Sejarah Pesantren Biru Dan Tugas Kh Badruzzaman

Secara kronologis nama Pesantren Al-Falah Biru yaitu merupakan modifikasi dari nama aslinya yaitu Pesantren Biru yang sudah berkiprah dalam proses berguru mengajar dilingkungan para Ulama, santri, dan masyararakat semenjak ratusan tahun kemudian yaitu sekitar tahun 1711. Melalui turun menurun, acara ini berlanjut dalam setiap periode waktu terus menerus tanpa henti hingga ke zaman Pra dan Pasca Revolusi Kemerdekaan. Di kala para tokoh dan sesepuh satu persatu mulai wafat maka pada masa kini seluruh keturunannya memiliki beban berat untuk melanjutkan jejak leluhurnya berupa training umat serta proses Pendidikan Agama maupun Pendidikan Umum sebagaimana layaknya tuntutan pesantren masa kini. Pada dasamya beban ini merupakan hal penting bagi para putra BIRO, mengingat pesan pendahulunya yang tidak pernah berhenti dari kiprah dedikasi semenjak masa usaha revolusi mengusir penjajah melalui training umat dengan sistem Kholwat, begitu pula dalam mengisi kurun kemerdekaan.
Sejarah Berdirinya Pesantren Biru dan Al-Falah
Pondok Pesantren Al-Falah Biru yaitu generasi penerus pertama Pesantren Biru, sehingga terkenal di kalangan masyarakat Islam yaitu Pesantren Biru atau Biru. Biru didirikan tahun 1749 oleh Embah Pengulu (Embah Kyai Akmaluddin) penghulu Timbanganten/Garut dan menantunya Raden Kyai Fakaruddin keturunan ke-11 dari Sunan Gunung Djati (Syaikh Syarif Hidayatulloh, Raja Cirebon) dan keturunan ke-11 dari Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran).
Kampung Biru merupakan tempat yang bersejarah baik di kalangan Islam maupun Nasional, alasannya menghasilkan banyak sejarah dan kiprah yang penting dari sebelum masa penjajahan Belanda hingga kemerdekaan Presiden Soekarno, serta Biru merupakan pedoman sejarah keturunan (silsilah), ke-ulamaan dan ke-radenan di tempat Garut.
Ulama yang memimpin dan mengelola Pesantren Biru adalah:
1. Embah Kyai Akmaluddin dan Embah Kyai Fakkaruddin
2. Embah Ajengan Abdulrosyid
3. Embah Kyai Irvan
4. Embah Kyai Abu Qo’im
5. Raden Bagus K.H. Muhammad Ro’ie (Ama Biru).
Dari generasi kepemimpinan pertama hingga terakhir Pesantren Biru mengalami masa kejayaan yang subur makmur kerta raharja (Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofuur) serta terkenal di pulau jawa dan diluar jawa, oleh lantaran itu maka kampung Biru mngalami harkat martabat kebesaran dan kemuliaan di kalangan Nasional, serta di hargai oleh masyarakat dan pemerintah Belanda, sehingga pada masa pimpinan Embah Ajengan Abdulrosyid Biru dimerdekakan oleh kaum Penjajah Belanda dan hingga pada generasi kelima Biru sebagai sentra Agama Islam di tempat Garut.
Setelah masa Raden Bagus K.H. Muhammad Ro’ie berakhir, maka Pesantren Biru di pindahkan ke kampung Thoriq Kolot kemudian dirubah nama menjadi “Al-Falah” yang dipimpin oleh putranya yang berjulukan Raden KH. Asnawi Muhammad Faqieh (Bani-Faqieh) dan cucunya Syaikhuna Badruzzaman. Pada masa ini Pesantren Al-Falah Biru mengalami banyak rintangan baik dari penjajah, Umat Islam ataupun imbas para politikus di Indonesia.
Ulama yang memimpin dan mengelola Pesantren Al-Falah Biru adalah:
Raden KH. Asnawi Muhammad Faqieh
Syaikhuna Badruzzaman
R. KH. Bahruddin
Pada tahun 1933-1938 M. Raden KH. Asnawi Muhammad Faqieh dan putranya Syaikhuna Badruzzaman mengungsi dari kampung Al-Falah, untuk berbagi agama Islam di tempat Kab. Tasik yaitu Taraju/Indularang yang masih menganut agama Hindu yang kebetulan di tempat Garut sedang terjadi fitnah “Perintah Suntik” dari penjajah Belanda. Sepulang dari pengungsian pengajian dibuka lagi, pada waktu itu Pesantren Al-Falah Biru memiliki puluhan ribu murid bahkan pada pada masa penjajahan Jepang berjumlah ratusan ribu murid sehingga Jepang menyebutnya “Maha Raja” kepada KH Faqieh yang dibantu oleh putranya Syaikhuna Badruzzaman, lantaran Jepang melihat kehebatan pengaruhnya melebihi yang lainnya.
Syaikh Badruzzaman
Beliau lebih dikenal dengan Syaikhuna Badruzzaman, lahir tahun 1900 di Pesantren Al-Falah Biru Garut. Beliau yaitu putra kelima dari sembilan bersaudara KH. Faqih bin KH. Adza’i, yang lebih terkenal dengan panggilan “Ama Biru”. Beliau mengaji kepadaayahnya, dan kepada pamannya dari pihak Ibu di Pesantren Pangkalan Tarogong yakni KH. R. Qurtubi dan selanjutnya pindah ke pondok yang diasuh oleh kakanya KH. Bunyamin (Syaikhuna Iming) di Ciparay Bandung. Kemudian ia mendalami ilmu di Pondok Pesantren Cilenga Tasikmalaya, selanjutnya di Pondok Pesantren Balerante Cirebon.
Pada tahun 1920, ia bersama kakaknya Syaikhuna Iming berangkat ke Tanah Suci untuk mendalami ilmu keislaman, bermukim selama tiga tahun. Tahun 1926, ia ke Mekah lagi untuk kedua kalinya bermukim selama tujuh tahun. Diantara guru-guru ia di Mekah yaitu : Syeikh Alawi Maliki (Mufti Mekah dari madzhab maliki), dan Syeikh Sayyid Yamani (Mufti Mekah dari madzhab Syafi’i). Di Mekah, ia memiliki sobat diskusi yaitu KH. Kholil dari Bangkalan Madura (Syeikh Kholil), sedangkan di Madinah ia berguru kepada Syeikh Umar Hamdan (seorang Muhadditsin dari madzhab Maliki).
Pada tahun 1933, ia kembali ke tanah air dan eksklusif memimpin Pondok Pesantren Al-Falah Biru melanjutkan ayahanda bersama kakaknya KH. Bunyamin. Pesantren ia mengembangkan aneka macam disiplin ilmu keislaman ibarat Tafsir, Hadis, Fiqh, dan Ushul Fiqh, Ilmu Tasawuf, Nahwu, Sharaf, Ma’ani, Bayan, Badi’, Arud dan Maqulat.
Pada masa revolusi, ia terjun dan bergabung dalam Hizbullah memimpin perlawanan terhadap penjajahan Belanda dengan mengkader para mujahid melalui khalwat. Pesantren Al-Falah Biru menjadi tidak aman dan menjadi target musuh sehingga ia memutuskan untuk mengungsi dan singgah di Cikalong (Wetan Purwakarta), Padalarang, Majenang (Jawa Tengah) dan Taraju (Tasik) dengan terus mengembangkan ilmu ditempat-tempat itu.
Dalam kehidupan politik dan organisasi, ia beserta kyiai lain diantaranya KH. Mustafa Kamil mendirikan Organisasi al-Muwafaqoh sebagai wadah penyalur aspirasi umat islam untuk mengusir penjajah Belanda dan dipercaya sebagai ketua.
Pada tahun 1942, ia bersama KH. Ahmad Sanusi (Sukabumi) mendirikan Persatuan Ulama, untuk mengikat ulama dalam satu wadah. Tahun 1951, organisasi ini berfungsi dengan Persyarikatan Umat Islam di Majalengka yang kemudian menjadi Persatuan Umat Islam (PUI).
Setelah kemerdekaan, tepatnya tahun 1945 ia bergabung dengan Masyumi dan dipercaya menjadi anggota Majlis Syura dan kemudian aktif di PSII sebagai Ketua Masywi wilayah Jabar dan pada tahun 1967 atas undangan keluarga dekatnya, KH. Badruzzaman masuk partai PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) duduk sebagai Majlis Tahkim.
Beliau mempelajari kitab-kitab yang membahas tarekat Tijaniyah yang diantaranya yaitu kitab Jawahir al-Ma’ani yang disusun oleh Syeikh Ali harazim, Kitab Bughyah al-Mustafid yang disusun oleh Sayyid al-Arabi dan kitab al-Jaisyulkafil yang dikarang oleh Muhammad al-Sinqiti untuk selanjutnya mendiskusikan hasil Muthala’ahnya dengan Muqaddam Tarekat Tijaniyah yaitu Syeikh Utsman Dhomiri (salah satu Muqaddam Tarekat Jawa Barat), Syeikh Abbas Buntet Cirebon, KH. Sya’roni dari Jatibarang (Brebes Jawa Tengah) untuk selanjutnya ia mengamalkan tarekat Tijaniyah dengan mendapat ijazah dari Syeikh Utsman Dhomiri.
Ketika ia di Mekah, ia mendalami ilmu tarekat Tijaniyah, salah satu tarekat Mu’tabarah dari Syeikh Ali at-Thayyib (Mufti Haramain dari madzhab Syafi’i) dan ia diangkat sebagai Khalifah tarekat itu.
Peran dan Jasa Syaikhuna Badruzzaman bagi Agama, Bangsa dan Negara 
Cahaya keunggulan ilmu Syaikhuna Badruzzaman sudah terlihat semenjak usia muda baik di Indonesia maupun Internasional ia yang sering diundang untuk mengakhiri merampungkan duduk kasus aturan agama yang sangat sulit sehabis dirembuk oleh para ulama besar lainnya yang tidak kunjung tuntas, tidak hanya bergelut dengan teori keilmuan belaka beliaupun mempraktekan ilmunya untuk merintis dan menyusun kekuatan lahir dan batin untuk mengusir para penjajah di bumi Indonesia sehingga ia berhasil mengusir penjajah dengan baik walau tidak ada sejarahnya bambu runcing melawan senjata canggih, atas karya nyatanya yang sangat luar biasa-lah ia di tunjuk para negarawan untuk melantik, menyumpah atau mengukuhkan presiden pertama NKRI (1950) di Istana Merdeka (Wawancara dengan Bapak Kosasih dari Yayasan Pejuang 45). ‎
Kampung kelahiran Syaikhuna Badruzzaman dan leluhurnya ‎
Syaikhuna Badruzzaman lahir di Pesantren Biru, Kec. Tarogong, Kab. Garut, putra dari KH. Raden Asnawi Muhammad Faqieh (Bani-Faqieh) bin KR Raden Bagus Muhammad Ro’ie (Ama Biru), sebelumnya berjulukan Emong dan biasa dipanggil adiknya berjulukan Naib (Wawancara dengan Bapak Ahmad). Dari silsilah yang tercatat secara bebuyutan ia yaitu keturunan ke-18 dari Sunan Gunung Djati – Cirebon (Wali Songo) dan keturunan ke-18 dari Prabu Siliwangi (Raja Padjadjaran) (Wawancara dengan Ibu Hj Aisyah). Beliau lahir tahun 1898 M dan wafat tahun 1972 M (Wawancara dengan Bapak Ahmad Biru). ‎
Pesantren Biru banyak menghasilkan sejarah yang patut di catat ditingkat lokal, nasional dan internasional khususnya dalam bidang agama dan usaha sebagai pujian bangsa dan negara, khususnya suku Sunda. Biru didirikan tahun 1749 oleh Embah Pengulu (Embah Kyai Akmaluddin) penghulu Timbanganten/Garut dan menantunya Raden Kyai Fakaruddin dari Tanjung Singuru, Samarang-Garut (KH Aceng Imam Abdussalam, Sejarah Islam). 
Bila dirunut dari silsilah keturunan Biru yaitu titisan darah dari : Ulama Tanjung Singuru – Samarang Garut, Penghulu Garut, Raja Garut, Raja Cirebon, Raja Pajajaran, Raja Kuningan, Raja Galuh, Raja Banten, Raja Majapahit, Raja Demak, Bangsawan Madura, Raja Bali, Saudi Arabia (N. Muhammad SAW), Raja Mesir, India, Raja Cina (Kaisar Yung Lo dari dinasti Ming). 
Pesantren Biru belum pernah di jajah akan tetapi di hormati, disegani dan di merdekakan oleh kolonial Belanda, ibarat leluhurnya dari Tanjung Singuru, sehingga orang Biru bebas menuliskan sejarah bangsa Indonesia tanpa gubahan penjajah walau dihentikan keras pada waktu itu dan hingga ketika ini (2010) sejarah Biru masih bisa di lihat dalam bentuk goresan pena dengan terang baik dalam sejarah silsilah, pertalian darah, uratan serta kaitan pelaku sejarah dari mulai lokal, nasional dan internasional, karya KH. Imam Abdussalam Bandung yang belum dipublikasikan secara umum. 
Masa muda dan pendidikan Syaikhuna Badruzzaman 
Masa kecil Syaikhuna Badruzzaman tidaklah jauh berbeda dengan lainya beliaupun pernah main sepak bola bersama temanya dengan jeruk bali, jikalau bola sudah dibawanya temanya menghindar sehingga bola masuk kegawang tanpa perlawanan “keun weh antep Aceng mah…” (Wawancara dengan Bapak Ahmad). Adapun masa pendidikan ia hanya sebatas pengetahuan agama saja lantaran orang tuanya tidak mengijinkan untuk sekolah umum, keunggulan pengetahuan ia sudah terlihat dari semenjak kecil, bila sedang mengaji sering tertidur apabila ditanya gurunya bisa menjawab sehingga gurunya merasa heran, bila temanya sedang tidur dimalam hari ia membawa lampu cempor sambil mutholaah kitab sendirian, sehingga diintip oleh orang tuanya dari bilik luar “Euleuh geuning itu si Emong keur ngapsahan kitab sorangan..” (Wawancara dengan Ibu Aisyah). ‎
Beliau berguru kepada hampir seluruh pesantren-pesantren yang ada di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Mekah dengan guru terkenalnya ibarat KH. Raden Qurtubi Tarogong Garut, KH. Hsyim Asy’ari Tebuireng Jombang Jawa Timur, Syeikh Ali Al-Maliki guru besar Mekah dll. Oleh lantaran itu, biaya pendidikanya cukup besar sehingga sering orang tuanya merelakan menjual tanahnya untuk biaya sehari-hari di pesantren dan membeli kitab-kitab yang diperlukan (Wawancara dengan Ibu Aisyah).
Walaupun ia dalam usia sangat muda tapi keilmuanya sudah cukup mapan bisa merampungkan permasalahan agama yang tidak mungkin dan tidak gampang begitu saj a untuk diputuskan sehingga mendapat gelar “Syaikhuna Muda” lantaran mengungguli ulama-ulama besar lainya, ia sering diundang untuk mengakhiri permasalahan yang masih diperdebatkan para ulama “Cing tah coba ka Biru, didinya aya budak nu letahan” (Wawancara dengan K. H. Engking). 
Syaikhuna Badruzzaman Memperjuangkan Kemerdekaan 
Masa usaha SBZ dengan penjajah menghabiskan waktu yang tidak sebentar, ia dicurigai, diintai, difitnah bahkan dikejar oleh pemerintahan Belanda dari semenjak usia muda (1911-1950M) walaupun bukan sebagai aktifis partai politik, sehingga ia menghindar sambil tetap berbagi agama islam didaerah pengungsian ibarat Majenang – Jawa Tengah, Taraju – Tasik Malaya dll, dengan alasannya situasi ibarat itulah ia menginginkan kemerdekaan yang tujuan utamanya yaitu tiada lain kecuali biar supaya umat islam bisa beribadah dengan hening (Wawancara dengan Bapak Ahmad). ‎
Seandainya pada jaman penjajahan (1942-1945M) Jepang diceritakan kepada generasi muda tidak-lah mereka akan percaya, dimasa itu rakyat Indonesia seakan-akan ditelanjang, kelaparan dimana-mana, makanan susah didapat, celana karet, baju karung dan kadut, perut busung, raga tinggal tulang, bantal-kasur sampah dan rumput, begitulah yang bisa digambarkan oleh saksi hidup dijaman Jepang (Wawancara dengan Bapak H. Didi), sehingga SBZ menyindir kepada muridnya “Mana rasa syukurmu terhadap yang kuasa yang telah menunjukkan kemerdekaan?, dijaman Jepang kita ditelanjang kini pakaian asal kepakai!, mau ibarat apa kelakuan-mu ?” (Wawancara dengan Bapak Ahmad). 
SBZ mulai membentuk batalion Hizbulloh di Jaman Jepang dengan menciptakan sistem kholwat dan pada tahun 1943 pasukan Hizbulloh berhasil menguasai logistik Jepang di kp. Malayu Samarang sehingga kunci logistiknya Hotel Malayu diserahkan oleh 8 utusan Jepang kepada SBZ, pada tahun 1945 dua tentara Jepang menyerahkan diri kepada SBZ dan diganti nama Abubakar dan Kholid, kemudian ditugaskan untuk melatih perang pasukan Hizbulloh oleh SBZ di pesantren, Abubakar ditangkap oleh Belanda dan dieksekusi mati pada tahun 1949 dan dimakamkan di Makam Pahlawan Tenjolaya Garut tahun 1975. Pesantren Al-Falah Biru di jaman Jepang mengalami puncak kejayaan, muridnya ratusan ribu sehingga Jepang menyebut Maha Radja kepada KH Faqih yang dibantu putranya KH. Badruzzaman lantaran Jepang melihat kehebatan pengaruhnya melebihi yang lainnya (Wawancara dengan Bapak H. Didi). 
Perjuangan Syaikhuna Badruzzaman Mempertahankan Kemerdekaan ‎
Perjuangan Bangsa Indonesia belum cukup hanya dengan memproklamirkan kemerdekaanya saja (1945M) akan tetapi masih adalagi tantangan yang harus dihadapi yaitu penjajah Belanda yang belum puas atas kemerdekaan Indonesia, sehingga para pejuang harus bersikeras dan bekerja lebih keras lagi untuk mempertahankan kemerdekaan-nya sehingga tidak terelakan bayarannya yaitu cucuran darah, keringat dan air mata yang tidak sedikit hampir-hampir perjuanganya kandas diujung tanduk dan diserahkan kembali kepada penjajah atas ketidak berdayaan bangsa ini pada ketika itu (Wawancara dengan Bapak Ahmad). 
Dalam situasi ibarat ini ia SBZ ikut ambil cuilan dengan mengerahkan besar-besaran segala kekuatan lahir dan batin, pikiran dan perasaan, ilmu lahir dan goib, materil dan spiritual, tidak hanya berjuang sendirian beliaupun ikut menggembleng, memotivasi, menguatkan, menjamin keselamatan dan keamanan, bahkan berani membiayai dengan harta dan kekayaanya untuk ongkos kebutuhan akomodasi, transportasi dan logistik bagi para pejuang secara terus-menerus, setiap ia melepas prajuritnya ke medan juang terlebih dahulu dikuatkan dan diuji secara fisik maupun batin, mental dan spiritual dengan standar kekuatan rata-rata minimum senjata tongkat kayu bisa menahan atau mengalahkan senjata brand, kanon, tank baja dan senjata canggih lainya. Beliau mengirimkan prajuritnya ke Bandung selama 3 bulan berturut-turut silih berganti 41 orang setiap berangkat dengan total 300 orang yang dikirim bisa menciptakan kabur tentara Belanda yang bersenjata lengkap dihalau dengan tongkat dan golok, SBZ hanya kehilangan satu orang prajurit yang dikirim ke Bandung, tidak hanya ke Bandung beliaupun mengirimkan prajuritnya yang sudah terlatih ketempat lain ibarat Hijrah ke Jogya bersama Tentara Nasional Indonesia dan ke Madiun untuk mengamankan PKI (Wawancara dengan Bapak Ahmad). ‎
Dalam kondisi serba keterpurukan dan ketidak-berdayaan ketika itu para perintis kemerdekaan bersikukuh tetap ingin merdeka kendatipun secara hitung¬hitungan dan kenyataanya tidak masuk nalar bisa melawan tentara Belanda yang berpengaruh persenjataanya dilawan dengan bambu-runcing (Wawancara dengan Bapak H. Ganda Natasadana), sehingga terbentuklah gagasan politik permainan perang saudara antara tentara islam (DI/T11) dan tentara nasional (TM) dengan kontrak kerja 15 tahun (1947-1962M) dengan tujuan utamanya yaitu biar Indonesia tidak diambil alih kembali oleh abnormal baik Belanda, sekutu atau lainnya (Wawancara dengan Bapak Kosasih). Situasi politik di Jawa Barat ketika itu tidak aman dan terjadi kekacauan dimana-mana di sebabkan banyaknya pejuang dengan bermacam-macam cara dan harapan masing-masing yang tidak bisa dipadukan yaitu tiga kelompok DI-DI/TII, PKI, TNI, termasuk didalamnya yaitu SBZ dan SM. Kartosuwiryo, PKI dan Ir. Sukarno. Sehingga SBZ pada waktu itu bergrilya dan pindah-pindah dari satu kampung ke kampung lain, antar kota dan propinsi hingga ke Arab Saudi dengan musuh utamanya Belanda dan PKI, ditambah bahaya dan fitnahan DI/TII sehingga Tentara Nasional Indonesia mencari dan mengejarnya dari Garut hingga ke Padalarang lantaran menganggap SBZ pimpinan gerombolan DI/TII, pada ketika itu SBZ hams menghadapi musuh empat kelompok sekaligus luar dalam (Belanda, PKI, DI/TII dan TNI) dan akhimya ia memutuskan untuk pergi ke luar negri dengan menyamar sebagai pencari kerja TKI ke Arab Saudi dengan menumpang kapal bahari yang berjulukan Samardi di KTP-nya. Setelah kepergiannya ke Arab Saudi Garut dinyatakan aman oleh kolonel-kolonel Belanda lantaran dedengkot pimpinanya sudah tewas akan tetapi masyarakat ada yang percaya dan tidak (Wawancara dengan Ibu Aisyah). 
Perjuangan Syaikhuna Badruzzaman Menumpas DI/TII ‎
Pada permulaanya SBZ dan prajuritnya menggabungkan diri dengan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo di gunung, akan tetapi lama-kelamaan prajurit Kartosuwiryo menunjukkan tanda-tanda yang tidak beres ditambah dengan disusupinya anggota PKI dari Madiun (1948M), rumah dibakar, harta rakyat dirampok, orang yang solat di tembak, ulama di sembelih dan terjadilah kekacauan di masyarakat, sehingga SBZ murka dan tidak oke kepada tindakan SM. Kartosuwiryo dan menarik diri dari gunung dan menugaskan prajuritnya untuk hijrah ke Jogya bersama TNI. Dan sinilah SBZ diancam oleh DI/TII, PKI, Tentara Nasional Indonesia dan Belanda pada waktu bersamaan yang kemudian hijrah ke Arab Saudi yang pertama kalinya sekitar tahun 1949. Adapun pasukan Hizbulloh dibawah pimpinan SBZ dibubarkan di Ciheulang Bandung untuk kembali kerumah masing¬masing lantaran berdasarkan ia “Perjuangan sudah Surut”. 
Setelah usaha Bangsa Indonesia selesai mengusir penjajah Belanda dan kemudian terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI ditahun 1950 M), situasi dan kondisi khususnya di Jawa Barat belum pulih aman sepenuhnya lantaran suhu politik masih dipengaruhi oleh perang saudara DI/TII, sisa-sisa PKI Madiun dan TNI, yang menggangu kenyamanan dan keamanan rakyat pada siang dan malam hari, siang diganggu Kombat (TNI) malam oleh gerombolan DI/TII, sebagian hasil panen rakyat harus diserahkan kepada gerombolan jikalau ingin selamat, nasi yang sedang dimasak setengah matang (sangu gigih) dipaksa untuk diserahkan, tidak hanya harta benda yang dijarah, nyawa-pun banyak yang dibunuh dan disembelih, sehingga menciptakan rakyat mengungsi dari kampung halamnya untuk mencari tempat yang dikira aman bagi keluarganya (Wawancara dengan Bapak Zahid). ‎
Kemudian pada situasi tersebut pada tahun 1952 tokoh ulama Garut diundang secara paksa oleh SM. Kartosuwiryo untuk mengadakan negosiasi pemegang jabatan MTH Kabupaten Garut dimana Syaikhuna Badruzzaman dan Ajengan Musaddad ditunjuk sebagai Hakim DI serta Ajengan Yusuf Taujiri dan Ajengan Abdul Malik ditunjuk sebagai Bupati DI yang kesemuanya menolak secara halus. Setelah negosiasi tersebut Syaikhuna Badruzzaman diamankan dan diberangkatkan ke Mekah oleh Muhammad Natsir lantaran situasi semakin gawat antara DI/TII dan TNI. Adapun Ajengan Musaddad pindah ke Yogyakarta, Ajengan Abdul Malik ke Bandung, Ajengan Yusuf Taujiri tetap di Wanaraja dan membentuk Pasukan Darussalam (K. H. Muhammad Nenggang, 2010). Setelah SBZ berangkat ke Arab Saudi penjarahan, perusakan, penculikan dan pembunuhan masih dilakukan gerombolan DI/TII, SBZ dijadikan sebagai objek fitnahan yang dituduh suka membunuh dan tinggal di gunung bersama persekutuan gerombolan DI/TII Kartosuwiryo padahal jauh dari sangkaan itu Wawancara dengan Bapak Ahmad). 
Perjuangan Syaikhuna Badruzzaman Menetang PM 
Keberadaan ideologi atau faham aliran PKI di Indonesia selalu berujung pada pertumpahan darah dengan cara yang keji, kejam dan tidak memiliki rasa kemanusiaan yang sasarannya untuk menghabisi para agamawan dan simpatisannya terlebih dari kalangan agama islam, usaha PKI dimulai dari pemberontakan PKI Madiun, DPTII-PKI dan berujung dengan gerakan G30S/PKI, sehingga tidaklah pantas menunjukkan peluang kembali atas munculnya ideologi tersebut mengingat lebih banyak didominasi agama bangsa Indonesia 90 persen menganut kepercayaan agama Islam dan tindakannya tidak berprikemanusiaan. 
Peran SBZ dalam menumpas PKI yaitu ia mengirimkan prajurit Hizbulloh-Sabilillah-nya ke Madiun bersama Tentara Nasional Indonesia Siliwangi untuk mengamankan pemberontakan PKI di Madiun 1948 M, tidak cukup hingga disitu beliau-pun ikut menggagalkan terbongkarnya G30S/PKI (1965M) walaupun kondisi ketika itu PKI sudah menguasai partai-partai politik, organisasi-organisasi tennasuk petani dan buruh pabrik di seluruh Indonesia. Jauh-jauh sebelum terjadi G30S/PKI ia sudah mengetahuinya dan segera berbagi do’a kepada muridnya, mempraktikan ilmu kewalianya untuk menghindari banjir darah di kalangan rakyat yang tidak berdosa sehingga gagal-lah perebutan kekuasaan PKI (Wawancara dengan Bapak Ateng). Atas terbongkarnya G30S/PKI ini maka yang diuntungkan yaitu kolonel Soeharto bukan berarti ia sebagai pelaku utamanya. 
Peran Syaikhuna Badruzzaman pada Masa Orde Baru 
Pada usia lanjut ia Syaikhuna Badruzzaman tetap konsisten mengorbankan jiwa dan raganya untuk kepentingan umat, tanpa kenal lelah dan pamrih dengan sedikit istirahat dan tidur, tidurnya-pun masih berfikir dan bekerja ibarat yang sering terdengar mengobrol dengan seseorang yang masih bisa dijadikan sumber ilmu dan catatan bagi murid yang sedang memijitnya. Kebiasaanya menelaah kitab terus menerus, mengamalkan ilmunya, membimbing, meladeni dan mengajar bagi siapapun anak, tua, muda dan para ulama baik dan Garut ataupun wilayah Jawa Barat lainya. Tiada hari tanpa pengajian siang dan malam diisi dengan pengajian terus menerus disamping berbagi aliran Tarekat Tijani-nya yang hingga kini perkembanganya sudah mencapai kurang lebih 50 ribu pengikut aliran Tarekat Tijani di tempat Garut belum termasuk muridnya yang tersebar di wilayah Jawa Barat lainya,
Dalam mengembangkan tarekat Tijaniyah, ia mengangkat beberapa wakilnya di beberapa tempat diantaranya KH. Mukhtar Gozali di Pondok Pesantren Al-Falah, KH. Ma’mun, tokoh masyarakat dan ulama di Samarang (Garut), KH. Endung (Ulama di Cioyod-Cibodas Garut), KH. Imam Abdussalam (Ulama dan Pimpinan Pondok Pesantren Daru al-Falihin Ciheulang Bandung), KH. Mahmud (Ulama di Padalarang Bandung) dan KH. Fariqi (Ulama di Pekalongan Jawa Tengah).
KH. Badruzzaman masih sempat menyusun karya ilmiah dalam aneka macam bidang disiplin ilmu ke-islaman, diantaranya Risalah Tauhid dan Allohu Robbuna (Bidang Tauhid); Kaifiyat Shalat, Kaifiyat Wudhu (bidang Fiqih) yang mana kedua buku tersebut berdasarkan Fiqih Madzhab Syafi’i, selain itu ia juga menyusun Nadhom Taqrib dan memberi Sarah Safinatun Naja karya Syekh Nawawi al-Bantani; Risalah ilmu Nahwu, Risalah Ilmu Saraf, Nadhom Jurumiah (Bidang Nahwu Sharaf); dan ia menyusun ilmu Bayan dalam bentuk Nadhom; Serta Siklus Sunni (bidang Tashawuf).
Beliau wafat pada awal tahun 1972 tepatnya pada tanggal 3 Ramadhan 1390 H dalam usia sekitar 72 tahun dan dimakamkan di samping Pondok Pesantren al-Falah Biru Garut.‎
Scroll to Top