Sejarah Pesantren Cikanyere Ciamis

By | Agustus 4, 2016
Nama Pesantren Cikanyere diambil dari nama blok”Cikanyere” kawasan Dusun Cigoong RT 01/RW 01 Desa Sirnabaya, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis.
Pada tahun 1976 nama itu diganti dengan nama “Hidayatul Mubtadiin”. Namun alasannya masyarakat dan alumni sudah terbiasa menyebutnya Cikanyere, alhasil kembali ke nama asal yakni Pesantren Cikanyere hingga ketika ini.
Kenapa secara umum dikuasai orang menyebutnya Pesantren Cikanyere yaitu pesantren tertua di Ciamis? Berikut Kronologi dan sejarah singkatnya.
Pesantren Cikanyere didirikan pada tahun 1856 oleh KH Nuruzzein, ia memimpin Pesantren ini hingga tahun 1911. Pada waktu itu gres tersedia Majelis Ta’linij Langgar (tempat pemondokan sederhana) dan Pondok putera dengan pengajian kitab kuningnya.‎
Pada tahun 1911 KH. Nuruzzein wafat, maka pim­pinan pesantren diganti dengan seorang ulama harismatik berjulukan K. Nurulhasan. Beliau memimpin pesantren ini semenjak tahun 1911 hingga 1917.
K. Nurulhasan wafat tahun 1917, Pimpinan diganti oleh KH. Sulaiman Jamal.‎
Pada masa kemimpinan KH. Sulaiman Jamal, Pesantren sempat hijrah ke lereng Padaroke Desa Tigaherang selama 7 bulan alasannya komplek Pesantren dikuasai Belanda, rumah Kiai dijadikan markas, asrama putera habis dibakar. 
Pada tahun dan tempat yang sama Pesantren dibangun kembali di atas puing-puing pembakaran dengan kapasitas bangunan lebih tinggi daripada bangunan sebelumnya, dengan tunjangan masyarakat sekitar.‎
KH. Sulaiman Jamal kembali ke Rahmatulloh pada tahun 1449, maka Pesantren dilanjutkan oleh mantunya, yakni KH Ahmad Jalalussa­yuthi bin KH Kosasih Pasirkadu Baregbeg Ciamis yang sering berjuang dengan KH Zenal Mustofa, pejuang dari Tasikmalaya. Pada masa kepemimpinan beliau, selain menggunakan kegiatan pelajaran lama, juga ditambah dengan kegiatan Madrasah Diniyah, membangun asrama puteri dan menyelenggarakan bulanan alumni. Hal lain yang juga dilakukan ia yaitu mulai banyak berafiliasi dengan pihak birokrasi.‎
KH Ahmad Jalalussayuthi wafat pada tahun 1982, maka pesantren dipimpin oleh kiai muda K.H. A. Ahmad Hidajat hingga sekarang.‎
K.H. A. Ahmad Hidajat didampingi oleh em­pat orang abang beradik dan para mantunya, se­hingga santri yang berjumlah 345 orang itu bisa dibimbing dan dibina secara klasikal dan kejuruan.‎
Jenjang yang diampu ketika ini yaitu PSTK (Pendidikan Santri Tingkat Kanak-kanak (TK, TPA, TAAM dan DTA), PSTD (Pendidikan Santri Tingkat Dasar/Wustho), PSTA (Pendi­dikan Santri Tingkat Atas/ ‘Ulya) dan PSTT (Pendidikan Santri Tingkat Takhoshus).‎
“Cikanyere boga harepan, beber layar narik jangkar geusan janglar di pajengkaran (sagara kahirupan). Sayaga make duduga katut prayoga, mawa ummat sangkan sala­met parat natrat nepi ka aherat,” demi­kian pernah diucapkan K.H. A. Ahmad Hidajat da­lam sebuah kegiatan di pesantren yang dipimpinnya. 
Pesantren Cikanyere hingga ketika ini berdiri megah, menjalankan misinya, membina kader-kader khalifahfil-ardl (mandataris kepengelolaan petala bumi) yang mengerti dan bisa memberi indzar (mengingatkan) masyarakatnya sesuai karekteristiknya. ‎