Sejarah Pesantren Balerante Cirebon

By | Agustus 3, 2016
Pondok Pesantren Al-Jauhariyah yaitu salah satu Pesantren tertua di Cirebon, Jawa Barat. Pesantren tersebut dulunya hanya berjulukan Pesantren Balerante (Pesantren yang terletak di Desa Balerante).
Sumber gosip secara ekspresi dari kiai-kiai sepuh diperoleh kesimpulan bahwa pesantren Balerante ada pada masa Sultan Matangaji (Pangeran Syafiuddin) Sultan Sepuh V (menjabat 1774-1784), hal ini disebabkan keberadaan pesantren tak lain atas isyarat sang-Sultan. Dengan demikian  perkiraan pesantren Balerante ada pada tahun antara 1774-1784 ini, adapun pastinya wallahu a’lam. Menurut K.H.R. Anom Kusumajati,  cucu Kiai Jauhar Balerante menyampaikan bahwa Sultan Matangaji memerintahkan seorang pejabat keagamaan (ulama besar kesultananan) yang berjulukan Pangeran Khalifah Raja (Syeikh Khalifah Raja) untuk berdakwah di suatu tempat berjulukan Jatiragas  yang lalu berjulukan Balerante.
Menurut sejarah desa yang ditulis oleh pegawanegeri desa, bahwa di jatiragas terdapat kelompok agama Sang-hyang yang dipimpin oleh Ki Geden yang sakti tanpa tanding yang turun temurun memimpin selama berabad-abad semenjak agama hindu-budha hidup di tanah sunda hingga beberapa ratus tahun semenjak dakwah Sunan Gunung Jati, dan pengaruhnya begitu besar bagi masyarakat, mungkin salah satu alasan dikirim ulama ke kawasan tersebut lantaran ini. Dan dalam  penuturan  buku ini menyampaikan bahwa dakwah syeikh Khalifah Raja kurang berhasil. Menurut Kiai Anom Syeikh Khalifah Raja mempunyai putra berjulukan Kiai Idris, tetapi ia tidak usang tinggal di jatiragas. Menurut buku dari pihak desa lalu memerintahkan Syeikh Romli sebagai misi dakwah kedua, sosok Syeikh  Romli tidak jauh berbeda dari Syeikh Khalifah Raja, seorang yang alim dan mempunyai ilmu dhohir dan bathin. Hal  ini penting dan masuk kebijaksanaan untuk menghadapi dakwah yang berat, kiai Romli lalu menyamar menjadi orang biasa dan memberikan aliran agama dengan pendekatan yang baik, hingga lalu masyarakat banyak perpindah mengikuti kiai Romli dan Ki Gedeng merasa terpinggirkan. Kemudian Kiai Romli mendirikan musholla sebagai tempat mengaji dan tempat tinggal. Kita tidak membayangkan keadaan dahulu dengan pesantren di zaman sekarang. Pada zaman dulu keadaannya sangat sederhana, mungkin sanggup kita bayangkan ibarat padepokan, Syeikh Khalifah Raja lalu Syeikh Romli mengajarkan ilmu-ilmu syariat, tauhid, al-Qur’an, pancak silat dan kedikjayaan serta Tasawuf/tarekat. Menurut Kiai Anom, pada zaman dahulu dikembangkan jurus-jurus silat oleh Kiai dan santri yang dikenal dengan ‘jurus balerante’, sehingga semenjak zaman dahulu dikenal Pesantren Balerante sebagai Pesantren Kedikjayaan dan Pesantren Tasawuf.
Syeikh Romli bin Kiai Nursijan yaitu keturunan ke-6 dari tokoh penyebar Islam di Depok-Cirebon yaitu Syeikh Pasiraga (Pangeran Pasiraga), dan Syeikh Pasiraga yaitu cucu dari Syeikh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Dari sini sanggup dijelaskan mengapa Syeikh Romli mempunyai peranan di Keraton Cirebon. Menurut penuturan Kiai Said Yaman putra Kiai Jauhar, bahwa Syeikh Romli yaitu ‘orang pelarian’ dari kraton Cirebon, hal ini lantaran dampak budaya barat (yang tidak Islami) oleh Belanda ke dalam kraton sudah begitu dalam sehingga beberapa orang ‘gerah’ dan ingin melarikan diri bahkan melepaskan identitas kebangsawanannya menjadi orang biasa, melanjutkan misi dakwah Sunan Gunung Jati ke daerah-daerah pelosok.  Pada dikala bersamaan pihak penguasa sang Sultan dikenal sangat cinta dengan agama, sehingga  pada masa pemerintahan ia agama benar-benar  digalakkan terutama mengirimkan ulama-ulama untuk dakwah di kawasan yang masih belum tersentuh nilai Islami, sehingga keadaan ini menguatkan keadaan Kiai Romli untuk berdakwah di desa Balerante yang dikenal banyak pengikut kejawennya. Alasan lain berkaitan dengan perlawanan terhadap belanda, sehingga peranan pesantren bukan saja pada bidang keagamaan tetapi juga pada usaha mengusir penjajahan. Menurut Kiai Ali Fahmi, Syeikh Romli ikut berperan pada perang kedongdong yang terjadi kurang lebih pada tahun 1816-1818.
Walaupun pendiri awal dakwah Islam atau pesantren yaitu Syeikh Khalifah Raja, tetapi yang lalu menurunkan generasi Kiai-kiai berikutnya yaitu Syeikh Romli, sehingga Syeikh Romli dikenal sebagai pendiri pertama pesantren Balerante.
Oleh para pendahulunya Pesantren Balerante dijadikan suatu sentra penempaan dalam pendalaman ilmu, baik ilmu lahir maupun bathin. Penempaan ilmu thoriqoh yaitu merupakan tujuan selesai sehabis para santri diberi pembekalan duduk masalah ilmu syari’at dengan banyak sekali macam didalamnya.
Pesantren Balerante di dirikan pada tahun 1779 M. oleh KH. Romli atau Ki Buyut Romli, ia yaitu salah seorang keturunan dari Kasultanan Kasepuhan Cirebon.
Gambaran Umum Periode Pesantren Balerante Awal
Tokoh Ulama                                                 Tokoh Yang Dikenal Sejarah
Syeikh Khalifah Raja                                     Sultan Matangaji (1774-1784)
Kiai Idris
Syeikh Romli
K.H. Muhammad Nur bin Romli  dan
K.H. Abdul Majid bin Romli                               Pangeran Syeikh Arifudin Bratawirya                                                                                                      (Guru Tarekat Sattariyah
                                                                             Kiai Abdul Majid) menjabat
                                                                             mursyid Peguron
                                                                             Keprabon Kesultanan Cirebon                                                                                                               1838-1878
                                                                                                     
K.H. Muhammad Jauhar Arifin (1870-1941/1942)
Setelah Kiai Romli wafat pesantren diteruskan oleh kedua putranya, yaitu Kiai Muhammad Nur dan Kiai Abdul Majid. Tidak ada gosip yang lengkap perihal beliau, yang terperinci pada masa ini melanjutkan kepemimpinan pesantren. Dari Informasi yang diterima penulis oleh Kiai Anom bahwa guru tarekat Sattariah Kiai Abdul Majid yaitu Pangeran Arifuddin dan pangeran Arifuddin dari Pangeran Sofiuddin. Penulis dengan tidak sengaja menemukan kecocokan data ini dari sumber  Peguron Keprabon (Pesantren Kraton Cirebon, sebagai pesantren tertua di cirebon yang didirikan pada tahun 1696 M  oleh Pangeran Raja Adipati Keprabon) berikut sanadnya :
1. Syyaidina Nabi Muhammad SAW
2. Syyaidina Ali Karromallahu bin abi thalib
3. Syyaidina Imam Husein bin Ali RA
4. Syyaid Imam Muhammad Al-baqir
5. Sayyid Imam Ja’far ash Shadiq
6. Syaikh Abu Yazid al bustomi
7. Syaikh Maghrobi
8. Syaikh Arobiyi
9. Syaikh Mudloffar
10.Syaikh Abu Hanail al-harqoni
11.Syaikh khad Koniyi
12.Syaikh Muhammad Asyiq
13.Syaikh Muhammad Arif
14.Syaikh Abdullah As Syyatar
15.Syaikh Imam Qodli Syatari
16.Syaikh Hidayatullah Syaikh Kutubi Modari Haji
17.Syaikh Muhammad Ghaus
18.Syaikh Qudratul Ulama
19.Syaikh Sultonul Arifin
20.Syaikh Ahmad bin Quraisy Asy Syanawi
21.Syaikh Alimur Robbaniyi
22.Syaikh Khotib Qubbatul Islam
23.Syaikh Abdul Wahab
24.Syaikh Imam Tobri al-makki
25.Syaikh Abdullah bin Abdul Qohar
26.Syaikh Haji Muhammad bin Muktasim
27.Syaikh Imam Qodli Hidayat
28.Pangeran Syaikh Muhammad Shofiyyudin Kanoman
29.Pangeran Syaikh Muhammad Arifudin Bratawireja Kaprabonan (menjadi mursyid 1838-1878)
(Pangeran Arifudin Kusumabratawireja)
Diketahui bahwa belum dewasa Kiai Muhammad Nur semuanya yaitu perempuan, walaupun ia sebagai pemimpin Pesantren lantaran anak tertua, ia menyerahkan pesantren kepada adiknya yaitu Kiai Abdul Majid dan keturunannya.
Putra-putri Kiai Abdul Majid yang penulis catat dan peroleh dari Nyai H. Ruqoyyah binti K.H. Sarqowi yaitu : Kiai Jawahir, Haji Dul, Hj. Maemun, Nyai Widah, Nyai Muksinah, K.H. Muhammad Jauharul Arifin dan Nyai Rumilah. Dari semua putra-putri  Kiai Abdul Majid yang paling menonjol dalam segala hal, baik dalam keilmuan, ketokohan dan peranannya yaitu Kiai Muhammad Jauharul  Arifin, sehingga masa keemasan pesantren Balerante ini terjadi pada masanya.‎
Sepeninggal KH. Jauharul Arifin kepemimpinan Pesantren dilanjutkan oleh Putra Pertamanya yang berjulukan KH. Ridhwan Jauhar, hingga tahun 1975 M. dan dilanjutkan oleh adiknya yang berjulukan KH. Amin Jauhar hingga tahun 1982 M. Kemudian dilanjutkan oleh adiknya yang mempunyai nama orisinil Husein Al-Habsi sebelum lalu nama ia diganti di Makkah dengan nama KH. Abdulah Bafaqih atau lebih dikenal dengan nama KH. Faqih Jauhar hingga tahun 2001 M.   Sepeninggal KH. Faqih Jauhar, pengasuhan Pondok Pesantren Al-Jauhariyah dipimpin oleh putranya yang berjulukan KH. Muhammad Faqih Jauhar hingga dikala ini.
MENGENAL TOKOH UTAMA ULAMA PONDOK PESANTREN BALERANTE (PP. AL-JAUHARIYAH) pada masa sehabis Kiai Abdul Majid :
Syeikh Ahmad Masduqi al-Muqri (wafat 1935 M)
al-‘Allamah Kiai Masduqi Balerante begitu dikenal pada masanya, lantaran kealimannya dalam banyak bidang agama. Beliau berasal dari kawasan garut, lalu mengembara mencari ilmu hingga di tanah Hejaz (Makkah-Madinah) dan berguru kepada ulama-ulama besar di sana. Dalam Risalahnya perihal Tajwid Syeikh Muqri diutarakan nama guru-guru beliau, yaitu :
-Syeikh Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatho (Syeikh Sayyid Bakri), yang dikenal dengan Syeikh Masyayikh (guru besarnya guru besar)
-Syeikh Muhammad Minsyawi al-Misri  disebut Syekh al-Muqri  (guru besar qiraat, terutama qiraat Imam Ashim), syeikh Masduqi menerima gelar al-Qori, termasuk segelintir orang Jawa atau Indonesia yang mengaji kepada ia dan menerima gelar Qori’. 
-Syeikh Nahrowi
dalam Risalahnya pula menyebut  Syeikh Abdul Syukur
Karya Tulis :
-Risalah Tajwid Syeikh al-Muqri, diterbitkan oleh percetakan Ali Aidrus, pasar senen, Batavia (Jakarta)
– Tafsir al-Qur’an (teks ada pada cucu Syeikh Masduqi, dikabarkan terdapat 14 jilid)
Beliau seguru dengan ulama Jawa lainnya yaitu Syeikh Mahfudz al- Tarmasi kepada syeikh Muhammad Minsyawi dan Syeikh Sayyid Bakri  dan disana pernah menjadi guru di Makkah.‎
K.H. MUHAMMAD JAUHARUL ARIFIN (wafat 1941/1942 M)
Kepopuleran Kiai Jauhar disejajarkan dengan tokoh Kiai Besar pada masanya. Ini terbukti bahwa ia pernah berguru di Tanah Suci Makkah bersama teman-temannya antara lain : Abdul Wahab Hasbullah Jombang, Hasyim Ays’ari Jombang, Bagir Yogjakarta, dan lain-lain. Bersama teman-teman ia inilah KH. Jauhar Arifin mencar ilmu di tanah suci kepada ulama-ulama besar Makkah diantaranya yaitu As-Syekh Mahfudz bin Abdillah At-Tarmasi Al-Makki penyusun Kitab Mauhibah Dzil Fadhol dan Manhaj Dzawin Nazhor yang hampir dipelajari oleh setiap santri di seluruh Indonesia, Asia Tenggara dan Negara-negara lain.
Pada masyarakat Cirebon dan sekitarnya melihat sosok Kiai Jauhar lebih banyak pada hal supranatural (Khorikul Adat), setiap kali penulis bertemu dengan ustadz atau kiai yang mengenal dari kakek-kakek mereka atau yang pernah berguru kepada ia menceritakan keganjilan supranatural Kiai Jauhar.
Aktivitas istikomah Kiai Jauhar disamping ibadah, mengajar yaitu menulis, tulisannya sangat banyak dan pada generasi berikutnya tidak terawat sehingga hanya tersisa satu Risalah yang berjudul Risalah Sabilil Huda Fi al-Jumuah Wa Fi al-Roddi Ala Man Manaa al-Muadah, dicetak pertama di pekalongan dan kedua di tasikmalaya dan menerima pengantar (takhqiq) dari Syeikh Mahmud Abdul Jawad, ulama pengajar di Masjid Nabawi Madinah. Tulisan ini ditulis dengan bahasa arab yang berisi hujjah akan muadah (Sholat Dzuhur sehabis Sholat Jum’at) jikalau terjadi terbilangnya (dua atau lebih) masjid sholat jumat dalam satu balad, dan keutamaan hari dan malam jumat. Kepakaran Kiai Jauhar yaitu di bidang Ushul Fiqih dan Mantiq (logika).
Nama guru-guru ia di Makkah dan Madinah sebagaimana diutarakan oleh Kiai Said Yamani adalah:
–   Syeikh Muhammad Amin
–   Syeikh Muhammad Ridwan al-Madani, disebut syeikh Dalail al-Khairat
–   Syeikh Said Ali Al-Yamani
–   Syeikh Mahfudz bin Abdillah al-Tirmasi al-Makki
Nama-nama guru ia ini dijadikan nama untuk belum dewasa beliau.
Murid-murid ia sangat banyak, terutama para kiai yang kini menjadi kiai sepuh di Jawa Barat, diantaranya :
1.       K.H.Amin Sepuh, Babakan Ciwaringin(pernah menjadi lurah santri)
2.       K.H. Hasbullah, Winong Gempol Ciebon
3.       K.H. Habib Syeikh, Jagasatru Kota Cirebon
4.       K.H.Syatori, Arjawinangun Cirebon
5.       K.H. Abdullah, Marageni Tegalgubug Cirebon
6.       KH. Amir, Lumpur Losari Cirebon
7.       KH.Badruzzaman, Mama Biru Tarogong Garut
8.       KH. Muhyiddin, Jambu Dipa Cianjur
9.       KH. Asikin, Malausma Majalengka
10.     KH. Khotib, Ancaran Kuningan 11.  KH. Mama Amilin (H. Abdul Jabbar), Garut
Menurut gosip dari salah satu Kiai Sepuh di Cirebon menceritakan bahwa santri-santri cirebon dan sekitarnya sehabis mesantren pada Kiai Cholil Bangkalan Madura, mereka diamanati untuk tetap mengaji kepada Kiai Jauhar Balerante Cirebon, sehingga walaupun mereka sudah menjadi kiai yang alim di daerahnya, mereka tetap ngaji mingguan kepada Kiai Jauhar. Hal ini memberikan tingginya keilmuan ia di antara kiai-kiai Cirebon pada masanya.
K.H Muhammad Kholil Nawawi (Wafat tahun 1955)
Kiai Kholil balerante yaitu ulama pejuang yang ikut dalam grilya melawan penjajah Belanda, masuk keluar hutan dan terlibat eksklusif dengan peperangan. Beliau berasal dari sindang maritim Cirebon dan menjadi menantu Kiai Jauhar Arifin dan pada selesai usianya ia mempropagandakan NU, sehingga beliaulah seorang ulama yang meng NU kan Cirebon sebagai Partai Politik waktu itu.
Guru Beliau :
Syeikh Mahfudz Termas
Syeikh Ahmad Masduqi al-Muqri Balerante, waktu di Makkah dan di Cirebon
Al-Jauhariyah yaitu salah satu Nama pesantren tertua di deretan tanah cirebon yang masih tetap bertahan di tengah gempuran era globalisasi zaman yg terletak di wilayah pantura kab.Cirebon Pesantren Al-Jauhariyah ini telah bangkit jauh sebelum Indonesia merdeka dan sangat berperan dalam syiar islam Dari sekian banyak pondok pesantren yang ada dan mempertahankan ciri khasnya adalah,pondok pesantren Al Jauhariyah Balerante Palimanan Cirebon yang di asuh oleh Kami KH.Muhammad Faqih Jauhar
Pesantren ini didirikan sekitar era 17,namun hingga skarang Alhamdulillah masih tetap eksis,sepeninggal kake dan ayah handa mendiang KH.Abdulloh Bafaqih dan KH.Jauhar Arifin. Dari keluarga pondok pesantren Al Jauhariyah (KH.Muhammad Faqih Jauhar) yang di beri amanah oleh ayah handa ia untuk membuatkan pesantren Al-Jauhariyah ini.‎
Guna memajukan pesantren sengaja membuka susukan keberbagai kalangan guna sanggup memberi prubahan dan wangsit ide segar untuk menumbuhkembangkan forum pendidikan biar lebih baik Awalnya pondok pesantren Al-Jauhariyah ini dikenal dengan nama pondok pesantren Balerante,namun stelah perang kemerdekaan Kami selaku keluarga dari pondok pesantren Al-Jauhariyah menambahkn nama Jauhariyah yang di ambil dari nama pengasuh generasi ke lima yaitu kake handa KH. Jauhar Arifin dengan tidak bermaksud membuang nama Balerante yang telah melegenda,nama ini tetap Kami mempertahankan hingga kini dikenal dengan nama pondok pesantren Al-Jauhariyah Balerante.‎
Sistem pembelajaran, masih menerapkn sistem klasikal kitab kitab kuning serta tradisi layaknya pesantren lainnya‎
Exstra kegiatan pembelajaran di pondok Al-Jauhariyah yang Kami asuh ini yaitu pembeljaran Ilmu Hikmah dan Thoriqoh Syathoriyah,agar pondok pesantren Al-Jauhariyah balerante sanggup melahirkn alumni alumni yang mempunyai moralitas luhur( brakhlakul karimah)sehingga,ketika terjun di masyrakat apapun profesinya tetap mengedepankan akhlaq,itu yang sangat Kami harpkan dari yang Kami asuh
Pengasuh pondok pesantren Al-Jauhariyah
KH Muhammad Faqih Jauhar bin KH.Abdulloh Bafaqih bin KH.Jauhar Arifin bin K. Abdul Majid bin K.Rumli bin P.Nursizan bin P.Pantar bin P.Dasim bin P.Kamal bin P.Masdar bin Ny Jangkep(istri wira adipati Anom) binti Buyut Pasiraga bin P.Amangkurat bin Sulthon Auliya Syaikh Syarif Hidayatulloh bin Syarif Abdulloh(Sulthon Hut mesir)bin Ali Nurul Ilmi bin Imam Jamaluddin Husen bin Ahmad Syat Jalal bin Abdulloh Khon bin Amir Abdul Malik bin Alawy Amm Alfaqih binMuhammad Shohibul Marobath bin Ali Kholi’i Qosim bin Alawi bin Muhammad bin Alawy bin Ubaedillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa Al Bishri bin Muhammad bin Ali arridli bin Ja’far Shodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husaen bin Fathimah Azzahra binti Rasulillah Muhammad saw. ‎‎