Sejarah Pesantren Ndresmo Surabaya

By | Agustus 7, 2016
Perkampungan yang terletak di perbatasan antara Kecamatan Wonokromo dan Kecamatan Wonocolo, tepatnya di Jalan Sidosermo Dalam Surabaya, Jawa Timur, itu bermula dari sebutan sang kiai pengasuhnya, KH Mas Sayyid Ali Akbar, yang kemudian diikuti masyarakat sekitar dan berlanjut sampai sekarang. Nama itu memang diambil dari asal kata lima santri yang Nderes. Nderes itu mengaji yang terus menerus sepanjang hari.
Sebelum berubah menjadi menjadi ponpes besar mirip sekarang, Sidosermo yaitu sebuah rumah kecil yang dihuni beberapa orang pengikut Sayyid Ali Akbar. Mas Sayyid Ali Akbar yaitu anak Sayyid Sulaiman, cucu Sunan Gunung Jati Cirebon, Jawa Barat. Hasil perkawinannya dengan anak Mbah Sholeh Semendhi dari Pasuruan.
Bermula dari dua orang bersaudara berjulukan Sayyid Arif dan Sayyid Sulaiman, cucu Sunan Gunung jati Cirebon Jawa Barat, yang berkelana ke Jawa Timur untuk berguru di pondok pesantren yang diasuh Raden Rohmat (Sunan Ampel) Surabaya.
Ketika menimba ilmu di pondok pesantren Sunan Ampel, pada suatu malam ketika Sunan Ampel melakukan sholat malam, tampaklah oleh dia diantara para santri yg sedang tidur dua orang santri yang terlihat memancarkan sinar, kemudian oleh dia kedua orang santri itu didekati dan masing masing di ikat kain jariknya.
Keesokan harinya sesudah selesai menunaikan sholat subuh,semua santri dikumpulkan, kemudian Sunan Ampel bertanya: “wahai santri-santriku, siapa diantara kalian yg merasa kain jariknya terikat, mendekatlah kepadaku”.
Lalu mendekatlah, kedua santri yang berjulukan Sayyid Arif dan Sayyid Sulaiman kepada beliau, kemudian Sunan Ampel bertanya kepada para santrinya: Barang apakah yg paling berharga di dunia ini?, secara serempak mereka menjawab: “EMAS”.
Dengan insiden tersebut, maka Sunan Ampel menyuruh semua santrinya untuk memanggik kedua santrinya itu dengan panggilan “EMAS” didepan nama kedua santri tersebut,dan mulai ketika itulah kedua santri tersebut berikut keturunannya diberi gelar “MAS” didepan nama aslinya dan terus berlanjut sampai sekarang.
Selang beberapa waktu Sunan Ampel meminta kepada kedua santri itu untuk sowan kepada Mbah Sholeh Semendhi dan memberikan salamnya, sesudah memperhatikan perangai keduanya, timbullah impian Embah Sholeh Semendhi Pasuruan untuk mengambil kedua santri tersebut sebagai menantu
Karena sebelumnya dia memang sudah bernadzar bahwa: “Aku tidak akan mengawinkan kedua orang anakku,apabila tidak ada dua orang bersaudara yg tiba kepadaku secara bersama sama”.
Dalam melakukan kehendak Mbah Sholeh Semendhi, Mas Sayyid Sulaiman merasa perlu minta waktu mohon izin kepada kedua orang tuanya di Cirebon. Sementara adiknya Mas Sayyid Arif tetap tinggal di Pasuruan. Pada ketika Mas Sayyid Sulaiman berada dalam perjalanan yang memakan waktu selama tiga bulan, ketika itulah Mas Sayyid Arif di nikahkan terlebih dahulu. Dan barulah sekembalinya Mas Sayyid Sulaiman dari Cirebon, Mbah Sholeh Semendhi menikahkan dia dengan putrinya yg kedua yaitu adik dari istri Mas Sayyid Arif.
Dari perkawinan Mas Sayyid Sulaiman dengan putri Mbah Sholeh Semendhi lahirlah seorang putra yg di beri nama “ALI AKBAR”. Mas Sayyid Ali Akbar inilah yg kemudian membuka lembaran emas keluarga besar Sidoresmo. Dan Mas Sayyid Sulaiman sendiri menetap di Kanigoro Pasuruan. Ketika dia hendak pulang ke Cirebon, dalam perjalanan dia jatuh sakit di kawasan sekitar Jombang, Jawa timur, sampai dia dipanggil menghadap Sang Kholiq dan dikebumikan di Mojoagung Jombang. Sedangkan Mas Sayyid Ali Akbar sendiri jadinya menuntut ilmu di pondok pesantren Sunan Ampel, Surabaya.
Setelah usang berguru di ponpes milik Sunan Ampel, Sayyid Ali Akbar kemudian diperintahkan kembali pulang untuk mengembangkan aliran Islam oleh Sunan Ampel. Dalam perjalanannya dari Ampel kembali ke masyarakat untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh selama mengaji, Ali singgah di sebuah tempat sebelah timur Wonokromo, Surabaya. Saat itu, kawasan Wonokromo dan sekitarnya masih berupa hutan belantara.
Kemudian, dibantu sejumlah pengikutnya, Mas Sayyid Ali Akbar mendirikan perkampungan untuk mengembangkan aliran agama Islam. Setelah berdiri, terus berdatangan masyarakat sekitar untuk ikut mengaji dan berguru ilmu agama kepada Mas Sayyid Ali Akbar.
Setiap hari komunitas masyarakat kecil itu terus mengaji (Nderes). Hingga suatu malam pemandangan itu menyita perhatian Mas Sayyid Ali Akbar, ia terkesima melihat lima santri pengikut setianya terus menerus Nderes.
Sejenak Mas Sayyid Ali Akbar termenung, pemandangan itu kemudian menginspirasinya untuk memberi nama perkampungan tersebut dengan sebutan “Nderesmo”. Kalimat itu berasal dari Nderes-nya Santri Limo.
” NDRESMO”  , ada yg bilang SIDOSERMO atau SIDORESMO . namun nama asal dari kampung itu berjulukan NDRESMO .Perkampungan yang terletak di perbatasan antara Kecamatan Wonokromo dan Kecamatan Wonocolo, tepatnya di Jalan Sidosermo Dalam Surabaya, Jawa Timur,  hampir seluruh kawasan bahkan negara2 lain terlebih timur tengah banyak yg kenal desa itu . ya sebab kebanyakan penduduk nya punya pesantren . ya ! jumlahnya sangat banyak . dan lagi para penduduk orisinil situ yaitu dari keturunan baginda nabi MUHAMMAD SAW dari banyak sekali arah silsilah yg berbeda . ada dua jalur silsilah yg menghubungkan nasab penduduk ndresmo ke-baginda nabi muhammad . yaitu dari keturunan Sayyid Abu Bakar Basyaiban dan sayyid adhmat khon ( sanggup jadi ada yang lain dari kedua keturunan itu ).
nama ” NDRESMO” itu bukan sebuah kebetulan saja . namun terdapat sejarah awal penamaan itu . dahulu sekali , sesudah Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban  dan kakaknyaSayyid ali ( keduanya yaitu putra dari sayyid abdurrahman suami dari syarifah khodijah putri syarif hidayatullah , sunan gunung jati ) berkelana dalam penyi’aran islam , jadinya dia berdua menetap disuatu tempat . Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban berakhir di mojoagung sampai wafat dia dan dikebumikan disana . namun sebelum ke-mojoagung dia sudah mendirikan sebuah pesantren dipasuruan yg sampai kini masih berdiri kokoh dan besar . nama pesantren itu yaitu SIDOGIRI . 
sedangkan kakaknya , Sayyid Ali Al-arif bin Abdurrahman Basyaiban menetap dan mengajar didaerah pasuruan yg populer dg sebutan SEGOROPURO . beliau-pun diwafat dan dikebumikan disana . Disaat Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban masih memangku pesantren dipasuruan itu-lah , dia berkeinginan lebih meluaskan syi’ar islamnya ke-daerah2 lain . dia menyuruh putra2-nya biar semakin ulet dalam hal penyebaran islam diberbagai kawasan . terdapat beberapa nama dari putra2 dia yang tercatat diberbagai silsilah . diantaranya : 
abdul wahab , hazam , tsabit , ali akbar , abdulloh , abid , hasan , husein dan muhammad baqeer . ( mungkin ada yg lain ? allahu a’lam ) .
para putra2 Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban  itu banyak yg menyebar untuk melakukan impian ayah mereka utk memperluas penyebaran islam . tak terkecuali putra dia yg berjulukan Sayyid Ali Akbar . dalam masa pengembaraan , dia ( Sayyid Ali Akbar ) bermunajat pada Allah biar diberi petunjuk dimana tempat atau kawasan yg layak buat dirinya menetap . dan ternyata AllahS.W.T menawarkan petunjukNYA . terlihat oleh Sayyid Ali Akbar ditengah2 munajatnya , sebuah cahaya yg jelas yang mengarah kesuatu tempat yg kala itu masih sebuah hutan yg menyeramkan . 
berdasarkan riwayat tidak ada satupun orang yg sanggup memasuki hutan itu . orang banyak yg menyebutkan nama kawasan itu dengan nama ‘ bantalan demungan ‘ . jadinya Sayyid Ali Akbar  melaporkan hal itu pada ayahandanya  . mendengar penuturan putranya itu , Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban  menyuruh Sayyid Ali Akbar biar membabat dan menakhlukkan hutan itu dan membangun tempat tinggal disitu . beberapa santri ayahnya dipesantren sidogiri di-ikut sertakan untuk membantu putranya mengemban kiprah itu . 
singkat kisah , Sayyid Ali Akbar berhasil membabat dan menakhlukkan hutan itu . banyak sekali hambatan dan cobaan alhamdulillah berhasil dia lalui . sesudah selesai , dia membangun satu rumah sederhana yang dihalaman depan-nya terdapat sebuah ‘ gutek’an ‘ atau istilah kini satu tempat yg disediakan untuk santri menetap . sesudah selesai semuanya , tak usang ayahanda dia tiba untuk melihat hasil kerja putranya itu . cukup puas perasaan Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban melihat semua hasilnya . maka dia berpesan pada putranya biar menetap disitu dan dia menyuruh sebagian santrinya yg tadinya membantu Sayyid Ali Akbar akbar biar ikut menetap bersama putranya . Sayyid Sulaiman menentukan beberapa santri yg berjumlah 5 orang . jadinya Sayyid Sulaiman kembali kepasuruan dan meninggalkan 5 santri buat putranya , ali akbar . 
hari terus berganti . kehidupan Sayyid Ali Akbar penuh berisi dengan ibadah , ngaji dan pembenahan . setiap tak ada aktivitas ngaji bagi para 5 santri tersebut , mereka isi dengan muthola’ah ( berguru ) kitab2 yg telah diajarkan sayyid ali akbar . sampai bunyi mereka dalam hal membaca kitab terdengar oleh dia . jadinya dia segera menghampiri para santri-nya itu . dihadapan para 5 santri itu dia berkata : 
” kang , tiap malam saya selalu mendengar kalian berguru bersama saling nderes ( membaca ) kitab yg telah saya ajarkan . maka ingat baik-baik , semenjak ketika ini yang mulanya desa ini berjulukan ndemungan , maka saya ganti dengan nama NDRESMO . sing nderes kabehe limo ( yang berguru lima orang ) . 
” inggih kyai ” ( iya kyai ) jawab para 5 santri itu kompak . 
maka semenjak itulah , desa itu mulai dikenal orang dengan nama ndresmo . dan usang kelamaan ndresmo mulai berdatangan para murid Sayyid Ali Akbar yang ingin menimba ilmu dipesantren dia ini . semakin ramai dan populer desa itu . dan sampai kini kampung ndresmo populer dengan sebutan ‘ mekkah-nya tanah jawa ‘ . 
perlu diketahui , salah satu dari 5 santri Sayyid Ali Akbar tersebut yaitu ‘ ki ageng hasan besari ‘ yg populer dg ki kasan besari ponorogo . seorang ulama besar dan sangat populer sampai kini . 
NDRESMO DIMASA PENJAJAHAN 
Sudah semenjak dulu atau tepatnya semenjak zaman penjajahan desa itu selalu dikunjungi banyak orang . bagaimanapun juga keamanan didesa itu terjamin semenjak terikatnya perjanjian antara Sayyid Ali Akbar  dan pemererintah kolonial belanda . kemudian diperkuat lagi perjanjian sayyid iskandar (putra beliau). 
jadi para tamu-tamu yang memasuki desa ndresmo dulunya itu sanggup dipastikan ada 2 hal : yaitu niat berguru mengaji atau cari tunjangan dari kejaran para tentara belanda . perjanjian antar belanda dan kedua tokoh sentral ndresmo itu sudah tertulis . sampai kini konon goresan pena perjanjian untuk mengakibatkan desa ndresmo sebagai tempat yg di-istimewakan masih tersimpan rapi dinegara belanda sana . desa itu memang menciptakan dilema dan mati kutu bagi para penjajah . tak sanggup berbuat banyak kalau berurusan dengan penduduk desa itu . dan itupun berlanjut sampai kepenjajahan jepang . sudah menjadi belakang layar umum disaat penjajahan belanda dan jepang dulu , kalau ada tentara yg berusaha melanggar perjanjian tersebut sanggup dipastikan terkena peristiwa alam yg mengenaskan . bahkan kalau ada tentara yg berusaha masuk kedesa itu , banyak yang matanya tertutupi dengan sesuatu hal, sampai keberadaan ndresmo se-akan hilang tak berbekas.
Ada banyak beberapa peninggalan kuno yang masih ada didesa ndresmo . yaitu masih utuhnya rumah bekas kediaman Sayyid Ali Akbar  hingga keputranya Sayyid Ali Ashghor . yang kini rumah itu ditempati oleh K.H.Mas Mas’ud (almarhum ) . kemudian celana panjang yg biasa digunakan dalaman jubah milik sayyid ali ashghor yg masih tetap utuh . kemudian sumur yang dulunya biasa digunakan Sayyid Ali Akbar untuk memberi minuman para pejuang, sampai sesiapapun yg habis meminumnya secara fakta tak mempan oleh segala macam senjata para penjajah . kini keberadaan sumur itu ditutup sebab pernah terjadi hal yg sangat menakjubkan . ada seseorang yang mencuci buah pepaya yang masih utuh disitu . kemudian sesudah habis dicuci ternyata pepaya itu tak mempan dikuliti oleh pisau . dan masih banyak lagi insiden yg berafiliasi dengan sumur itu sampai menciptakan orang yg meminumnya kebal akan segala senjata tajam ( fakta tak terbantahkan dan banyak saksi yg masih hidup sampai ketika ini ) . ‎
NDRESMO DIMASA tahun 1950 – 2009 . 
Dimasa itu desa ndresmo menyerupai bunga yang segar dan indah . dimasa itu pula makin banyak berdatangan para santri disetiap rumah-rumah anak cucu keturunan baginda nabi Muhammad SAW didesa itu . banyak tokoh-tokoh kyai ndresmo kala itu yang berwibawa dan kharismatik . baik kyai ndremo yg menetap didesa itu, ataupun kyai ndresmo ( hebat ndresmo ) yang berada dikota-kota lain mirip pasuruan dll . atau baik kyai ndresmo dari fam ( Anak Cucu )  Basyaiban atau fam ( anak Cucu ) adhamat khan atau fam lainnya .
Para sesepuh dulu dengan tindakan aktual menawarkan pola terhadap keturunan mereka kelak , biar senantiasa mementingkan ilmu agama daripada duniawi . juga pentingnya berserah diri pada Allah SWT disaat kondisi apapun . membiasakan diri utuk selalu meng-khatamkan alqu’an minimal 3 hari sekali .membiasakan diri biar tak tidur malam untuk memuji Allah sampai pagi . semua itu masih terealisasi sampai ketika ini . maka jangan heran kalau kita melihat dirumah-rumah keturunan baginda nabi di-ndresmo kalau malam jarang yang tidur . ada yang dimasjid ‘ali akbar’ dan ada yang dirumah membaca alqu’an , ada yang memimpin para santrinya untuk istighotsah , ada yang ngelalar pelajaran agama . namun kalau siang hari jarang yg keluar rumah ( ingat , bukan rumah para pendatang lo ) . terdapat nama-nama para kyai yang sanggup mempertahankan kewibawaan ndresmo dari dulu sampai ketika ini . 
yaitu kyai mujahid , kyai mansur bin thoha , kyai muhibbin , kyai baqer , kyai abdul qadir , kyai yahya , kyai thoha , kyai ahmad dan kyai2 lainnya 
kini , ndresmo masih tetap sebuah desa yg sangat religius sekali . makin banyak aktivitas saadah ( para sayyid ) dimasa modern ini . tak mirip sesepuh ndresmo hadapi, yg berupa para penjajahan dan insiden keganasan PKI yang penuh dengan kekerasan , maka para saadah kini menghadapi sesuatu yg complicated . baik dalam kehidupan bermasyarakat yg lain dg yg dulu . sebab para pendatang gres makin banyak . apalagi teknologi yg maju pesat dan zaman telah banyak berubah . tapi alhamdulillah tak sanggup merubah ke-religiusan ndresmo itu . 
Meski “ndremo”  desa yg sangat kecil tapi terdapat puluhan pesantren disitu , meski rata-rata santrinya cuma sedikit . terhitung hanya 2 pesantren yg sanggup dikatakan besar dindresmo itu . yaitu ponpes annajiyah dan ponpes at-tauhid . dan inilah nama pesantren didesa ndremo yg memang sudah punya nama : 
1 . Pondok Pesantren An-Najiyah ( pim. KH.Mas yusuf muhajir , diponpes barat ) 
2 . Pondok Pesantren An-Najiyah  ( pim. KH.Mas Abdullah muhajir , diponpes timur ) 
3 . Pondok Pesantren Islam At – Tauhid  ( pim. KH.Mansyur Tholhah ) 
5 . Yanaabi’ul-ulum ( pim. KH.Mas Khotib ) 
6 . Pondok Pesantren Islam Al-Haqiqi Al-Falahi Joyonegoro “. ( pim. KH.Mas Lukman abdul qadir ) 
7 . Al-wasilah ( pim. KH. Anshor Muhajir ) 
8 . Pondok Pesantren  pim. KH.Mas Khalim dan K.Mas Abdul Qadir
9 . Pondok Pesantren pim. K.Mas Faqor
10. Pondok Pesantren pim. Nyai Hj. Mas Farohah 
11. Al-irsyad ( pim. Nyai Hj. Mas Afifah binti KH.Mas Nur Rosul ) 
12. Pondok Pesantren pim. Nyai Mas Luthfa binti KH.Mas Abu Dzarrin 
13. Pondok Pesantren Al-hasan ( pim . . . . ) 
14. At-Taqowwiyah ( pim. saya sendiri, pemilik blog ini,bin KH.Mas Nur Rosul ) 
15. Pondok Pesantren pim. Kyai Mas Qadir 
16. Al-Ahih ( pim. KH.Mas Dawam ) 
17. Pondok Pesantren  pim. KH.Mas Busyairi 
18. Al-badar ( pim . KH.Mas Nur ) 
19. Pondok Pesantren pim. KH.Mas abdul qahar  
20. Al-badar putri ( pim. KH.Mas Muzammil ) 
21. Pondok Pesantren pim. KH.Mas Yazid.  dll
Pesantren An-Najiyah
Di pinggiran kota, tepatnya di kelurahan Sidosermo Kecamatan Wonocolo berdirilah Pondok Pesantren tertua, yang kini dikenal dengan nama Pondok Pesantren An-Najiyah. 
Dalam catatan sejarah Pondok Pesantren ini didirikan pada tahun 1613 oleh KH. MAS ( Sayyid ) Ali Akbar putra Sayyid Sulaiman ( Sunan Mojoagung cucu dari Sunan Gunung Jati) bin Sayyid Abdurrahman bin Umar bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Achmad bin Sayyid Abu Bakar Al-Basyaiban.
Pondok Pesantren ini sakarang dibawah asuhan beberapa orang Kyai. Antara lain:K.H. Mas Yusuf Bin KH Mas Muhajir. KH.Mas Muhajir dia yaitu putra KH. Mas Mansur. 
KH.Mas Muhajir Memangku Pesantren Sidosermo juga sekaligus perintis forum pendidikan formal di An-Najiyah. Beliau dikenal sebagai ulama pejuang kemerdekaan,juga dikenal sebagai prajurit yang ikut mengangkat senjata melawan tentara belanda dalam revolusi kemerdekaan.  KH.Mas Muhajir berangkat mengangkat senjata bergabung dengan Bataliyon Mansur Sholihin. Karir usaha ini mulai ketika berada di Brangkal Mojokerto, dimana dia dipercaya ayahandanya memangku Pesantren Al-Ikhsan di Brangkal. Dan dia kembali ke Surabaya bersama Pak Jarot pada tahun 1949.
KH.Mas muhajir yang lahir pada tahun 1912. Menuntut ilmu agama Islam dan bermukim di Makkah selama 6 tahun sesudah sebelumnya menjadi santri di Tebu Ireng Jombang. Kemudian berturut menuntut ilmu agama pada pesantren KH.Zaenal Abidin, di Mojosari-Nganjuk. KH. Halim,Sukrejo-Banyumas, KH.Muntaha, Jangkabuan Bangkalan-Madura dan pada KH Zahid, Sumelo- Jombang. Disamping itu pernah juga nyantri pada KH.Zaenal, Bungah-Gresik dan pada KH. Ya’qub, Panji Buduran-Sidoharjo , 
Saat ini Pondok Pesantern An-Najiyah telah dilengkapi pendidikan formal TK-SD-SMP-SMU, selain itu juga ada Madrasah Diniyah Putra dan Putri. Madrasah Diniyah Putra dibawah pimpinan KH.Mas Khoirul Anam, sadangkan Madrasah diniyah Putri dibawah pimpinan Nyai.Hj.Mas Jazilatul Chikmiyah Muhajir, dan diasuh oleh KH.Mas Yusuf Muhajir. KH.Mas Yusuf Muhajir sesudah menamatkan pendidikan di SD,SLTP An-Najiyah kemudian sebuah SMU di Surabaya kemudian melanjutkan pendidikan di Timur Tengah tepatnya di Syiriah kurang lebih 5tahun. Beliau yaitu salah satu wakil ketua yayasan An-Najiyah disamping KH.Mas Faqihuddin Muhajir, KH.Mas Abdullah Muhajir dan KH.Mas Mansur Muhajir sebagai ketua Umum Yayasan. Sedangkan KH. Mas Anshor Muhajir yaitu pemangku Pondok Pesantren Al-Wasilah dan pendiri Yayasan Pendidikan An-Najiyah. Akan halnya dengan pondok itu sendiri berkembang menjadi pondok putri Barat dibawah asuhan Nyai.Hj.Mas Fatimah Muhajir, Pondok Pesantren Putri Timur dibawah asuhan Nyai Hj. Chasanah istri Almaghfurlah KH. Mas Muhajir Mansur. Disamping ada pesantren Al-Wasilah dibawah asuhan KH.Mas Anshor Muhajir.‎