Pernikahan Yang Dihentikan Dalam Syariat Islam

Doaharianislami.com – Pernikahan ialah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan perempuan dalam suatu rumah tangga yang berdasarkan pada tuntunan agama. kesepakatan nikah sanggup pula diartikan suatu perjanjian atau kesepakatan ijab dab qabul antara seorang pria dan perempuan untuk menghalalkan korelasi badaniyah sebagai suami istri yang sah serta mengandung syarat-syarat dan rukun-rukun yang telah di tentukan dalam syariat islam.

Dalam sebuah kesepakatan nikah ada yang namanya ijab dan qabul. Ijab ialah suatu pernyataan berupa penyerahan dari seorang wali perempuan atau wakilnya kepada seorang pria dengan kata-kata tertentu maupun syarat-syarat dan rukun yang telah ditentukan oleh syariat islam. Sedangkan Qabul ialah suatu pernyataan penerimaan oleh pihak pria terhadap pernyataan wali perempuan atau wakilnya.

 Pernikahan ialah ikatan lahir dan batin antara seorang laki Pernikahan Yang Dilarang Dalam Syariat Islam

Pernikahan merupakan salah satu sendi pokok dari pergaulan bermasyarakat. oleh lantaran itu agama Islam memerintahkan kepada umatnya untuk melangsungkan kesepakatan nikah bagi yang sudah bisa sehingga sanggup terhindar dari perbuatan yang terlarang.

Baca juga : Syarat-Syarat Wudhu Lengkap Beserta Penjelasannya

Selain itu juga merupakan satu ibadah yang paling utama dalam pergaulan beragama dan bermasyarakat. Pernikahan bukan hanya suatu jalan untuk membangun rumah tangga dan melanjutkan keturunan, Pernikahan juga dipandang sebagai jalan untuk meningkatkan ukhuwah islamiyah dan memperluas serta memperkuat tali silaturahmi diantara manusia. akan tetapi dalam syariat islam ada beberapa macam bentuk kesepakatan nikah yang dilarang, berikut ini ialah beberapa macam kesepakatan nikah yang dihentikan dalam agama islam.

5 Pernikahan yang dihentikan dalam Islam

1. Nikah Mut’ah

Nikah Mut’ah ialah nikah yang diniatkan hanya untuk bersenang-senang dan hanya untuk jangka waktu seminggu, sebulan, setahun dan seterusnya. Nikah mut’ah awalnya diperbolehkan oleh Rasulullah Saw yaitu pada dikala sering terjadi peperangan yang menyita waktu yang sangan panjang. dikarenakan para suami meninggalkan para istri ke medan peperangan dengan waktu yang lama. dengan pertimbangan untuk menghindari para sobat melaksanakan perbuatan zina, maka pada waktu itu Rasulullah saw membolehkan nikah mut’ah lantaran dianggap darurat dan sifatnya sementara.

Nikah Mut’ah juga dihentikan oleh Rasulullah, hal ini dikwatirkan akan terjadi pelecehan terhadap perempuan dan tidak sesuia dengan tujuan kesepakatan nikah yaitu membentuk kehidupan yang bahagia, melestarikan keturunan, menjaga martabat insan dan yang lainnya. Mengenai larangan melaksanakan nikah mut’ah Rasulullah Saw menjelaskan dalam sebuah hadist berikut ini.

Artinya: Dari Rabi’ bin Sabrah dari ayahnya ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:” Sesungguhnya saya pernah mengizinkan kalian untuk menikahi perempuan secara mut’ah. Sekarang Allah Swt mengharamkan hal itu hingga hari kiamat. Kemudian siapa yang memiliki istri hasil nikah mut’ah hendaklah ia melepaskannya dan jangan kalian mengambil sesuatu yang telah kalian berikan kepada mereka.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

2. Nikah Syighar

Nikah Syighar merupakan kesepakatan nikah yang disasari oleh janji atau kesepakatan penukaran, yaitu menjadiakan dua orang perempuan sebagai jaminan atau mahar masing-masing. ucapan akadnya bisa sabagai berikut : “ Saya nikahkan anda dengan anak atau saudara perempuan saya, dengan syarat anda menikahkan saya dengan anak/saudara perempuan anda.” Pernikahan Syighar termasuk kesepakatan nikah dalam budpekerti jahiliyah lantaran kesepakatan nikah ini dihentikan oleh agama islam dan apa jika terjadi kesepakatan nikah menyerupai ini maka pernikahannya batal. Rasullah saw bersabda:

Artinya: “Dari Ibnu Umar ra, ia berkata Rasulullah saw telah melarang nikah syighar, yaitu seorang mengawinkan anak perempuannya kepada seorang pria dengan syarat pria itu harus mengawinkan anak perempuannya kepada pria pertama dan masing-masing tidak membayar mahar.” (HR Bukhari dan Muslim)

3. Nikah Muhallil

Muhallil ialah menghalalkan atau membolehkan, jadi yang dimaksud dengan nikah mutahallil ialah kesepakatan nikah yang dilakukan oleh seseorang dengan tujuan untuk menghalalkan perempuan yang dinikahinya biar dinikahi lagi oleh mantan suaminya yang telah menalak tiga (talak ba’in). Dengan kata lain nikah muhallil ialah kesepakatan nikah yang dilakukan oleh seorang pria terhadap perempuan yang sudah di talak tiga, dengan tujuan biar mantan suaminya yang menalak tiga sanggup menikahi kembali perempuan tersebut sehabis diceraikan oleh suaminya yang baru.

Disebut kesepakatan nikah muhallil, lantaran kesepakatan nikah tersebut menyebabkan mantan suami yang telah menalak tiga halal menikahi dengan mantan istrinya kembali. Suami yang gres disebut muhallil atau orang yang menghalalkan dan suami yang telah menalak tiga di sebut muhallal lahu atau orang yang dihalalkan untuknya. Nihah menyerupai ini dihentikan oleh agama bahkan Rasullah Saw melaknatnya. Dalam sebuah hadist diriwayatkan bahwa rasulullah saw melaknat baik muhallil maupun muhallal lahu.

Artinya: ”Dari Uqbah bin Amir, ia berkata, Telah bersabda Rasulullah saw,. Maukah kuberitahukan kepadamu ihwal kambing jantan yang dipinjam?’ para sobat menjawab ,’Mau wahai rasulullah ,’ Nabi bersabda ,’Yaitu Muhallil. Allah melaknat muhallil dan muhallal lahu’,” (HR Ibnu Majah)

4. Pernikahan Silang

Kemudian kesepakatan nikah yang dihentikan selanjut ialah kesepakatan nikah silang, yang dimaksud dengan kesepakatan nikah silang ialah kesepakatan nikah antara pria dan perempuan yang berbeda agama atau keyakinan, kesepakatan nikah yang dihentikan menyerupai ini terdiri dari dua macam.

a. Laki-laki Mukmin menikahi perempuan non muslim.

Allah Swt berfirman:

Artinya:” dan janganlah kau menikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman . sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun di menarik harimu.” (QS Al-Baqarah : 221)

Apabila pria Mukmin yang menikahi perempuan hebat kitab (perempuan yang memeluk agama samawi selain islam), berdasarkan lebih banyak didominasi ulama hukumnya boleh asalkan dengan syarat mereka harus dari golongan muhsnat atau perempuan yang terpelihara kehormatannya. Pendapat menyerupai ini berdasarkan firman Allah Swt surat Al-Maidah ayat 5. Akan tetapi hebat kitab sebagaimana yang telah disebukan dalam Al-Qur’an untuk masa kini sangat sulit untuk ditemukan. Karena berdasarkan keyakinan islam agama samawi yang masih asli atau asli hanyalah islam dan yang lainnya sudah dicemari atau dipalsukan oleh para pengikutnya. oleh lantaran itu alhi kitab baik pria maupun perempuan sudah tidak ada.

b. Perempuan Mukmin yang menikah dengan pria non muslim.

Allah Swt berfirman:

Artinya : “Dan jangan kau nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya pria yang beriman lebih baik daripada pria musyrik meskipun beliau menarik hatimu.” (QS Al-Baqarah : 221)

5. Pernikahan Khadan

Khadan sendiri artinya ialah peliharaan, baik pria yang menyebabkan perempuan sebagai peliharaan maupun perempuan yang menyebabkan pria sebagai peliharaan. Pernikahan menyerupai ini pada jaman jahiliyah menjadi tradisi dan sering terjadi dilakukan pada masa sekarang. Dan berdasarkan orang arab jahilyah kesepakatan nikah menyerupai ini apabila tidak diketahui orang maka tidak apa-apa dan yang tercela apabila diketahui orang.

Allah Swt berfirman:

Artinya:”Dan bukan (pula) perempuan yang mengambil pria lain sebagai peliharaannya.” (QS An-Nisa: 25)

Artinya:”Dan bukan untuk menyebabkan perempuan peliharaan.” (QS Al-Maidah: 5)

6. Menikahi perempuan yang berzina

Artinya:”Pezina pria tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan atau dengan perempuan musyrik , dan pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina pria atau dengan pria yang musyrik dan yang menyerupai itu diharamkan bagi orang-orang mukmin.” (QS An-Nur: 3)

Baca juga: Rukun-Rukun Wudhu Lengkap Beserta Penjelasannya

Berdasarkan ayat diatas tentu saja memeberi citra kepada kita bahwa pria yang berzina boleh menikah dengan perempuan yang berzina atau permpuan musyrik , demikian pula sebaliknya, perempuan yang berzina boleh menikah dengan pria yang berzina atau pria musyrik, mengenai duduk perkara tersebut para ulama setuju namun berbeda pendapat ihwal pria yang bukan berzina menikahi perempuan yang berzina. Menurut Ali, Siti Aisyah, Al-Barraj dan Ibnu Majah hukumnya haram berdasarka firman Allah Swt diatas. Sedangkan berdasarkan Abu Bakar, Umar, Ibnu Abbas dan Jumhur Ulama manyatakan Boleh. Mereke menyatakan berzina itu haram sedang nikah itu halal. Yang haram tidak sanggup mengharamkan yang halal sesuai dengan sabda Nabi Saw berikut ini.

Artinya: “ Permulaan perzinaan, tetapi balasannya ialah pernikahan. Dan yang haram itu tidak mengharamkan yang halal.” (HR at-Thabrani dan Daruquthny)

Diantara jumhur ulama ada yang menyatakan bahwa ayat diatas telah dinasakh oleh QS An-Nur ayat 32.

Artinya: “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang diantara kamu.”

Begitu juga perempuan-perempuan yang berzina itu termasuk kategori yang tidak bersuami.

Scroll to Top