Nilai-Nilai Kultural Yang Disepakati Bareng Penduduk Indonesia Sehingga Menjadi Nilai-Nilai Kultural Nasional Indonesia

By | Februari 14, 2021

nilai kultural yang disepakati bareng  Masyarakat Indonesia  NILAI-NILAI KULTURAL YANG DISEPAKATI BERSAMA MASYARAKAT INDONESIA SEHINGGA MENJADI NILAI-NILAI KULTURAL NASIONAL INDONESIA


Apa nilai-nilai kultural yang disepakati bareng Masyarakat Indonesia ? dan apa pula nilai-nilai kultural nasional Indonesia. Pada pembahasan ini kita akan mempelajar beberapa nilai-nilai kultural yang disepakati bareng Masyarakat Indonesia sehingga menjadi nilai-nilai kultural nasional Indonesia. Sebagaimana dikenali nilai-nilai kultural atau budaya merupakan sesuatu hal yang dianggap bermanfaat oleh golongan penduduk atau suku bangsa tertentu. Nilai-nilai budaya sanggup menangkal dan menampilkan karakteristik tertentu dalam kehidupan masyarakatnya serta kebudayaan yang ada dalam penduduk itu sendiri.

Nugroho Notosusanto menyatakan bahwa bahwa tata cara nilai–nilai budaya di penduduk tersebut menjadi pokok pembahasan fenomena dari kebudayaan, karena nilai-nilai budaya yang ada tersebut mensugesti dan selaku penentu banyak sekali elemen bidang yang terdapat pada struktur permukaan dari kehidupan insan yang mana elemen-elemen tersebut sanggup meliputi nilai-nilai budaya selaku kesatuan sikap sosial individu di penduduk dan benda-benda (merupakan hasil kebudayaan) selaku kesatuan material.

 

Pengertian Nilai

Dalam kamus besar bahasa indonesia menerangkan perihal pemahaman nilai, dimana nilai didefinisikan selaku kadar, mutu, atau sifat yang penting dan berkhasiat bagi kemanusiaan. Pengertian nilai secara menyeluruh merupakan konsep-konsep biasa ihwal sesuatu dianggap baik, patut, layak, patut yang keberadaannya dicita-citakan, diinginkan, dihayati, dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari hari dan menjadi pedoman kehidupan bareng di dalam golongan penduduk tersebut, mulai dari unit kesatuan sosial terkecil hingga suku, bangsa, dan penduduk internasional.

Berikut beberapa pemahaman nilai menurut para andal antara lain selaku berikut:

·          Anthony Giddens menyatakan nilai merupakan gagasan-gagasan yang dimiliki oleh seseorang atau golongan ihwal apa yang dikehendaki, apa yang layak, dan apa yang bagus atau buruk.

·          Horton dan Hunt menyatakan nilai merupakan pemikiran ihwal apakah pengalaman tersbeut berarti atau tidak. Nilai ada hakikatnya mengarahkan sikap dan pertimbangan seseorang, akan tetapi nilai tidak menghakimi apakah suatu sikap tersebut benar atau salah.

·          Robert MZ Lawang menyatakan nilai merupakan citra perihal apa yang dikehendaki yang pantas, berharga, dan sanggup mensugesti sikap sosial dari orang yang dinilai tersebut.

·          Clyde Cluckhohn menyatakan nilai merupakan suatu konsepsi, eksplisit atau implisit yang khas milik seseorang individu atau suatu golongan ihwal yang semestinya dikehendaki yang memengaruhipilihan yang tersedia dari bentuk-bentuk, cara-cara dan tujuan-tujuan tindakan.

·          menyatakan Alvin L Bertrand menyatakan nilai sosial merupakan suatu kesadaran dan emosi yang relative lestari terhadap suatu obyek gagasan.

·          Koenjaraningrat menyatakan nilai merupakan terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam asumsi sebahagian besar warga penduduk perihal halhal yang mereka anggap amat mulia. Sistem nilai yang ada dalam suatu penduduk dijadikan orientasi dan rujukan dalam bertindak.

 

Macam-macam Nilai

Menurut Notonegoro, nilai dibedakan menjadi tiga macam, yakni nilai material, nilai vital, dan nilai kerohanian.

1. Nilai material merupakan segala sesuatu yang berkhasiat bagi kehidupan jasmani insan atau keperluan ragawi manusia.

2. Nilai vital merupakan segala sesuatu yang berkhasiat bagi insan untuk sanggup mengadakan kegiatan atau aktivitas.

3. Nilai kerohanian merupakan segala sesuatu yang berkhasiat bagi rohani manusia. Nilai kerohanian meliputi:

a. nilai kebenaran yang bersumber pada nalar (rasio, budi, cipta) manusia.

b. nilai keindahan atau nilai estetis yang bersumber pada unsur perasaan

c. manusia;

d. nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber pada unsur kehendak (karsa)manusia;

e. nilai religius (agama) yang merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak yang bersumber pada kepercayaan atau keyakinanmanusia.

 

Nilai Menurut Waber G.Everet:

a. Nilai-nilai ekonomi (economic values).

b. Nilai-nilai wisata (recreation values)

c. Nilai-nilai perserikatan (association values)

d. Nilai-nilai kejasmanian (body values)

e. Nilai-nilai tabiat (character values)

 

Ciri-ciri Nilai

Ciri-ciri nilai menurut Bambang Daroeso (1986) merupakan Sebagai berikut.

a. Nilai itu suatu realitas absurd dan ada dalam kehidupan manusia.

b. Nilai mempunyai sifat normatif.

c. Nilai berfungsi selaku daya dorong/motivator dan insan merupakan penunjang nilai.


Pengertian Kebudayaan (kultur atau kultural)

Kebudayaan dimiliki oleh setiap masyarakat. Perbedaan terletak pada kesempurnaan kebudayaan yang satu bebrbeda dengan kepunyaan penduduk lain nya, di dalam kemajuan nya kebudayan dipakai selaku pemenuhan keperluan masyarakat. Didalam korelasi nya diatas, maka kebudayaan biasanya disebut selaku suatu peradaban (civilization), tetapi hal tersebut diabatasi pada kebudayaan yang sudah tinggi saja.

 

Ada 7 Unsur Kebudayaan Universal menurut Koentjaraningrat yaitu:

 1. Bahasa

 2. Sistem Pengetahuan

 3. Sistem Kemasyarakatan atau Organisasi Sosial

 4. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi

 5. Sistem Mata Pencaharian Hidup

 6. Sistem Religi

7. Kesenian

 

Secara garis besar, seluruh kebudayaan yang ada di dunia ini mempunyai sifat-sifat hakikat yang sama. Sifat-sifat hakikat kebudayaan selaku berikut:

1. Kebudayaan terwujud dan tersalurkan melalui sikap manusia.

2. Kebudayaan sudah ada terlebih dulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.

3. Kebudayaan diharapkan oleh insan dan diwujudkan tingkah lakunya.

4. Kebudayaan meliputi aturan-aturan yang terdiri dari kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakantindakan yang dilarang, dan tindakan-tindakan yang diizinkan.

 

Pada umumnya, unsur-unsur kebudayaan absurd yang mudah diterima merupakan selaku berikut:

1. Unsur Kebudayaan kebendaan, seumpama alat-peralatan yang utamanya sungguh mudah dipakai dan dinikmati sungguh berfaedah bagi penduduk yang menerimanya, umpamanya merupakan pada alat tulis menulis yang banyak dipergunakan orang Indonesia yang diambil dari unsur-unsur kebudayaan barat.

2. Unsur-unsur yang terbukti menenteng faedah besar umpamanya radio transistor yang banyak menenteng kegunaan utamanya selaku alat mass-media.

 

 

Nilai Budaya

Nilai budaya merupakan nilai yang ada dan meningkat di dalam masyarakat. Koentjoroningrat (1984) mengemukakan bahwa nilai budaya itu merupakan tingkat pertama kebudayaan ideal atau adat. Nilai budaya merupakan lapisan paling absurd dan luas ruang lingkupnya. Jadi, nilai budaya merupakan suatu yang dianggap sungguh kuat dan dijadikan pegangan bagi suatu penduduk dalam menyeleksi seseorang berperikemanusiaan atau tidaknya.

 

Suatu tata cara nilai-nilai budaya terdiri atas konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga penduduk perihal hal-hal yang mesti mereka anggap sungguh bernilai dalam hidup. Oleh karena itu, suatu system nilai budaya biasanya berfungsi selaku pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Sistem tata kelakuan insan yang tingkatnya lebih kongkrit, seumpama aturan-aturan khusus, hukum, dan nilai budaya tersebut.

 

Koentjoroningrat (1984: 4) mengungkapkan bahwa nilai budaya dikelompokkan ke dalam lima pola hubungan, yakni: (1) nilai budaya dalam korelasi insan dengan Tuhan, (2) nilai budaya dalam korelasi insan dengan alam, (3) nilai budaya dalam korelasi insan dan masyarakat, (4) nilai budaya dalam korelasi insan dengan orang lain atau sesama, (5) nilai budaya dalam korelasi insan dengan dirinya sendiri.

 

Dalam kenyataan bahwa insan tidak hidup di dalam alam hampa. Manusia hidup selaku insan yang bermasyarakat, sulit dipercayai tanpa kolaborasi dengan orang lain. Secara lahiriah dan batiniah maka insan merupakan makhluk Tuhan yang paling tepat disbanding dengan makhluk lain, karena pada insan selain kehidupan ia juga mempunyai kesanggupan untuk berfikir dan berkarya. Masyarakat merupakan suatu golongan manusia, yang di antara para anggotanya terjadi komunikasi, pertalian, dan kesudahannya saling mensugesti antara satu dengan yang lain. Hal tersebut dijalankan oleh para anggota penduduk dalam suatu golongan karena insan tidak dapat hidup sendiri.

 

Dalam penduduk usang terbentuk segolongan penduduk dengan cara mengikat atau interatif. Dalam penduduk seumpama ini insan tunduk terhadap aturan-aturan dan adat kebiasaan golongan wilayah mereka hidup. Hal ini dijalankan karena mereka menginginkan kehidupan yang stabil, kokoh, dan harmonis. Jika hal itu tercapai, insan dalam penduduk tersebut tidak terlihat peranannya, yang lebih terang terlihat ke luar justru kebersamaannya. Segala macam problem menjadi problem bareng dan mesti dituntaskan bersama.

 

Nilai budaya dalam korelasi insan dengan penduduk merupakan nilai-nilai yang berafiliasi dengan kepentinggan para anggota masyarakat, bukan nilai yang dianggap penting dalam satu anggota penduduk selaku individu, selaku pribadi. Individu atau perseorangan berupaya mematuhi nilai-nilai yang ada dalam penduduk karena beliau berupaya untuk menggolongkan diri dengan anggota penduduk yang ada, yang sungguh mementingkan kepentingan bareng bukan kepentingan diri sendiri.

 

 

Nilai-Nilai Kultural Yang Disepakati Bersama Masyarakat Indonesia Sehingga Menjadi Nilai-Nilai Kultural Nasional Indonesia

 

Nilai-nilai kultural yang disepakati bareng penduduk indonesia sehingga menjadi nilai-nilai kultural nasional Indonesia antara lain: gotong royong, tolong menolong, kekeluargaan, kemanusiaan, dan tenggang rasa. Untuk lebih jelasnya mari kita kaji masing-masing nilai kultur tersebut.

 

A. Gotong Royong

Sebagai nilai-nilai kultural yang disepakati bareng penduduk indonesia sehingga menjadi nilai-nilai kultural nasional Indonesia, gotong royong terdapat di seluruh wilayah Indonesia. Gotong royong selaku suatu ciri khas penduduk tidak terlepas dari eksistensi masyarakatnya selaku individu maupun selaku makhluk sosial. Sebab insan sesuai dengan kualitasnya bisa membangun dirinya yakni insan yang mengenali serta sadar dan mempunyai kesadaran akan kebutuhannya

 

Lalu Apa Makna atau Pengertian Gotong Royong ? Secara umum, pemahaman gotong-royong sanggup didapatkan dalam kamus besar bahasa Indonesia yang menyebutnya selaku “bekerja bareng – sama atau

tolong-menolong, bantu membantu” (Tim Penyusun KBBI, 2002). Sedangkan menurut Koentjaraningrat (1974), gotong royong didefinisikan selaku pengerahan tenaga insan tanpa bayaran untuk suatu proyek atau pekerjaan yang berfaedah bagi biasa atau yang berkhasiat bagi pembangunan.

 

Gotong royong berasal dari kata dalam Bahasa Jawa. Kata gotong sanggup dipadankan dengan kata pikul atau angkat.Kata royong sanggup dipadankan dengan bersama-sama. Makara kata gotong royong secara sederhana berarti mengangkat sesuatu secara bersama-sama atau juga diartikan selaku menjalankan sesuatu secara bersama- sama. Misalnya: mengangkat meja yang dijalankan bersama-sama, membersihkan selokan yang dijalankan oleh warga se RT, dan sebagainya.

 

Jadi, gotong royong mempunyai pemahaman selaku bentuk partisipasi aktif setiap individu untuk ikut terlibat dalam memberi nilai tambah atau positif terhadap setiap obyek, permasalahan atau keperluan orang banyak di sekelilingnya. Partisipasi aktif tersebut bisa berupa sumbangan yang berwujud materi, keuangan, tenaga fisik, mental spiritual, ketrampilan, sumbangan pikiran atau pesan tersirat yang konstruktif, hingga cuma berdoa terhadap Tuhan.

 

Secara konseptual, gotong royong sanggup diartikan selaku suatu versi koordinasi yang disepakati bersama.Koentjaraningrat (1987) membagi dua jenis gotong royong yang dipahami oleh penduduk Indonesia; gotong royong tolong menolong dan gotong royong kerja bakti. Kegiatan gotong royong tolong menolong terjadi pada kegiatan pertanian, kegiatan sekitar rumah tangga, kegiatan pesta, kegiatan perayaan, dan pada peristiwa tragedi atau kematian. Sedangkan kegiatan gotong royong kerja bakti biasanya dijalankan untuk menjalankan sesuatu hal yang sifatnya untuk kepentingan umum, yang dibedakan antara gotong royong atas inisiatif warga dengan gotong royong yang dipaksakan.

 

Sistem tolong-menolong yang kita sebut juga gotong royong memang tidak selamanya diberikan secara rela dan ikhlas. Akan tetapi ada beberapa tingkat kerelaan tergantung dari jenis kegiatannya dalam kehidupan social. Dengan demikian sanggup kita bedakan antara : gotong royong dalam kegiatan pertanian, gotong royong dalam kegiatan-kegiatan sekitar rumah tangga, gotong royong dalam merencanakan pesta dan upacara dan juga gotong royong dikala terjadi musibah.

 

Konsep gotong royong juga sanggup dimaknai dalam konteks pemberdayaan penduduk karena dapat menjadi modal sosial untuk membentuk kekuatan kelembagaan di tingkat komunitas, penduduk negara serta penduduk lintas bangsa dan negara Indonesia dalam merealisasikan kesejahteraan. Hal tersebut juga dikarenakan di dalam gotong royong terkandung makna collective action to struggle, self governing, common goal, dan sovereignty.

 

Nilai gotong royong merupakan semangat yang diwujudkan dalam bentuk sikap atau langkah-langkah individu yang dijalankan tanpa pamrih (mengharap balasan) untuk melaksanakan sesuatu secara bersama-sama demi kepentingan bareng atau individu tertentu. Misalnya; petani secara bersama-sama membersihkan susukan irigasi yang menuju sawahnya, penduduk bergotong royong membangun rumah warga yang terkena angin puting beliung, dan sebagainya.

 

Bahkan dalam sejarah kemajuan masyarakat, kegiatan bercocok tanam seumpama mengolah tanah hingga memetik hasil (panen) dijalankan secara gotong royong bergiliran pada masing-masing pemilik sawah.Budaya gotong royong merupakan cerminan sikap yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia sejak zaman dahulu. Bilamana dijalankan kajian di seluruh wilayah Indonesia, maka akan didapatkan praktek gotong royong tersebut dengan banyak sekali macam ungkapan dan bentuknya, baik selaku nilai maupun selaku sikap

 

Perilaku penduduk dalam kegiatan gotong royong menampilkan bentuk solidaritas dalam golongan penduduk tersebut.Gotong royong merupakan ciri budaya bangsa Indonesia yang berlaku secara bebuyutan sehingga membentuk sikap sosial yang positif dalam tata nilai kehidupan sosial. Nilai tersebut memunculkan kegiatan gotong royong senantiasa terbina dalam kehidupan komunitas selaku suatu warisan budaya yang patut untuk dilestarikan.

 

Menurut Bintarto (1980) bahwa gotong royong merupakan sikap sosial yang kongkrit dan merupakan suatu tata nilai kehidupan sosial yang turun temurun dalam kehidupan di desa – desa Indonesia.Tumbuh suburnya tradisi kehidupan gotong royong di pedesaan tidak lepas karena kehidupan pertanian membutuhkan koordinasi yang besar dalam upaya mengolah tanah, menanam, memelihara hingga memetik hasil panen.

 

B. Tolong menolong

Sebagai nilai-nilai kultural yang disepakati bareng penduduk Indonesia sehingga menjadi nilai-nilai kultural nasional Indonesia, tolong menolong juga merupakan ciri khas budaya bangsa. Secara biasa pemahaman tolong menolong bisa dairtikan sama dengan gotong royong. Namun ungkapan tolong menolong, lebih universal dari gotong royong karena tolong-menolong ada dan dipakai nyaris di seluruh penduduk dunia. Konep tolong menolong melebihi sekat-sekat perbedaan baik dari pihak penolong maupun yang ditolong. Misalnya terkait Bantuan terhadap korban tragedi tsunami Aceh tahun 2004. Walaupun warga Aceh yang menjadi korban, tetapi sumbangan tidak cuma tiba dari mereka yang sesama warga Aceh, Sumatera, Indonesia, Melayu, atau sesama muslim (mayoritas warga Aceh merupakan Muslim), bahkan dari penduduk dunia. Peristiwa tsunami Aceh sudah menggerakkan sumbangan dari seluruh penjuru dunia. Relawan-relawan yang berlawanan dalam kewarganegaraan, bahasa, budaya, suku, warna kulit, agama, orientasi politik, turun tangan menolong korban. Setidaknya tidak kurang dari 35 negara terlibat menolong korban tsunami Aceh.

 

Lalu apa pemahaman tolong menolong ? Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata “tolong” diartikan dengan suatu kegiatan minta tolong yang dalam hal ini disamakan dengan kata “bantu”. Sedangkan menolong didefinisikan dengan suatu kegiatan menolong mengendorkan beban (penderitaan, kesukaran dan sebagainya).

 

Bangsa Indonesia selain dipahami mempunyai penduduk yang multikultural dan plural, juga sungguh menjunjung adat tolong-menolong. Artinya, penduduk menempatkan tolong–menolong selaku preferensi etis dalam kehidupan. Keragaman identitas penduduk yang demikian luas dan berbeda-beda menyiratkan interaksi yang tinggi antar identitas. Di dalamnya, sikap menolong tidak cuma berjalan antar golongan yang homogen, tetapi juga melibatkan interaksi antar golongan yang berbeda-beda. Tolong–menolong antar golongan yang berlawanan menjadi ukuran adanya korelasi yang serasi pada penduduk yang plural dan multikultural seumpama Indonesia. Menurut Dovidio (1997)) bahwa korelasi antara golongan yang sehatdiindikasikan oleh tingginya sikap menolong. Selain itu, ditunjukkanjuga dengan rendahnya bias ingroup, etnosentrisme, dan praduga negatif terhadap golongan lain.

 

Dalam realitasnya perwujudan tolong-menolong tidak semuda yang diucapkan. Sebagai salah satu pola dalam Commuter line gerbong perempuan di Jakarta. Edwin (2014) mewartakan bahwa banyak penumpang hamil yang tidak menemukan kursi. Seringkali penumpang lain tidak mau menyerah menampilkan kursinya pada perempuan hamil, akal-akalan tidak tahu, dan gres menampilkan wilayah duduknya kalau ada yang meminta. Dan banyak kendala lain yang lain seumpama kendala penolakan pemakaman janazah yang berlawanan aliran, kendala penolakan pemakaman janazah yang terkonfirmasi Covid-19 dan lainnya. Lalu bagaimana menurut Kamu?

 

Faktor paling penting yang mendorong sesorang dalam melaksanakan tolong menolong merupakan tenggang rasa atau keperdulian. Pada biasanya seseorang yang peduli akan senantiasa sarat perhatian terhadap eksistensi orang lain. Prilaku peduli antara lain ditunjukakan dengan: (1) kebaikan hati terhadap sesama; (2) Empati dan merasa terharu terhadap penderitaan orang lain; (3) Memaafkan, tidak pemarah dan tidak pedendam; (4) Murah hati dan bersedia memberi pertolongan; (5) Sabar terhadap kekurangan orang lain; dan (6) Peduli terhadap keberlanjutan kehidupan umat manusia.

 

C. Kekeluargaan

Sebagai nilai-nilai kultural yang disepakati bareng penduduk Indonesia sehingga menjadi nilai-nilai kultural nasional Indonesia, Kekeluargaan menempel selaku ciri khas banga Indonesia. Kekeluargaan berasal dari kata keluarga. Keluarga sendiri berasal dari bahasa sansekerta yakni ”kulawarga” yang berarti anggota. Kekeluargaan sendiri menggambarkan kehidupan insan yang lebih dari satu orang, dan terdapat ikatan bathin yang mengikat contohnya, kakek nenek dengan ayah ibu serta anak-anaknya tergolong cucunya. Makara secara singkat kekeluargaan sanggup diartikan selaku korelasi yang menampilkan keakraban seumpama suatu keluarga.

 

Kekeluargaan merupakan interaksi antar insan yang membentuk rasa saling mempunyai dan terhubung satu sama lain, walaupun kekeluargaan mempunyai banyak arti lain, dan hingga dikala ini arti tolong-menolong dari kekeluargaan masih terus diperdebatkan oleh para antropolog. Kekeluargaan juga sanggup dipakai untuk menghubungkan luasnya pergaulan insan ke dalam satu tata cara yang koheren yang sanggup membangun korelasi dengan orang lain.

 

Bahkan karena kekeluargaan menempel selaku ciri khas budaya banga Indonesia, para pendiri bangsa “founding father” sudah memasukkan asas kekeluargaan ke dalam konstitusi yakni dalam Pasal 33 ayat (1) UUD Tahun 1945 “Perekonomian disusun selaku kerja keras bareng menurut asas kekeluargaan.” Asas kekeluargaan sanggup dikenali pada koperasi yang merupakan cerminan dari Pasal 33 ayat (1) UUD Tahun 1945.

 

Kekeluargaan dalam penduduk berarti anggota penduduk dianggap satu selaku keluarga besar. Sedangkan kekeluargaan dalam bernegara menempatkan bahwa bangsa Indonsia mesti dianggap satu keluarga besar, dan Negara kekeluargaan Idonesia rakyatnya merasa dirinya selaku satu keluarga besar Indonesia. Dalam bernegara dengan asas kekeluargaan pastinya semua rakyatnya baik yang merasa secara biasa dikuasai maupun minoritas mempunyai rasa tanggungjawab yang serupa dalam menjaga Negara dari segala bahaya sehingga walaupun terdapatperbedaan ke dalam keluarga tetapi kalau berafiliasi dengan Negara luar maka akan selaku satu kesatuan.

 

 

D. Kemanusiaan

Salah satu ciri khas budaya Indonesia yang lain merupakan menjungjung tinggi kemanusiaan. Kemanusiaan merupakan sifat hakiki insan yang membedakan insan dengan makhluk lain. Sebagaimana dikenali salah satu yang membedakan insan dengan mahkluk- mahkluk lain di bumi merupakan martabat insan karena insan mempunyai nilai kemanusiaan yang inheren.

 

Prof. Hembing (2013) menjelaskan; kemanusiaan merupakan tata cara pikiran dan langkah-langkah yang memberi perhatian menurut nilai dan kepentingan dengan mencurahkan hidup cuma untuk kemakmuran umat manusia. Kemanusiaan pertanda kelembutan manusia, rasa belas kasih dan sikap mencintai terhadap sesama, lingkungan, hewan walaupun dalam kondisi menderita dan sengsara. Pengertian kemanusiaan meliputi segala sifat, pandangan, cara berpikir dan perbuatan yang karena kodratnya, insan mesti memilikinya, karena rasa kemanusiaan merupakan dorongan batin untuk melahirkan suatu sikap atau perbuatan kemanusiaan. Seseorang sanggup bertindak dan berpikir manusiawi atau menurut prinsip-prinsip kemanusiaan apabila mempunyai moral yang baik. Orangyang bermoral tidak baik pasti sulit dipercayai mempunyai sikap dan perbuatan kemanusiaan, karena perbuatan kemanusiaan segalanya bernilai baik.

 

Nilai-nilai kemanusiaan tercermin pada budaya Indonesia. Misalnya pada pada kehidupan penduduk Jawa yang dipahami dengan ungkapan beberapa falfasah yang mengharapkan insan bertingkah ke arah ketenteraman hidup dan bukan pertentangan terus menerus. Sikap dan sikap penduduk Jawapun perlu dilandasi kehendak untuk menghiasi dunia dan bukan menghancurkan tatanan dunia. Adapun cerminan beberapa falsafah tersebut seumpama diungkapkan di bawah ini.


Pertama, sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan hidup manusia), berarti kesadaran akan asal mula (sangkan) dan tujuan (paran) hidup. Bagi orang Jawa segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Tuhan dan mesti kembali kepada-Nya. Maka perlu suatu kerja keras atau cara agar insan bisa dan patut hingga ke asalnya, yakni Tuhan. Orang Jawa menekankan laris prihatin untuk mencari kesempurnaan hidup, umpamanya puasa mutih atau puasa ngebleng, kungkum di sungai. Mereka mempunyai timbunan tata cara filosofis berupa endapan pengalaman para pujangga dan leluhur yang berupaya mencari arti kehidupan manusia, asal-usul, tujuan akhir, dan korelasi insan dengan Tuhan. Pakubawana V menampilkan pesan, dalam Serat Centhini V: 279, yang berisi (Endraswara, 2003): “Awya lunga yen tan wruha, ingkang pinaranan ing purug, musuh sira away nadhah, yen tan wruha rasanipun, ywa nganggo-anggo siraku, yen tan wruh raning busana, weruha atakon tuhu, bisane tetiron nyata.”

 

Kutipan tersebut mengarahkan insan Jawa untuk senantiasa waspada dalam menjalankan hakekat hidup, serta menyadari dengan benar-benar asal mula (sangkan) dan tujuan (paran) hidupnya. Falsafah ini hendak menampilkan bahwa hidup insan Franciscus Xaverius Wartoyo di dunia itu sekedar mampir ngombe (singgah untuk minum), karena pada hakikatnya insan itu berasal dari Tuhan dan akan kembali atau menuju pada Tuhan.

 

Kedua, Manunggaling kawula Gusti (kesatuan insan dengan Tuhan). “Kawula-Gusti” merupakan keyword dalam pemikiran kejawen. Manusia mesti bersikap dhepe-dhepe, mendekat pada Tuhan. Manunggaling kawula Gusti akan bikin ketenangan batin, yakni titik temu yang harmoni antara insan dengan Tuhannya. Falsafah ini juga merupakan perwujudan sikap manembah (menyembah, hormat). Manembah adalah menghubungkan diri secara sadar mendekat, menyatu, dan manunggal (bersatu) dengan Tuhan. Manusia pada hakekatnya sungguh dekat atau bahkan sawiji (manunggal) dengan Tuhan. Hanya karena ulah dan langkah-langkah insan sendiri dalam perjalanan hidupnya jarak dengan Tuhan menjadi ada kelir (batas). Hal ini menjadi kiprah insan untuk senantiasa mendekat dan menyatu dengan Tuhan (Endraswara, 2003).

Ketiga, memayu hayuning bawana (menjaga kemakmuran dan keamanan dunia). Memayu hayuning bawana merupakan tabiat perbuatan yang senantiasa menjaga, mengusahakan, bikin kemakmuran dan keamanan dunia. Falsafah ini merupakan keharusan luhur sikap hidup insan Jawa, yakni upaya untuk berbuat baik terhadap sesama. Dunia sekitar merupakan ciptaan Tuhan yang patut dihiasi dengan perbuatan baik. Jika insan tidak dapat berbuat demikian, maka akan mejadi keluhan dan penghalang di saat kelak menghadap Tuhan, karena mereka belum bisa membersihkan “kotoran hidup”. Ketenteraman dan kemuliaan merupakan dasar hidup insan Jawa, dan sikap memayu hayuning bawana merefleksikan kepekaan insan Jawa dalam menghadapi lingkungan hidupnya. Kepekaan hati yang higienis menjadi modal penyeimbang batin, sehingga insan mempunyai ketajaman rasa dan penghayatan hidup yang mendalam. Dengan penghayatan itulah insan akan jauh dari rasa negatif: drengki, srei, jail, methakil. Sikap memayu hayuning bawana ini mengarahkan insan Jawa untuk senantiasa mempunyai kesadaran bahwa seluruh ciptaan Tuhan merupakan komponen hidup yang mesti dijaga dan diselamatkan agar tercipta kehidupan yang harmoni.

 

E. Tenggang rasa

Ciri khas budaya Indonesia yang lain merupakan tenggang rasa. Tenggang rasa dipahami juga ungkapan sikap toleransi ini di dalam penduduk dipergunakan untuk saling mengerti keistimewaan dan kekurangan, kekuatan dan kehabisan masing-masing, sehingga segala jenis bentuk kesalahpahaman sanggup dihindari. Sikap tenggang rasa tidak berarti membenarkan persepsi yang dibiarka itu, tetapi mengakui keleluasaan serta hak-hak asasi.

 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Istilah tenggang rasa merupakan sanggup (ikut) menghargai (menghormati) perasaan orang lain. Sikap tenggang rasa juga disebut Tepo Seliro merupakan suatu ungkapan dari Bahasa Jawa, yang memiliki arti kita mencicipi apa yang orang lain rasakan. Sikap tenggang rasa merupakan suatu sikap hidup dalam ucapan, perbuatan, dan tingkah laris yang merefleksikan sikap menghargai dan menghormati orang lain. Sikap tenggang rasa merupakan sikap yang mempunyai nilai kebijaksanaan pekerti yang baik. Dengan mempunyai sikap tenggang rasa ini, kita bisa menempatkan diri pada lingkungan pergaulan dengan benar sehingga tercipta situasi yang rukun, harmonis, serasi, selaras, dan seimbang.

 

Pengertian Tenggang Rasa Menurut Para Ahli

·          Soetjipto, tenggang rasa merupakan sikap positif yang diperbuat oleh seseorang atas korelasi sosialnya dengan masyarakat. Peranan inilah menjadi insan lebih menghargai antar sesama dengan perwujudan tingkah laku, ucapan, dan tindakan.

·          Sjafioedin, tenggang rasa merupakan bentuk sikap sosial yang dijalankan seseorang atas hidup bermasyarakat yang mengedepankan serta memprioritaskan ihwal asas norma dan hukum, dalam upaya penghargaan terhadap sesama manusia.

·          Nawawi, tenggang rasa merupakan sikap positif yang dijalankan seseorang atas dampak komunikasi dengan sesama insan dengan implementasi berupa tutur kata halus, sopan, dan sarat toleransi hingga kesudahannya menjadi perwujudan dalam toleransi.

 

Bentuk tenggang rasa terlihar dari menghormati hak-hak orang lain, kerelaan menolong sobat yang mengalami musibah, kesediaan menjenguk sobat yang sedang sakit, kemauan mengontrol sikap, perbuatan, dan tutur kata yang sanggup menyinggung atau melukai perasaan orang lain dan lainnya.

 

Adapaun ciri tenggang rasa dalam kehidpun bermasyarakat, antara lain: 1) Perkataan, menjadi identitas dari sikap tenggang rasa ini merupakan perkataan yang dijalankan seseorang dalam keseharian. Ciri ini lebih dekat pada bentuk komunikasi antar manusia, yang dijalankan secara perorangan ataupun dijalankan dalam golongan sosial. 2) Tingkah Laku, langkah-langkah yang menjadi ciri tenggang rasa merupakan langkah-langkah positif yang merealisasikan keselarasan dalam korelasi sosial masyarakat. Perwujudan ini umpamanya saja ihwal tingkah laris dalam keseharian, yang memegang erat budaya kesopanan dengan menundukkan tubuh di saat melalui orang tua. 3) Perbuatan, ciri tenggang rasa yang lain senantiasa berkenaan dengan perbuatan antar sesama insan yang kemudian menjadi struktur analisa orang lain terhadap dirinya. Langkah ini menjadi terakhir, karena akan tertanam sikap yang berlawanan antara satu orang dengan orang lainnya.

 

Tenggang rasa terdapat dalam budaya bangsa Indonesia. Contoh tenggang rasa antara lain sanggup dilihat pada budaya Melayu (Riau). Melayu mempunyai banyak sekali nilai-nilai toleransi yang diterjemahkan dalam berbagai kosa kata seumpama nilai keterbukaan, kemajemukan, persebatian, tenggang rasa, kegotong-royongan, senasib-sepenanggungan, malu, bertanggung jawab, adil dan benar, berani dan tabah, arif dan bijaksana, musyawarah dan mufakat, mempergunakan waktu, berpandangan jauh ke depan, tekun dan tekun, nilai amanah,ilmu pengetahuan, Takwa terhadap Tuhan, dan lain sebaginya.

 

Kenyataan pula bahwa penulisan bahasa dan sastra Melayu, dan khususnya Melayu Riau yakni Raja Ali Haji sudah berucap dalam karya terkenalnya Gurindam XII pasal ke lima bahwa : “jika hendak mengenal orang yang berbangsa, lihat terhadap kebijaksanaan dan bahasa”. Singkatnya kebijaksanaan bahasa menampilkan bangsa. Pada segi lain bahwa kebudayaan pada pada dasarnya berakar pada tata cara nilai-nilai yang dianut dan diyakini oleh masyarakatnya utamanya Islam”. Tenggang rasa dalam kehidupan orang melayu disebut sifat “tenggang menenggeng” atau “rasa merasa”. Sifat ini menduduki posisi penting dalam kehidupan melayu, orang yang bertenggang rasa dianggap orang yang budiman, baik hati, tahu diri dan tahu memegang adat dan agama, sebaliknya orang yang tidak bertenggang rasa dianggap orang yang tidak beperasaan, tak tahu diri dan disebut dengan nafsu nafsi, orang yang mementingkan diri sendiri. Orang seumpama ini akan dilecehkan dalam masyarakatnya dan direndahkan dalam pergaulan.

 

Dengan sikap tenggang rasa orang melayu bersifat terbuka, suka berbuat baik terhadap orang tanpa menatap asal undangan atau suku bangsa dan agamanya, suka mengorbankan harta, tenaga dan pikirannya untuk menolong orang dan menjaga perasaan orang lain, tidak mau berbuat semena-mena, berpikiran panjang dan luas pandangan, peka terhadap orang lain. Pancaran sikap tenggang rasa ini secara terang kelihatan dalam kehidupan orang melayu, menurut adat dan tradisinya orang melayu suka menyerah dan menjaga ketertiban masyarakat, dengan tenggang rasa tidak akan terjadi pertengkaran dan silang sengketa antara anggota masyarakat, dengan tenggang rasa tidak akan ada persinggungan terlebih pergaduhan, dalam ungkapan “kalau hidup bertenggang rasa, pahit manis sama dirasa, kalau hidupa rasa merasa, jauhlah segala silang sengketa”.

 

Dalam ungkapan lain “kalau hidup bertenggang rasa, senang dan sukar sama dirasa”, ungkapan ini menunjukan persepsi orang melayu menjunjung tinggi kebersamaan, menjauhkan kesenjangan sosial, pemerataan pendapatan dan kenaikan persatuan dan kesatuan masyarakatnya. Berikut ungkapan melayu terkait dengan tenggang rasa yang dihidangkan oleh Tenas Effendi dalam bukunya kegotongroyongan dan tenggang rasa.

1. Jauh jenguk menjenguk, Dekat jelang menjelang

2. Mendapat sama berlaba, Hilang sama merugi

3. Lebih bagi membagi, Kurang isi mengisi

4. Makan jangan menghabiskan, minum jangan mengeringkan

5. Lapang dada hilang sengketa, lapang hati hilangkan iri

6. Berkuku jangan mencakar, bertaring jangan mengerkah, berduit jangan menghina.

7. Telunjuk jangan bengkok, kelingking jangan berkait, pengecap jangan menyalah, perangai jalan merempai, mitra jangan dimakan, kerabat jangan didera

8. Wahai kerabat elokkan laku, sesama umat bantu membantu, jauhkan musuh elakkan seteru, dengki mendengki hendaklah malu

9. Wahai kerabat dengarlah pesan, sesama makhluk berbaik-baikan, mana yang salah secepatnya betulkan, mana yang kusut cepat selesaikan

10. Supaya akur sekampung halaman, teguh hati menentukan iman, sama terbuka telapak tangan, sama ringan kaki dan tangan, sama menjaga pantangan larangan, yang kalah tidak diludah, yang lesi tidak dicaci, yang kusut diselesaikan, yang keruh dijernihkan, yang kesat diampelas, yang berbongkol ditarah, yang bengkok diluruskan, yang cenderung ditegakan, yang jelek dibaikkan, fitnah jangan dijamah, dengki jangan dititi, khianat jangan diangkat, mitra sama dipadan, kawan sama disukat, kerabat sama dibela.

Dan pastinya masih banyak pola sikap tengang rasa dalam budaya bangsa Indonesia lainnya.


Demikian pembahasan kita beberapa nilai-nilai kultural yang disepakati bareng Masyarakat Indonesia sehingga menjadi nilai-nilai kultural nasional Indonesia. Semoga uraian ini bisa memberi donasi untuk menjaweab pertanyaan apa nilai-nilai kultural yang disepakati bareng Masyarakat Indonesia ? dan apa nilai-nilai kultural nasional Indonesia. Semoga ada manfaatnya, terima kasih. 


= Baca Juga =