaran sesungguhnya mereka itu orang-orang yang dhalim’ (QS. Aali ‘Imraan : 128). Lalu Allah menawarkan hidayah kepada mereka untuk memeluk Islam” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3005, dan ia berkata : ‘Hadits hasan ghariib shahih’. Dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/207].

c.      Hadits sumur Badr.

Ketika ‘Amru bin Hisyaam, ‘Utbah bin Rabii’ah, Syaibah bin Rabii’ah, Al-Waliid bin ‘Utbah, Umayyah bin Khalaf, ‘Uqbah bin Abu Mu’aith, dan ‘Umaarah bin Al-Waliid mati dan dimasukkan dalam sumur Badr, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَأُتْبِعَ أَصْحَابُ الْقَلِيبِ لَعْنَةً

“Penghuni sumur ini diiringi oleh laknat” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 520].

d.      Hadits pemabuk yang dieksekusi cambuk.

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ: ” أَنَّ رَجُلًا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ اسْمُهُ عَبْدَ اللَّهِ، وَكَانَ يُلَقَّبُ حِمَارًا، وَكَانَ يُضْحِكُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَلَدَهُ فِي الشَّرَابِ، فَأُتِيَ بِهِ يَوْمًا، فَأَمَرَ بِهِ فَجُلِدَ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: اللَّهُمَّ الْعَنْهُ، مَا أَكْثَرَ مَا يُؤْتَى بِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ، مَا عَلِمْتُ إِنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ “

Dari ‘Umar bin Al-Khaththaab : Ada seorang pria di jaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berjulukan ‘Abdullah, yang dijuluki keledai (himaar). Ia suka menciptakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tertawa. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mencambuknya lantaran ia mabuk. Suatu hari ia dihadapkan ke hadapan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia memerintahkan supaya ia dicambuk. Lalu ada seorang pria dari satu kaum berkata : “Ya Allah, laknatilah ia, betapa sering ia dihukum”. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kalian melaknatnya. Demi Allah, tidaklah saya mengetahuinya kecuali ia menyayangi Allah dan Rasul-Nya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6780].

Ibnu Katsiir rahimahullah berkata:

وقالت طائفة أخرى: بل يجوز لعن الكافر المعين. واختار ذلك الفقيه أبو بكر بن العربي المالكي، ولكنه احتج بحديث فيه ضعف، واستدل غيره بقوله، عليه السلام، في صحيح البخاري في قصة الذي كان يؤتى به سكران فيحده، فقال رجل: لعنه الله، ما أكثر ما يؤتى به، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “لا تلعنه فإنه يحب الله ورسوله” قالوا: فعلَّة المنع من لعنه؛ بأنه يحب الله ورسوله فدل على أن من لا يحب الله ورسوله يلعن، والله أعلم.

“Sekelompok ulama lain berkata : “Bahkan diperbolehkan melaknati orang kafir tertentu. Pendapat ini dipilih oleh Abu Bakr bin Al-‘Arabiy Al-Maalikiy, akan tetapi ia berhujjah dengan hadits dla’if. Ulama lain (yang beropini membolehkan) berdalil dengan sabda beliau‘alaihis-salaam dalam Shahiih Al-Bukhaariy dalam kisah seorang pria pemabuk yang dihadapkan kepada ia shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia menegakkan hadd padanya. Seorang pria berkata: ‘Semoga Allah melaknatnya, betapa sering ia dihukum’. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Janganlah kalian melaknatnya, lantaran ia menyayangi Allah dan Rasul-Nya’. Mereka berkata : ‘Alasan larangan melaknat yaitu lantaran ia menyayangi Allah dan Rasul-Nya. Maka itu memperlihatkan bahwa orang yang tidak menyayangi Allah dan Rasul-Nya boleh untuk dilaknat, wallaahu a’lam” [Tafsiir Ibni Katsiir, 1/474].

e.      Perkataan Bilaal bin Rabbaah radliyallaahu ‘anhu yang melaknat beberapa tokoh kafir Quraisy.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: ” لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وُعِكَ أَبُو بَكْرٍ، وَبِلَالٌ، …….وَكَانَ بِلَالٌ إِذَا أُقْلِعَ عَنْهُ الْحُمَّى يَرْفَعُ عَقِيرَتَهُ، يَقُولُ: أَلَا لَيْتَ شِعْرِي هَلْ أَبِيتَنَّ لَيْلَةً         بِوَادٍ وَحَوْلِي إِذْخِرٌ وَجَلِيلُ وَهَلْ أَرِدَنْ يَوْمًا مِيَاهَ مِجَنَّةٍ وَهَلْ يَبْدُوَنْ لِي شَامَةٌ وَطَفِيلُ. قَالَ: اللَّهُمَّ الْعَنْ شَيْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ، وَعُتْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ، وَأُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ، كَمَا أَخْرَجُونَا مِنْ أَرْضِنَا إِلَى أَرْضِ الْوَبَاءِ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا وَفِي مُدِّنَا وَصَحِّحْهَا لَنَا، وَانْقُلْ حُمَّاهَا إِلَى الْجُحْفَةِ “

Dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata : Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madiinah, Abu Bakr dan Bilaal terjangkit demam…… Apabila Bilaal sembuh dari demamnya, ia bersyi’ir dengan bunyi keras : “Alangkah baiknya syairku, dapatkah kiranya saya bermalam di sebuah lembah yang dikelilingi pohon idzkir dan jalil. Apakah ada suatu hari nanti saya sanggup mencapai air Majannah. Dan apakah bukit Syamah dan Thufail akan tampak bagiku?”. Lalu ia berkata : Ya “Ya Allah, laknatlah Syaibah bin Rabii’ah, ‘Utbah bin Rabii’ah, dan Umayyah bin Khalaf, sebagaimana mereka telah mengakibatkan kami keluar dari negeri kami (Makkah) ke negeri derita (Madiinah). Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ya Allah, jadikanlah Madinah sebagai kota yang kami cintai sebagaimana kami menyayangi Makkah atau bahkan lebih dari itu. Ya Allah, berkahilah timbangan shaa’ dan mudd kami. Sehatkanlah (makmurkanlah) Madinah untuk kami dan pindahkanlah wabah demamnya ke Juhfah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1889].

f.      Perkataan sebagian salaf terhadap Jahm bin Shafwan yang telah dikafirkan para ulama.

عَنْ يَزِيد بْنِ هَارُونَ، يَقُولُ: ” لَعَنَ اللَّهُ الْجَهْمَ، وَمَنْ قَالَ بِقَوْلِهِ

Dari Yaziid bin Haaruun ia berkata : “Allah melaknat Jahm dan orang yang berkata dengan perkataannya…” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 189; shahih].

Pendapat yang berpengaruh dalam hal ini yaitu pendapat yang membolehkannya.

Tentang dalil laknat dalam qunut nazilah yang dibawakan jumhur ulama telah dijawab di atas. Adapun hadits wacana larangan melaknat, maka hadits itu memakai lafadh la’aan (لَعَّانٌ). Hal itu menyerupai hadits yang lain:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لَا يَنْبَغِي لِصِدِّيقٍ أَنْ يَكُونَ لَعَّانًا “

Dari Abu Hurairah : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Tidak selayaknya bagi seorang yang shiddiiq menjadi tukang laknat” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2597].

An-Nawawiy rahimahullah berkata:

وَلَمْ يَقُلْ : لَاعِنًا وَاللَّاعِنُونَ لِأَنَّ هَذَا الذَّمّ فِي الْحَدِيث إِنَّمَا هُوَ لِمَنْ كَثُرَ مِنْهُ اللَّعْن ، لَا لِمَرَّةٍ وَنَحْوهَا

“Beliau tidak menyampaikan laa’inan dan laa’inuun, lantaran maksud celaan dalam hadits hanyalah bagi orang yang banyak melaknat, bukan orang yang sesekali/jarang melaknat” [Syarh Shahiih Muslim, 16/149].

Sekaligus di sini terkandung faedah : Meskipun boleh melaknat kafir secara mu’ayyan (individu/personal), maka tidak selayaknya seorang mukmin memperbanyak laknat dalam rangka meneladani Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Saat ia shallallaahu ‘alaihi wa sallam diminta melaknat orang musyrik – padahal mereka memang berhak untuk dilaknat – , ia menolaknya.

Melaknat Orang Muslim yang Bermaksiat atau Berbuat Kefasikan Secara Mu’ayyan

Para ulama berbeda pendapat wacana aturan melaknat orang muslim yang berbuat maksiat secara spesifik (mu’ayyan). Jumhur ulama melarangnya, sedangkan yang lain membolehkannya.

a.     Pendapat yang Melarang.

Ulama yang melarang berdalil dengan hadits ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu di atas wacana pemabuk yang dieksekusi cambuk. Dalam hadits tersebut terperinci disebutkan larangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk melaknatnya, lantaran ia seorang yang menyayangi Allah dan Rasul-Nya.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وأما الفاسق المعين فلا تنبغى لعنته لنهى النبى أن يلعن عبدالله بن حمار الذى كان يشرب الخمر

“Adapun orang fasiq mu’ayyan, maka tidak boleh melaknatnya lantaran adanya larangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk melaknat ‘Abdullah bin Himaar yang biasa meminum khamr” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 6/511].

Begitu juga Ibnul-‘Arabiy rahimahullah yang berdalil dengan hadits tersebut untuk menegaskan ketidakbolehannya:

فأما العاصي المعين، فلا يجوز لعنه اتفاقا

“Adapun orang yang bermaksiat mu’ayyan, maka tidak boleh  melaknatnya berdasarkan kesepakatan” [Ahkaamul-Qur’aan, 1/75].

Namun klaim ijmaa’ Ibnul-‘Arabiy rahimahullah ini tidak benar.

Ketika menjelaskan hadits pelaknatan terhadap pencuri, An-Nawawiy rahimahullah berkata:

هَذَا دَلِيل لِجَوَازِ لَعْن غَيْر الْمُعَيَّن مِنْ الْعُصَاة ، لِأَنَّهُ لَعْن لِلْجِنْسِ لَا لِمُعَيَّنٍ ، وَلَعْن الْجِنْس جَائِز كَمَا قَالَ اللَّه تَعَالَى : { أَلَا لَعْنَة اللَّه عَلَى الظَّالِمِينَ } وَأَمَّا الْمُعَيَّن فَلَا يَجُوز لَعْنه

“Ini yaitu dalil bolehnya melaknat orang yang bermasiat tanpa penyebutan secara mu’ayyan, lantaran ia termasuk laknat terhadap jenis, bukan terhadap indidu tertentu. Dan pelaknatan terhadap jenis diperbolehkan sebagaimana firman Allah ta’ala : ‘Ingatlah laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang dhalim’ (QS. Huud : 18). Adapun laknat secara individu (mu’ayyan), maka tidak diperbolehkan” [Syarh Shahiih Muslim, 11/185].

Selain hadits peminum khamr, para ulama yang melarang juga berdalil dengan hadits-hadits yang melarang adanya pelaknatan – yang diantaranya telah disebutkan di atas – .

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيْسَ بِاللَّعَّانِ وَلَا الطَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ “

Dari ‘Abdullah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya orang mukmin itu orang yang tidak suka melaknat, mencela, berkata keji/jorok, dan kotor” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/416; shahih].

Juga hadits ini:

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ، قَالَ: بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ، وَامْرَأَةٌ مِنْ الْأَنْصَارِ عَلَى نَاقَةٍ، فَضَجِرَتْ، فَلَعَنَتْهَا، فَسَمِعَ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: خُذُوا مَا عَلَيْهَا وَدَعُوهَا فَإِنَّهَا مَلْعُونَةٌ

Dari ‘Imraan bin Hushain, ia berkata : Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan, ada seorang perempuan Anshar yang tengah mengendarai unta. Tiba-tiba unta ngadat. Lalu perempuan itu melaknatnya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendengarnya kemudian bersabda: ‘Ambil beban yang ada di atas onta itu dan lepaskanlah, lantaran ia telah dilaknat” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2595].

Jika binatang saja tidak boleh dilaknat, apalagi insan ?.

b.     Pendapat yang Membolehkan.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وقد تنازع الناس في لعنة الفاسق المعين فقيل إنه جائز كما قال ذلك طائفة من أصحاب أحمد وغيرهم كأبي الفرج بن الجوزي وغيره

“Orang-orang berselisih pendapat wacana persoalan laknat terhadap orang fasiq secara mu’ayyan. Dikatakan bahwa hal tersebut diperbolehkan sebagaimana dikatakan sekelompok ashhaab Ahmad dan yang lainnya, menyerupai Abul-Faraj bin Al-Jauziy dan yang lainnya” [Minhaajus-Sunnah, 4/569].

Dalilnya yang mereka jadikan sandaran diantaranya:

Firman Allah ta’ala:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ * وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

“Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia yaitu termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima : bahwa laknat Allah atasnya, bila dia termasuk orang-orang yang berdusta” [QS. An-Nuur : 7].

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ “

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila seorang suami mengajak istrinya ke ranjang, namun si (istri) enggan memenuhinya sehingga si suami tidur malam dalam keadaan marah, maka para malaikat akan melaknatnya hingga waktu Shubuh” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3237].

Sisi pendalilan : Jika melaknat secara mu’ayyan merupakan perbuatan yang dilarang/diharamkan dalam syari’at, pasti malaikat tidak akan melakukannya.

عَنِ الشَّعْبِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ، وَهُوَ مُسْتَنِدٌ إِلَى الْكَعْبَةِ وَهُوَ يَقُولُ: وَرَبِّ هَذِهِ الْكَعْبَةِ، لَقَدْ ” لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فُلَانًا وَمَا وُلِدَ مِنْ صُلْبِهِ “

Dari Asy-Sya’biy, ia berkata : Aku mendengar ‘Abdullah bin Az-Zubair dalam keadaan bersandar ke Ka’bah, berkata : “Demi Dzat yang mempunyai Ka’bah ini, sungguh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallampernah melaknat si Fulan dan yang dilahirkan dari tulang rusuknya” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/5; sanadnya shahih].

Dalam hadits ini, dikhabarkan ia dengan terperinci pernah melaknat seseorang secara personal.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْكُو جَارَهُ، فَقَالَ: اذْهَبْ فَاصْبِرْ، فَأَتَاهُ مَرَّتَيْنِ، أَوْ ثَلَاثًا، فَقَالَ: اذْهَبْ فَاطْرَحْ مَتَاعَكَ فِي الطَّرِيقِ، فَطَرَحَ مَتَاعَهُ فِي الطَّرِيقِ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَسْأَلُونَهُ فَيُخْبِرُهُمْ خَبَرَهُ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَلْعَنُونَهُ فَعَلَ اللَّهُ بِهِ وَفَعَلَ وَفَعَلَ فَجَاءَ إِلَيْهِ جَارُهُ، فَقَالَ لَهُ: ارْجِعْ لَا تَرَى مِنِّي شَيْئًا تَكْرَهُهُ

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Seorang pria pernah tiba kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengeluhkan perihal tetangganya. Maka ia shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Pulang dan bersabarlah”. Orang itu kembali mendatangi ia hingga dua atau tiga kali. Maka ia shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya : “Pulang dan lemparkanlah barang-barangmu ke jalan”. Maka orang itu pun melemparkan barang-barangnya ke jalan, sehingga orang-orang bertanya kepadanya. Ia kemudian menceritakan keadaannya kepada mereka. Maka orang-orang pun melaknat tetangganya itu. Hingga tetangganya itu mendatanginya dan berkata : “Kembalikanlah barang-barangmu, engkau tidak akan melihat lagi sesuatu yang tidak engkau sukai dariku” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 5153, Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad no. 124, dan lainnya; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan Abi Daawud 3/264].

Abu Hurairah mempunyai syahiid dari Abu Juhaifah radliyallaahu ‘anhumaa yang padanya disebutkan bahwa si tetangga tersebut alhasil menemui Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menceritakan laknat orang-orang kepada. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda:

إِنَّ لَعْنَةَ اللَّهِ فَوْقَ لَعْنَتِهِمْ

“Sesungguhnya laknat Allah di atas laknat mereka”.

Di lain riwayat:

قَدْ لَعَنَكَ اللَّهُ قَبْلَ النَّاسِ

“Sungguh, Allah telah melaknatmu sebelum orang-orang” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad no. 125, Al-Bazzaar dalam Al-Bahr no. 4235, Ath-Thabaraaniy dalam Makaarimul-Akhlaaq no. 236, dan yang lainnya; Al-Albaaniy menyampaikan : ‘hasan shahih’ dalam Shahiih Al-Adabil-Mufrad hal. 71-72].

Sisi pendalilannya : Adanya taqrir ia shallallaahu ‘alaihi wa sallam atas laknat orang-orang kepada si tetangga jahat tadi.

عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَيْهِ حِمَارٌ قَدْ وُسِمَ فِي وَجْهِهِ، فَقَالَ: ” لَعَنَ اللَّهُ الَّذِي وَسَمَهُ “

Dari Jaabir : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berpapasan dengan seekor keledai yang dicap dengan besi panas di wajahnya. Maka ia bersabda : “Allah melaknat orang yang melakukannya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2117].

Di sini ia shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan adanya laknat Allah terhadap orang tertentu yang telah melaksanakan pengecapan besi panas di wajah keledai yang ia temui – meski orang tersebut tidak bertemu ia waktu itu.

عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ ابْنِ عُمَرَ مِنْ مَنْزِلهِ، فَمَرَرْنَا بِفِتْيَانٍ مِنْ قُرَيْشٍ، نَصَبُوا طَيْرًا يَرْمُونَهُ، وَقَدْ جَعَلُوا لِصَاحِبِ الطَّيْرِ كُلَّ خَاطِئَةٍ مِنْ نَبْلِهِمْ، قَالَ: فَلَمَّا رَأَوْا ابْنَ عُمَرَ تَفَرَّقُوا، فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: مَنْ فَعَلَ هَذَا؟ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ فَعَلَ هَذَا

Dari Sa’iid bin Jubair, ia berkata : Aku keluar bersama Ibnu ‘Umar dari kawasan kediamannya. Lalu kami melewati beberapa orang cowok Quraisy yang sedang mengikat seekor burung untuk melemparinya dengan panah. Mereka membayar setiap bidikan yang meleset kepada pemilik burung. Saat melihat Ibnu ‘Umar, mereka pun bubar. Ibnu ‘Umar berkata : “Siapa yang melaksanakan ini ? Allah melaknat orang yang melaksanakan ini…” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1958, Ahmad 2/56, dan yang lainnya].

Laknat Ibnu ‘Umar ini diucapkan spesifik terhadap para cowok Quraisy yang ia temui.

Pendapat yang berpengaruh yaitu pendapat yang membolehkannya, lantaran memang terbukti ia shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melaknat pelaku kemaksiatan secara spesifik dan mentaqrir sebagian shahabat yang melakukannya. Namun, bila pelaku kemaksiatan telah meninggal dunia, tidak boleh dilaknat dan dicaci lantaran Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallambersabda:

لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا

“Janganlah engkau mencaci orang yang telah mati, lantaran mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka lakukan dahulu (di dunia)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1393 & 6516].

Tentang pendalilan jumhur, maka itu sanggup dijawab:

1.     Hadits ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu hanyalah mengkhabarkan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk melaknat ‘Abdullah Al-Himaar, dengan alasan ia menyayangi Allah dan Rasul-Nya. Dan memang tidak semua pelaku kemaksiatan dari kaum muslimin harus dilaknat.

Selain itu, shahabat tersebut yaitu shahabat yang ikut serta dalam perang Badr. Namanya yang bergotong-royong yaitu An-Nu’aimaan bin ‘Amru bin Rifaa’ah bin Al-Haarits. Kedudukannya dan apa yang dilakukannya yaitu menyerupai Haathib bin Abi Balta’ah yang membocorkan penyerangan kaum muslimin kepada saudara-saudaranya di Makkah.

2.     Tentang hadits larangan melaknat, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, maka itu berlaku pada orang yang sering melaknat, bukan orang yang hanya sesekali bila ada kemaslahatan.

3.     Tentang hadits larangan ‘Imraan bin Hushain, maka benar di sini terkandung larangan melaknat binatang tanpa alasan yang dibenarkan. Akan tetapi dimanakah sisi pelarangan dari hadits ini wacana melaknat orang yang melaksanakan kemaksiatan secara mu’ayyan ?.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, meskipun melaknat pelaku kemaksiatan itu diperbolehkan, maka kita tidak memperbanyaknya dan menimbulkan pemanis dalam perkataan kita. Kita sanggup mencontoh Nabi kita –shallallaahu ‘alaihi wa sallam – yang sangat jarang mengucapkan kata-kata laknat. Jika tidak ada maslahat, alternatif membisu jauh lebih daripada mengumbar lisan.

لَا يَنْبَغِي لِصِدِّيقٍ أَنْ يَكُونَ لَعَّانًا

“Tidak selayaknya bagi seorang yang shiddiiq menjadi tukang laknat” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2597].

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia bicara yang baik (bermanfaat) atau diam” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6018].

Dari kutipan diatas sanggup diuraikan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, mendoakan buruk atau melaknat siapa pun dan apa pun dari kaum Muslimin termasuk diri sendiri, harta benda, keluarga dan orang lain supaya tertimpa suatu peristiwa sangat tidak dianjurkan sekalipun mereka telah berbuat kedzaliman kepada kita. Artinya tidak sepantasnya kita melaksanakan hal yang sama buruknya alasannya yaitu mendoakan buruk dan melaknat bukan etika karimah. Doa yang sebaiknya diucapkan untuk  orang yang telah berbuat dzalim yaitu doa yang baik saja, contohnya supaya ia mendapatkan hidayah dari Allah SWT, kemudian menyadari kesalahannya dan bertobat.

Kedua, mengucapkan doa kutukan atau laknat atas orang lain supaya tertimpa peristiwa sanggup sama saja dengan melaknat diri sendiri. Alasannya,  sebagimana dijelaskan Rasulullah SAW, yaitu  bisa saja pada ketika kita mengucapkan kutukan atau laknat kepada orang lain, pada ketika itu Allah sedang menghendaki  terkabulnya doa-doa, sementara orang lain tersebut ternyata tidak pantas mendapat kutukan lantaran tidak bersalah, misalnya.  Kutukan atau laknat menyerupai itu sanggup berbalik kepada diri sendiri  sebagaimana dijelaskan  Sayyid Abdullah Al-Haddad di halaman yang sama (hal. 141) sebagai berikut:

وقد ورد أن اللعنة إذا خرجت من العبد تصعد نحوالسماء فتغلق دونها أبوابها ثم تنزل إلى الأرض فتغلق دونها أبوابها ثم تجيء الى الملعون فإن وجدت فيه مساغا وإلارجعت على قائلها.

Artinya: “Ketahuilah bahwa suatu laknat, bila telah keluar dari lisan seseorang, akan naik ke arah langit, maka ditutuplah pintu-pintu langit di hadapannya sehingga ia turun kembali ke bumi dan dijumpainya pintu-pintu bumi pun tertutup baginya, kemudian ia menuju ke arah orang yang dilaknat bila ia memang patut menerimany , atau bila tidak, laknat itu akan kembali kepada orang yang mengucapkannya.”

Dari kutipan di atas sangat terperinci bahwa kutukan atau laknat mempunyai dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, orang yang dilaknat akan terkena peristiwa bila memang berdasarkan Allah ia pantas menerimanya. Kemungkinan kedua, bila ternyata Allah memandang lain, maka peristiwa itu akan menjadi bumerang  atau berbalik arah menuju orang yang telah mengucapkannya. Ini artinya sangat riskan melaksanakan kutukan atau melaknat orang lain.

Dalam kaitan itu, Nabi Muhammad SAW telah menawarkan pola atau teladan yang baik ketika ia didzalimi orang-orang Thaif yang menolak dakwahnya. Beliau mendoakan supaya mereka tetap diberi keselamatan atau hak hidup dengan berharap dari anak cucunya akan ada yang mau beriman kepada Allah SWT. Sebenarnya mengutuk atau melaknat orang lain hanya diperbolehklan kepada orang-orang tertentu saja yang telah di-nash oleh Allah sendiri sebagaimana klarifikasi Sayyid Abdullah Al-Haddad di halaman yang sama (hal. 141) sebagai berikut:

واحذرأن تلعن مسلما أو بهيمة أوجمادا أو شخصا بعينه وان كان كافرا إلا إن تحققت أنه مات على الكفر كفرعون وابي جهل أو علمت أن رحمة الله لا تناله بحال كإبليس.

Artinya: “Jauhkan dirimu dari perbuatan melaknat seorang Muslim (termasuk pelayan dan sebagainya), bahkan seekor hewanpun. Jangan melaknat seorang insan tertentu secara langsung, walaupun ia seorang kafir, kecuali bila Anda yakin bahwa ia telah mati dalam keadaan kafir sepeti Fir’aun, Abu Jahal dan sebagainya. Ataupun, yang Anda ketahui bahwa rahmat Allah tak mungkin mencapainya menyerupai Iblis.”

Dari kutipan diatas semakin terperinci bahwa kita sangat dianjurkan untuk tidak pernah melaknat siapa pun dan apa pun, baik itu insan maupun bukan manusia; baik itu Muslim maupun kafir. Orang kafir kini sanggup saja akan menjadi mukmin di masa depan dengan hidayah Allah SWT. Laknat hanya boleh ditujukan kepada orang-orang kafir yang sudah terperinci kekafirannya hingga maut  seperti Fir’aun, Abu Jahal dan sebagainya.

Iblis juga boleh dilaknat lantaran rahmat Allah SWT memang tidak akan pernah hingga kepadanya. Ia telah membangkang terhadap perintah Allah dan menyombongkan diri kepada-Nya sebagaimana di tegaskan di dalam Al-Qur’an, surah Al-Baqarah, ayat 34: “Aba wastakbara wakâna minal kâfirîn.” (Iblis membangkang Allah dan menyombongkan diri. Ia kafir).  Demikian pula setan-setan boleh dilaknat sebagaimana terdapat dalam bacaan ta’awudz:  “A’ûdzu billâhi minasy-syaithânir rajîm.” (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk).

Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda

Scroll to Top