Kisah Istri Sholehah (Taat Pada Suami) Yang Mengantarkan Ibunya Ke Surga

cybermoeslem – Sudah menjadi kewajiban seorang anak untuk patuh dan taat kepada orang tuanya, tetapi apabila sudah berumah tangga (khususnya seorang wanita) maka kepatuhan dan ketaatan kepada suaminya lebih utama (penting) dari pada patuh dan taat kepada orang renta dan/atau kepada saudara-saudara kandungnya, selama apa yang diperintahkan suaminya tidak mengingkari ketentuan Allah SWT, dan bahkan seoarang suami menjadi nirwana dan neraka bagi seorang istri.
Seperti cerita inspiratif islami berikut ini, seorang perempuan atau istri sholehah yang taat kepada suaminya, tidak mendatangi panggilan orang renta dan keluarganya di ketika ibunya sedang sakit parah, karena si perempuan tersebut mengemban amanah / pesan suaminya yang pergi jihad yang melarangnya untuk keluar rumah sebelum suaminya pulang. Namun meskipun tidak menjenguk ibunya yang sedang sakit parah dan bahkan hingga meninggal dunia, Ibu si perempuan sholehah ini diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT karena mempunyai anak yang patuh dan taat kepada seorang suami. Berikut ialah Kisah Istri Sholehah (Patuh pada Suami) yang Mengantarkan Ibunya ke Surga selengkapnya

 Sudah menjadi kewajiban seorang anak untuk patuh dan taat kepada orang tuanya Kisah Istri Sholehah (Taat pada Suami) yang Mengantarkan Ibunya ke Surga
Ilustrasi : Wanita Sholehah Taat kepada Suami

Ketika Rasulullah SAW masih hidup, tersebutlah seorang istri yang shalihah. Wanita setia ini begitu taat serta setia terhadap suaminya. Suatu hari, suaminya pergi berjihad untuk agama, sang suami hendak pergi memenuhi panggilan suci untuk berjihad dirinya beramanat pada istrinya.
“Istriku tersayang yang kucintai, saya akan pergi untuk berjihad meninggikan kalimat-kalimat Allah, sebelum saya kembali pulang dari berjihad, kau jangan pergi kemanapun dan jangan keluar dari rumah ini”.
Setelah berpesan demikian pada istrinya, berangkatlah si suami menuju medan jihad.
Beberapa hari kemudian, datanglah seseorang kepada perempuan tersebut yang mengabarkan bahwa ibunya sedang sakit parah. Orang yang diutus tersebut menyampaikan pada perempuan sholihah itu untuk segera menjenguk ibunya.
“Ibumu ketika ini sedang sakit keras, jenguklah dia sekarang”
Dengan gelisah perempuan tersebut menjawab; “Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, bukannya tidak mau menjenguk, tapi saya tidak boleh keluar rumah sebelum suami saya pulang, tolong sampaikan permohonan maaf dan salam saya pada Ibu”. Dan si utusanpun pulang tanpa membawa perempuan tersebut.
Malam berlalu dan suami yang berjihad belum juga pulang. Keesokan harinya tiba kembali seorang utusan yang mengabarkan bahwa ibu perempuan tersebut meninggal dunia. Betapa sedih perasaan perempuan sholehah ini, air matanya berlinang mendengar kabar ibu yang dicintainya telah pergi untuk selama-lamanya, bahkan disaat terakhirnya dia tidak berada disampingnya.
Utusan tersebut berkata “sekarang Ibumu telah tiada, datanglah untuk menunjukkan penghormatan terakhir sebelum dia akan dikebumikan hari ini”. Namun istri yang shalihal ini sambil mengangis tersedu menjawab “Bukannya saya tidak menyayangi ibu saya, tapi saya memegang amanah suami saya untuk tidak keluar rumah hingga dia pulang dan memberi saya izin”.
Dengan berat utusan tersebut pulang. Mungkin alasannya ialah kesal dan heran dengan perilaku perempuan tersebut yang tidak mau tiba walaupun ibunya sakit keras hingga meninggal dunia, si utusan pun jadinya mengadukan permasalahan ini kepada Rasulullah SAW.
Dengan nada sedikit kesal ia berkata kepada Nabi SAW “Wahai Rasulullah, perempuan itu sangat keterlaluan, dari mulai ibunya sakit hingga meninggal dunia dia tidak mau tiba untuk menemui ibunya”
Rasulullah SAW bertanya “Kenapa dia tidak mau tiba menemui ibunya?”
“Wanita itu menyampaikan bahwa dia t idak menerima izin untuk keluar rumah sebelum suaminya pulang berjihad” Jawab utusan yang mengadu ke Rasulullah SAW tersebut.
Lalu Rasulullah SAW tersenyum, kemudian Beliau berkata “Dosa-dosa ibu perempuan tersebut diampuni oleh Allah SWT alasannya ialah dia mempunyai seorang puteri yang sangat taat terhadap suaminya”.
Itulah cerita seorang istri yang sholehah yang patuh dan taat kepada suaminya yang pada jadinya bisa mengantarkan ibunya ke nirwana alasannya ialah dosa-dosa ibunya telah di ampuni oleh Allah SWT karena mempunyai anak yang sholehah, taat kepada suami.
Dalam kalangan pesantren, cerita diatas sangat populer, alasannya ialah cerita ini tertulis pada salah satu Kitab karya Syaikh Nawawi Al-Bantani yakni Kitab Uqudulujian, salah satu kitab terpopuler yang membahas wacana tata cara hidup berumah tangga secara islami.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 34 yang artinya; “Kaum pria itu ialah pemimpin bagi kaum wanita, oleh alasannya ialah Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan alasannya ialah mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. Al-Nisa’: 34).
Dan juga Rasulullah SAW bersabda: “Tidak boleh (haram) bagi perempuan untuk berpuasa sementara suaminya ada di sisinya kecuali dengan izinnya. Istri juga tidak boleh memasukkan orang ke dalam rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Dan harta yang ia nafkahkan bukan dengan perintahnya, maka setengah pahalanya diberikan untuk suaminya.” (HR. Al-Bukhari)
Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Apabila perempuan menunaikan shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya; maka disampaikan kepadanya: masuklah nirwana dari pintu mana saja yang kau mau.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 660).
Dari beberapa pembahasan diatas, sanggup kita simpulkan bahwa Ketaatan seorang istri kepada suami harus didahulukan daripada taat kepada orang renta dan/atau kepada saudara-saudara kandungnya. Di dalam kitab al-Inshaf (8/362), “Seorang perempuan tidak boleh mentaati kedua orang tuanya untuk berpisah dengan suaminya, tidak pula mengunjunginya dan semisalnya. Bahkan ketaatan kepada suaminya lebih wajib.”

Referensi :
#
#http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2012/10/02/20962/taat-kepada-suami-harus-didahulukan-daripada-orang-tua/

Scroll to Top