Penjelasan Aturan Ziaroh Bagi Kaum Wanita

By | Februari 11, 2016
Ketahuilah hamba-hamba Allah, sadar atau tidak sadar, kita semua ketika ini sama-sama sedang menuju garis simpulan kehidupan kita di dunia,  meskipun jaraknya berbeda-beda setiap orang. Ada yang cepat, ada yang lama. Tetapi, perlahan tapi pasti, setiap orang menuju garis simpulan kehidupannya di dunia, itulah kematian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan mencicipi mati. Dan sesungguhnya pada hari simpulan zaman sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali ‘Imran : 185)
Setelah mati, seorang hamba hanya tinggal memetik apa yang selama ini ia tanam di dunia, tidak ada kesempatan kedua untuk menambah amal. jikalau kebaikan yang ia tanam, itulah yang akan ia panen. Jika keburukan yang ia tanam, maka dialah yang akan merasakannya sendiri. Oleh lantaran itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk banyak-banyak mengingat kematian. Beliau bersabda,
“أكثروا ذكر هازم اللذات” يعني : الموت.
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian) ”
Dan di antara cara untuk mengingat kematian ialah dengan berziarah kubur. Banyak sekali manfaat yang sanggup dipetik dari amalan berziarah ke kubur. 
Wanita ialah saudara kandung lelaki. Maka apa yang dibolehkan bagi lelaki maka dibolehkan pula bagi wanita. Dan apa yang disunnahkan bagi lelaki maka disunnahkan pula bagi wanita, kecuali hal-hal yang dikecualikan oleh dalil yang bersifat khusus.
Dalam duduk kasus perempuan ziarah ke kubur tidak ada dalil khusus yang mengharamkan perempuan berziarah kubur dengan pengharaman secara umum. Bahkan diriwayatkan dalam ‘Shahih Muslim’ bahwa Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha tidur bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia Shallallahu ‘alaihi wa sallam belakang layar dari kawasan tidurnya menuju pekuburan Baqi’ untuk menawarkan salam kepada mereka (jenazah-jenazah kaum muslimin -pent-). Dan Aisyah pun ikut membuntuti di belakang dia secara diam-diam.
Ketika dia Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan pelan, iapun pelan, ketika dia cepat, iapun cepat, hingga hingga kembali ke kawasan tidurnya. Kemudian dia masuk ke kamarnya dan melihat Aisyah dalam keadaan terengah-engah. Beliau berkata kepada Aisyah : “Ada apa denganmu wahai Aisyah ? Apakah engkau curiga bahwa Allah dan Rasul-Nya akan curang terhadapmu ? Sesungguhnya tadi Jibril mendatangiku dan berkata : “Sesungguhnya Rabbmu memberikan salam kepadamu dan memerintahkanmu untuk mendatangi Baqi’ dan memintakan ampunan untuk mereka (ahli kubur)”.
Dalam suatu riwayat lain di luar As-Shahih, Aisyah berkata : Apalah saya bila dibandingkan denganmu wahai Rasulullah ! Kemudian lanjut Aisyah : -sebagaimana dalam As-Shahih- “Wahai Rasulullah! Jika saya berziarah kubur maka apa yang harus saya ucapkan ? Beliau bersabda : “Ucapkanlah …. (beliau mengucapkan doa salam kepada andal kubur sebagaimana yang telah kita kenal).
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ
“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang tiba belakangan. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.”
Wanita boleh menziarahi kubur tanpa membedakan apakah dalam keadaan haid, nifas, ataukah suci. Haid atau nifas bukan udzur yang menghalangi perempuan untuk berziarah kubur. Ziarah kubur tidak sanggup disamakan dengan ibadah menyerupai shalat, puasa, Thawaf, dan membaca Al-Quran yang disyaratkan suci dari haid/nifas.
perempuan yang tiba bulan boleh kok masuk dipemakaman,,
yang tidak boleh itu berdiam diri dimasjid asal gak baca alqur’an dengan nyaring maka tahlil pun juga tidak apa2
اجمع العلماء على جواز الذكر بالقلب واللسان للمحدث والجنب والحائض والنفاس وذلك فى التسبيح والتهليل والتحميد والتكبير والصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم والدعاء 
وغير ذلك
Ulama’ setuju atas diperbolehkannya dzikir lewat hati dan ekspresi bagi orang yang berhadas kecil, orang junub, haid dan nifas, dan hal itu pada tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan sholawat pada Rosulallah saw juga boleh berdoa dan lain-lain. (Al-adzkar hal. 10)‎
Dalil yang memperlihatkan kebolehan perempuan berziarah kubur ialah hadis berikut;
صحيح مسلم (5/ 107)
عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا
dari Ibnu Buraidah dari bapaknya ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dahulu saya melarang kalian untuk ziarah kubur, maka kini ziarahilah. (H.R.Muslim)
Perintah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَزُورُوهَا  (maka kini ziarahilah) menggunakan Wawu Jama’ah, yakni karakter wawu yang memperlihatkan Mukhothob (obyek seruan) ialah sekelompok orang yang bersifat umum, tanpa membedakan lelaki  ataukah wanita.  Oleh lantaran itu lafadz ini memperlihatkan perempuan boleh menziarahi kubur sebagaimana lelaki disyariatakan menziarahi kubur.
Riwayat lain dari Ibnu Majah, juga isinya semakna dengan hadis riwayat Muslim di atas. Ibnu Majah meriwayatkan;
سنن ابن ماجه (5/ 43)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ
dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ziarahilah kubur, sesungguhnya ia sanggup mengingatkan kalian dengan akhirat. ” (H.R.Muslim)
Adapun riwayat yang melarang perempuan menziarahi kubur, contohnya riwayat berikut ini;
سنن الترمذى (4/ 213)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَوَّارَاتِ الْقُبُورِ
dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat perempuan peziarah  kuburan. (H.R. At-Tirmidzi)
Riwayat ini sanggup difahami bahwa larangan tersebut yang dimaksud ialah larangan di masa-masa awal Islam, yakni ketika Niyahah (ratapan) masih menjadi kebiasaan masyarakat Arab dan masih akrab masanya dengan periode gres kaum Muslimin, padahal Islam mengharamkan Niyahah. Islam mengharamkan ratapan, yakni kesedihan hati dan tangisan air mata jawaban kerabat/orang yang dicintai meninggal yang disertai ucapan-ucapan yang memperlihatkan tidak ridha terhadap ketentuan Allah. Setelah kaum muslimin jauh dari kebiasaan tersebut, maka aturan larangan menziarahi kubur itu dicabut (dinasakh) sehingga kaum muslimin boleh menziarahi kubur setelah sebelumnya sempat dilarang. Namun Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ketika membolehkan ziarah kubur, dia tetap berpesan semoga menjaga ekspresi ketika menziarahi kubur. 

Imam Malik meriwayatkan;
موطأ مالك (3/ 428)
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
أَنَّهُ قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَقَدَّمَ إِلَيْهِ أَهْلُهُ لَحْمًا فَقَالَ انْظُرُوا أَنْ يَكُونَ هَذَا مِنْ لُحُومِ الْأَضْحَى فَقَالُوا هُوَ مِنْهَا فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ أَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْهَا فَقَالُوا إِنَّهُ قَدْ كَانَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَكَ أَمْرٌ فَخَرَجَ أَبُو سَعِيدٍ فَسَأَلَ عَنْ ذَلِكَ فَأُخْبِرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الْأَضْحَى بَعْدَ ثَلَاثٍ فَكُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَادَّخِرُوا وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ الِانْتِبَاذِ فَانْتَبِذُوا وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا
يَعْنِي لَا تَقُولُوا سُوءًا
Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Rabi’ah bin Abu Abdurrahman dari Abu Sa’id Al Khudri Bahwa ia gres tiba dari suatu perjalanan, kemudian keluarganya menyuguhkan daging kepadanya. Abu Sa’id kemudian berkata; “Lihatlah ini, apakah ini daging kurban?” Mereka menjawab; “Ya, ini ialah daging kurban.” Abu Sa’id berkata; “Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarangnya?” Mereka menjawab; “Telah ada perintah yang lain dari Rasulullah Shalla Allahu ‘alaihi wa sallam setelah kepergianmu.” Abu Sa’id kemudian keluar dan bertanya mengenai hal itu, kemudian dia diberi tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saya telah melarang kalian memakan daging kurban setelah tiga hari, kini makanlah, sedekahkanlah dan simpanlah sisanya. Saya juga telah melarang kalian menyimpan perasan anggur, kini lakukan hal itu, dan setiap yang memabukkan itu haram. Saya juga telah melarang kalian untuk berziarah kubur, kini ziarahlah dan janganlah kalian menyampaikan ucapan yang buruk (saat berziarah) .” (H.R.Malik)
Dalil yang menguatkan bahwa larangan menziarahi kubur bagi perempuan telah dinasakh ialah hadis berikut ini;
صحيح مسلم (5/ 102)
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ قَيْسِ بْنِ مَخْرَمَةَ بْنِ الْمُطَّلِبِ
أَنَّهُ قَالَ يَوْمًا أَلَا أُحَدِّثُكُمْ عَنِّي وَعَنْ أُمِّي قَالَ فَظَنَنَّا أَنَّهُ يُرِيدُ أُمَّهُ الَّتِي وَلَدَتْهُ قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ أَلَا أُحَدِّثُكُمْ عَنِّي وَعَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْنَا بَلَى قَالَ قَالَتْ لَمَّا كَانَتْ لَيْلَتِي الَّتِي كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا عِنْدِي انْقَلَبَ فَوَضَعَ رِدَاءَهُ وَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عِنْدَ رِجْلَيْهِ وَبَسَطَ طَرَفَ إِزَارِهِ عَلَى فِرَاشِهِ فَاضْطَجَعَ فَلَمْ يَلْبَثْ إِلَّا رَيْثَمَا ظَنَّ أَنْ قَدْ رَقَدْتُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ رُوَيْدًا وَانْتَعَلَ رُوَيْدًا وَفَتَحَ الْبَابَ فَخَرَجَ ثُمَّ أَجَافَهُ رُوَيْدًا فَجَعَلْتُ دِرْعِي فِي رَأْسِي وَاخْتَمَرْتُ وَتَقَنَّعْتُ إِزَارِي ثُمَّ انْطَلَقْتُ عَلَى إِثْرِهِ حَتَّى جَاءَ الْبَقِيعَ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ انْحَرَفَ فَانْحَرَفْتُ فَأَسْرَعَ فَأَسْرَعْتُ فَهَرْوَلَ فَهَرْوَلْتُ فَأَحْضَرَ فَأَحْضَرْتُ فَسَبَقْتُهُ فَدَخَلْتُ فَلَيْسَ إِلَّا أَنْ اضْطَجَعْتُ فَدَخَلَ فَقَالَ مَا لَكِ يَا عَائِشُ حَشْيَا رَابِيَةً قَالَتْ قُلْتُ لَا شَيْءَ قَالَ لَتُخْبِرِينِي أَوْ لَيُخْبِرَنِّي اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي فَأَخْبَرْتُهُ قَالَ فَأَنْتِ السَّوَادُ الَّذِي رَأَيْتُ أَمَامِي قُلْتُ نَعَمْ فَلَهَدَنِي فِي صَدْرِي لَهْدَةً أَوْجَعَتْنِي ثُمَّ قَالَ أَظَنَنْتِ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قَالَتْ مَهْمَا يَكْتُمِ النَّاسُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ نَعَمْ قَالَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي حِينَ رَأَيْتِ فَنَادَانِي فَأَخْفَاهُ مِنْكِ فَأَجَبْتُهُ فَأَخْفَيْتُهُ مِنْكِ وَلَمْ يَكُنْ يَدْخُلُ عَلَيْكِ وَقَدْ وَضَعْتِ ثِيَابَكِ وَظَنَنْتُ أَنْ قَدْ رَقَدْتِ فَكَرِهْتُ أَنْ أُوقِظَكِ وَخَشِيتُ أَنْ تَسْتَوْحِشِي فَقَالَ إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَ أَهْلَ الْبَقِيعِ فَتَسْتَغْفِرَ لَهُمْ قَالَتْ قُلْتُ كَيْفَ أَقُولُ لَهُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُولِي السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ
dari Muhammad bin Qais bin Makhramah bin Al Muthallib bahwa pada suatu hari ia berkata, “Maukah kalian saya ceritakan (hadits) dariku dan dari ibuku?” -maka kami pun menyangka bahwa yang ia maksud dengan ibunya ialah Ibu yang telah melahirkannya- Ia berkata; Aisyah berkata, “Maukah kalian saya ceritakan hadits dariku dan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” kami menjawab, “Ya, mau.” Aisyah berkata; Pada suatu malam ketika giliran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumahku, setelah dia menanggalkan pakaiannya, meletakkan terompahnya akrab kaki dan membentangkan pinggir jubahnya di atas kasur, dia lantas berbaring. Setelah beberapa usang kemudian dan barangkali dia menyangkaku telah tidur, dia mengambil baju dan terompahnya, dibukanya pintu perlahan-lahan dan kemudian ditutupnya kembali perlahan-lahan. Menyaksikan dia menyerupai itu, kukenakan pula bajuku dan kututup kepalaku dengan kain, kemudian saya mengikuti dia dari belakang hingga hingga di Baqi’. Ketika hingga di sana dia berdiri agak lama, kemudian dia mengangkat kedua tangannya tiga kali, sehabis itu dia berbalik pulang. Aku pun berbalik pula mendahului beliau. Kalau dia berjalan cepat, maka saya pun berjalan cepat-cepat. Bila dia berlari kecil, saya pun demikian. Ketika dia sampai, saya pun sudah hingga lebih dulu dari beliau. Kemudian saya masuk ke dalam rumah dan eksklusif tidur. Setelah itu, dia masuk dan bertanya: “Kenapa kau wahai Aisyah? Kudengar nafasmu kembang kempis.?” Jawabku, “Tidak ada apa-apa wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Ceritakanlah kepadaku atau kalau tidak Allah -Yang MahaLembut dan Mengetahui- akan menceritakannya padaku.” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, demi bapak dan ibuku.” Lalu kuceritakanlah kepada dia apa yang bekerjsama terjadi. Beliau berkata, “Kalau begitu, kamulah kiranya bayangan hitam yang saya lihat di depanku tadi?” Saya menjawab, “Ya, benar wahai Rasulullah.” Maka dia pun mendorong dadaku dengan keras hingga terasa sakit bagiku. Kemudian dia berkata, “Apakah kau masih curiga, Allah dan Rasul-Nya akan berbuat curang kepadamu?” jawabku, “Setiap apa yang dirahasiakan manusia, niscaya Allah mengetahuinya pula.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan kenapa dia hingga keluar. Beliau bercerita: “Tadi Jibril datang, tapi lantaran ia melihat ada kamu, dia memanggilku perlahan-lahan sehingga tidak terdengar olehmu. Aku menjawab panggilannya tanpa terdengar pula olehmu. Dia tidak masuk ke rumah, lantaran kau menanggalkan pakaianmu. Dan saya pun mengira bahwa kau telah tidur, lantaran itu saya segan membangunkanmu khawatir engkau akan merasa kesepian. Jibril berkata padaku, ‘Allah memerintahkan semoga engkau  datang ke Baqi’ dan memohonkan ampunan bagi para penghuninya.’ Aku bertanya, ‘Lalu apa yang kubaca sesampai di sana wahai rasulullah? ‘ dia  menjawab, ‘Bacalah: AS SALAAMU ‘ALA AHLID DIYAAR MINAL MUKMINIIN WAL MUSLIMIIN WA YARHAMULLAHUL MUSTAQDIMIIN MINNAA WAL MUSTA`KHIRIIN WA INNAA INSYAA`ALLAHU BIKUM LAAHIQUUN (Semoga keselamatan tercurah bagi penduduk kampung orang-orang mukmin dan muslim ini. Dan semoga Allah memberi rahmat kepada orang-orang yang telah mendahului kami dan orang-orang kemudian, dan kami insya Allah akan menyusul kalian semua).’” (H.R.Muslim)
Dalam hadis di atas, Aisyah bertanya doa yang dibaca jikalau Aisyah menziarahi kubur. Lalu Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengajari doa tertentu yang dibaca. Diamnya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ terhadap pertanyaan Aisyah yang mengandaikan berziarah kubur memperlihatkan dengan terang bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengizinkan Aisyah menziarahi kubur. Maknanya, perempuan boleh menziarahi kubur.
Dalil lain yang menguatkan ialah kisah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang melewati perempuan disisi kuburan yang sedangan bersedih kemudian menasehatinya. 

Bukhari meriwayatkan;
صحيح البخاري (5/ 29)
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي وَلَمْ تَعْرِفْهُ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى
dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata,: Nabi Shallallahu’alaihiwasallam pernah berjalan melewatiseorang perempuan yang sedang menangis di sisi kubur. Maka Beliau berkata,: “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah”. Wanita itu berkata,: “Kamu tidak mengerti keadaan saya, lantaran kau tidak mengalami mushibah menyerupai yang saya alami”. Wanita itu tidak mengetahui jikalau yang menasehati itu Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Lalu diberi tahu: “Sesungguhnya orang tadi ialah Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Spontan perempuan tersebut mendatangi rumah Nabi Shallallahu’alaihiwasallam namun dia tidak menemukannya. Setelah bertemu dia berkata; “Maaf, tadi saya tidak mengetahui anda”. Maka Beliau bersabda: “Sesungguhnya tabah itu pada kesempatan pertama (saat tiba mushibah) “. (H.R.Bukhari)
Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menasehati semoga perempuan tersebut tabah dan tegar (shobr), namun tidak menngingkari acara ziarahnya. Oleh lantaran itu hadis ini juga menjadi dalil yang memperlihatkan bahwa perempuan boleh menziarahi kubur. Artinya, aturan larangan menziarahi kubur bagi perempuan telah dinasakh (dihapus).
Lagipula, termasuk lebih akrab difahami bahwa laknat Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ terhadap  wanita yang melaksanakan ziarah kubur  adalah jikalau perempuan melakukannya  berulang-ulang. Hal itu lantaran lafadz yang dilaknat Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menggunakan Shighat Mubalaghoh  زَوَّارَاتِ yang bermakna pekerjaan tersebut dilakukan berulang kali dan menjadi kebiasaan. Wanita yang banyak keluar rumah boleh jadi secara tidak sadar  atau sadar menjadi ingin memamerkan kecantikannya, sehingga masuk aturan Tabarruj (bersolek) yang diharamkan islam. Banyak keluar rumah (meski dengan alasan melaksanakan ma’ruf) juga bertentangan dengan konsep perempuan sebagai kehormatan, berpeluang besar menyia-nyiakan hak suami, dan menelantarkan urusan rumah. Bisa juga hal tersebut memicu niyahah yang diharomkan oleh islam. Semua hal ini bertentangan dengan konsep terkait ziarah kubur untuk mengingat akhirat.
Imam At Tirmidzi Rahimahullah menyampaikan perihal hadits La’ana Az Zawaaraat Al Qubur (Rasulullah melaknat perempuan yang berziarah kubur):
قد رأى بعض أهل العلم أن هذا كان قبل أن برخص النبي – صلى الله عليه وسلم – في زيارة القبور، فلما رخص دخل في رخصته الرجال والنساء.
Sebagian ulama menyampaikan bahwa hal ini terjadi ketika sebelum diberikan dispensasi oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam perihal ziarah kubur, maka ketika sudah diberikan keringanan, maka dispensasi itu meliputi pria dan wanita. (Lihat Sunan At Tirmidzi No. 1056, lihat juga Imam As Suyuthi dalam Syarh Sunan Ibni Majah, 1/113, Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, 2/417 )
–          Begitu pula kata: “karena hal itu sanggup mengingatkan akhirat.” Mengingat alam abadi dan kematian bukan hanya kebutuhan kaum laki-laki, tetapi juga wanita.
Berkata Al ‘Allamah Asy Syaikh Waliyuddin At Tibrizi Rahimahullah:
لأن الزيارة عللت بتذكير الموت ، ويحتاج إليه الرجال والنساء جميعاً
Karena berziarah merupakan alasannya untuk mengingat kematian, dan hal itu diharapkan oleh pria dan perempuan sekaligus. (Misykah Al Mashabih, 5/1033).

Berkata Imam Mulla Ali Al Qari ‎Rahimahullah:
وقد عللت الزيارة فيها بأنها ترق القلب وتدمع العين وتذكر الآخرة والموت ، وبأن فيها عبرة ما لفظه هذه الأحاديث بتعليلاتها تدل على أن النساء كالرجال في حكم الزيارة
Telah ada   banyak sekali alasannya berziarah bagi wanita, di dalamnya hal itu sanggup melembutkan hati, mengalirkan air mata, dan mengingat alam abadi dan kematian, dan   pelajaran yang terdapat pada banyak sekali hadits yang menyebutkan alasannya itu memperlihatkan bahwa perempuan ialah sama dengan pria perihal aturan berziarah (kubur). (Ibid)
Pihak yang membolehkan telah mengkoreksi alasan-alasan pihak yang melarang ini. Imam Ibnu Abdil Bar menyebutkan:
قال أبو بكر وسمعت أبا عبد الله يعني أحمد بن حنبل يسأل عن المرأة تزور القبر فقال أرجو إن شاء الله أن لا يكون به بأس عائشة زارت قبر أخيها قال ولكن حديث ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم لعن زوارات القبور ثم قال هذا أبو صالح ماذا كأنه يضعفه ثم قال أرجو إن شاء الله عائشة زارت قبر أخيها قيل لأبي عبد الله فالرجال قال أما الرجال فلا بأس به
Berkata Abu Bakar: Aku mendengar Abu Abdillah –yakni Imam Ahmad bin Hambal- ditanya perihal perempuan yang berziarah kubur. Beliau menjawab: “Aku harap hal itu tidak apa-apa, Insya Allah. ‘Aisyah menziarahi kubur saudaranya. ” Orang itu berkata: “Tetapi ada hadits Ibnu Abbas bahwa Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam melaknat perempuan peziarah kubur.” Imam Ahmad menjawab: “Hadits ini terdapat Abu Shalih.”   Apa yang dikatakannya seakan dia mendhaifkan hadits ini. Lalu Imam Ahmad berkata: “Aku harap tidak apa-apa, Insya Allah, ‘Aisyah berziarah ke kubur saudaranya.” Ditanyakan kepada beliau: “Kalau kaum laki-laki?” Beliau menjawab: “Ada pun laki-laki, tidak apa-apa.” (At Tamhid, 3/234)‎
Imam As Suyuthi mengatakan, bahwa yang dilaknat dalam hadits ini ialah perempuan yang berziarah dengan tanpa menjaga budbahasa dan akhlak, katanya:
إن اللعن محمول على زيارتهم بما لا يجوز كالتبرج والجزع والصياح وغير ذلك مما لا ينبغي ، وأما إذا أمن جميع ذلك فلا مانع من الإذن لهن
                
Sesungguhnya laknat di sini dimaknai bahwa ziarahnya mereka itu dibarengi dengan hal-hal yang tidak diperbolehkan menyerupai tabarruj (bersolek), mengeluh, berteriak,  dan hal-hal tidak pantas lainnya. Ada pun jikalau kondusif dari semua hal ini, maka tidak terlarang mengizinkan mereka (untuk ziarah).(Misykah Al Mashabih, 5/1033).

Imam Asy Syaukani mengomentari klarifikasi para imam ini, katanya:
وهذا الكلام هو الذي ينبغي اعتماده في الجمع بين أحاديث الباب المتعارضة في الظاهر
Dan ini ialah perkataan yang  tepat untuk dijadikan pegangan di dalam mengkompromikan hadits-hadits yang secara zahirnya nampak bertentangan dalam cuilan ini. (Nailul Authar, 4/95)‎
Atas dasar ini, perempuan boleh menziarahi kubur meski dalam keadaan haid, maupun nifas.‎
Wallohul Waliyyut Taufiq Ila Sabilul Huda‎