Sejarah Singkat Mbah Kyai Mino Ponpes Nurul Qodim

Pesantren Nurul Qadim di Desa Kalikajar Kulon Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo didirikan oleh KH. Hasyim atau yang cukup dikenal dengan sebutan Kiai Mino. Kini pesantren ini diasuh oleh KH. Hasan Abdul Jalal Hasyim dan mempunyai banyak santri hingga ke luar daerah.

Di tempat Jabung wetan  K. Asfina dan Nyai Asfina mempunyai 8 putra putri
Lelaki 2 perumpuan 6 diantaranya :

Ky Zainal Arifin           Sumberan
Nyai Dul                      Jabung Wetan
Nyai Umar                  Jabung Wetan
Nyai Misdan               Jabung Wetan
Nyai Buwat                 Kalikajar
Nyai Saduya              Jabung Wetan
Nyai Enggi                 Jabung Wetan
Ky Mino                       Kalikajar

Ky Mino anak yang paling terakhir, Kelahiran Ky Mino pada tahun 1902.
Umur Ky Mino 85 Tahun. Hajji pada tahun 1970 M. Mendirikan Musholla pertama pada tahun 1945 M

Ky Mino menikah dengan Nyai Maryam ( Nyai Rodina ) yang mempunyai putra : 2

– Guuluh ( Gamar )
– Beetoh ( Jasuli )

Hal ini sebelum menunaikan Ibadah Hajji, tapi sesudah Hajji Ky Mino mempunyai Putra 2 lagi :

– Nyai Salama
– KH. Hasan Abd. Jalal

Proses kelahiran K. Mino

            Suatu ketika K. Asfina pergi kepengajian ada seorang kiai yang menceritakan proses kelahiran imam Syafi’I yang mana isi dongeng itu bapak imam Syafi’I mentirakatkan dan mendo’akan anaknya yang berjulukan imam Syafi’I yang masih ada di kandungan, dan K. Asfina mendengarkan dengan sungguh-sugguh ( konsentrasi ) sesudah pulang dari pengajian dan menceritakan wacana isi pengajian ( ceramah ) kepada Ny. Asfina dan K. Asfina berkata; “Dik guleh deteng pangajien, ano can kiai dik, mon terro endieh anak sholeh tarakat aki ben tueh aki ka pangiran” dettih kauleh sareng empian mulai lambe’ sala kebei anak, tak tarakat aki ben ta’ ben tueh aki ka pagiran sapen malem saben siang.(dik, saya tiba dari pengajian, kata kiai, kalau ingin punya anak sholeh harus ditirakati, minta pertolongan Allah jadi kita dari dulu salah dalam menciptakan anak, tidak ditirakati siang malam) Lalu Nyi Asfina berkata ; “ Tore kang kauleh mangken andek, tore tarakat aki ben tue aki ka pangiran ma’le endik anak se sholeh. (ayo kang, saya kini mau. Ayo kita tirakati, minta pertolongan Allah supaya mempunyai anak yang sholeh)

            Mulai malam itu juga Nyai Asfina pergi kebelakang rumahnya mengambuil sapu lidi, oleh Nyai Asfina sapu lidi itu disucikan dan dilepas ikatannya lalu diletakkan di tempat sholat, dan di setiap malamnya K. Asfina dan Nyai Asfina wiridan (berdo’a), K. Asfina di depan dan Nyai Asfina di belakang ber wiridan(berdo’a) menggunakan lidi-lidi itu secara bergantian dari K. Asfina lidi-lidi itu diberikan pada Nyai Asfina dan Nyai Asfina mengikuti wiridan yang di baca K. Asfina. Setelah lidi-liditersebut habis di depan K. Asfina kemudian oleh Nyai Asfina di kembalikan lagi kedepan K. Asfina begitu seterusnya hingga subuh untuk mendo’akan kandungannya. Tentang wiridan yamg dibaca yaitu Istighfar dan Sholawat laluberdo’a semuga mempunyai anak yang sholeh, sejak saat itulah mereka istiqomah wiridan ( dimalam hari) dan pada siang harinya K. Asfina dan Nyai Asfina berpuasa hingga menjelang kelahiran kandungan nyai Asfina dan lahirlah K. Mino (KH. Moch. Hasyim / Mino).

Waktu kecil Ky Mino pernah mondok di genggong pajarakan di dalem KH Syamsuddin dan pernah Ngaji pada KH Halima ( Tunjungan ) dan waktu ngaji Ky Mino berdasarkan KH Halima kurang begitu cendekia , kalau menulis di pisah-pisah mirip menulis jalan   ج ل ن tak usang kemudian berhenti mondok kemudian kawin dengan Nyai Rantina Jabung Wetan , tak usang kemudian berpisah dengan Istrinya di sebabkan tidak ada kecocokan kemudian Ky Mino kembali lagi ke Pondok kira-kira 3 tahun dan menjadi Khaddam (Santri Ndalem) KH Syamsuddin, jikalau KH Syamsuddin membaca Al- Qur’an dan Kitab Maka Ky Mino mendengarkan, sesudah itu berhenti mondok.

Menurut KH. Halima “ Ky Mino bisah dedtih bellinah pangiran karna olle sebeb oreng towah ben barokanah guruh”.(Ky Mino sanggup jadi waliyullah karena mendapat barokahnya orang bau tanah dan guru).

Waktu ada di pondok Ky Mino pernah suatu hari ada kucing yang jatuh kesumur kemudian oleh Ky Mino di ambil dan dibawa keatas.

Kedatangan Ky Mino ke PP Zainul Hasan Genggong kira- kira pada tahun 1930/1931 M. Ky Mino menjadi khaddam KH. Syamsuddin ( luwai ) KH. Moh. Hasan . pekerjaan dia sehari-sehari menciptakan tabing (Widek/gedek), dan memberi makan kuda, mengairi sawah, serta mencari ikan.

Pertama K. Mino tiba ke Genggong pribadi suwan ke KH. Syamsuddin, di dikala itu ada orang yang menciptakan tabing, kemudian Kiyai bertanya kepada mino, apakah kau sanggup menciptakan tabing ? dan mino menjawab ; sanggup dan hasilnya memuaskan dan itulah awal mulanya Ky Mino menjadi haddam KH Syamsuddin. Ketika Ky Mino menjadi haddam, pekerjaan sehari-seharinya mencari rumput, untuk memberi makan kuda milik KH Symsuddin hasil santunan dari saudara bisan KH syamsuddin, Pangeran Joyo dari Pegalangan Kidul, dan pekerjaan Ky Mino ketiga selalu mengairi sawah milik KH Syamsuddin yang terletak di barat PP. Genggong. Kegiatan yang berupa ibadah / mencari ilmu ialah mengaji Al kitab dan sullam safinah, pribadi kepada KH Syamsuddin sesudah solat Dhuhur. Setelah ngaji mino pribadi mencari ikan disungai mulai dari genggong hingga pajarakan tanpa sepengetahuan gurunya. Dan hasil tangkapan nya sangat banyak dan semuanya di berikan kepada gurunya.

Yang kedua ibadah Ky Mino mulai solat maghrib hingga jam 10 beriktikaf di masjid sesudah gres turun dari masjid dan tidur di tempat yang selalu di lewati oleh kiai. Dan melaksanakan solat tahjjud ketika jam dua dan subuhnya dibangunkan oleh kiai untuk mengumandangkan adzan. Konon Ky Mino tukang adzan solat subuh. Dan Kyai Hosnan tukang adzan solat maghrib, begitulah aktifitas sehari-hari di pondok pesantren genggong selama kurang lebih 3 tahun.

Dan setiap aktifitasnya Ky Mino tidak pernah dikasih makan kalau tidak berjumpa dengan Ibu Nyai, kalau berjumpa dengan Ibu Nyai, Ky Mino di beri makan,  konon ketika makan hingga tiga suapan, Ky Mino di gertak oleh KH Syamsuddin dan kiai berkata “kamu jangan banyak makan karena saya tidak punya beras” hasilnya Ky Mino tidak menghabiskan makanannya, begitulah setiap harinya. Sedangkan tujuan KH Syamsuddin melarang Ky Mino makan banyak bukan karena tidak punya beras tetapi untuk melatih haddam tercintanya ridho dan tujuan tersebut tidak diketahui oleh Ky Mino karena setiap kali makan, Ky Mino selalu di tegur oleh gurunya, maka Ky Mino mengambil keputusan tidak akan memberi makan kuda dan mengerjakan sesuatu apapun kalau ada Ibu Nyai karena khawatir dikasih makan.

Kejadian- bencana asing di Pondok Genggong

Pernah suatu hari Ky Mino di suruh mengairi sawah oleh KH Syamsuddin, sesampainya di sawah oleh kiai mino pribadi mengairi sawahnya kemudian di tinggal karena waktu itu airnya penggalan sawahnya KH Syamsuddin.  Beberapa  jam kemudian Ky Mino kembali ke sawah untuk melihat sawah yang di airi, apakah sudah penuh apakah belum dan setibanya di sawah Ky Mino terkejut melihat sawahnya tidak ada airnya sama sekali. Akhirnya Ky Mino pergi ke hulu untuk menutup terusan air ( sangatan ). Setelah hingga kehulu terkejut karena melihat terusan air yang kesawahnya Ky Mino tertutup batang pohon pisang ( katebong ) dan di atasnnya tertancap sebilah pedang dan k. mino tahu bahwa pedang tersebut milik seorang bajingan yang sawahnya bersampingan dengan sawahnya KH Syamsuddin dan airnya di arahkan ke sawah bajingan tersebut. Akhirnya Ky Mino pulang dan melaporkan bencana tersebut kepada guru dan guru berkata kenapa kau tidak cabut saja pedang tersebut dan kau buka terusan airnya dan Ky Mino menjawab, “saya takut’ dan sang guru berkata lagi, “kamu takut? kau pria atau perempuan.k. mino membisu tidak menjawab kemudian sang guru berkata, “mari kita ke sawah bersama-sama”. Sesampainya di sawah k.mino disuruh mencabut pedang tersebut kemudian membuka terusan air dan menutup terusan air ke arah sang bajingan sesudah itu Ky Mino melihat sang bajingan dari kejauhan,mengetahui bencana tersebut, KH Syamsuddin berkata k.mino tolong kau jangan disini dan saya mau sembunyi.

Ky  Mino hanya menuruti perintah sang guru namun dalam berkata ‘” engko’ esorro a jegeh, kiai ngetek, reken engko’ soro pate’en, nyamanah dibi’, (Saya disuruh jaga, kiai sembunyi, emangnya saya disuruh dibunuh, seenaknya sendiri).

Akhirnya sang bajingan semakin akrab dan ketika hampir akrab ke Ky Mino , KH Syamsuddin berdehem. Mendengar dehemen KH Syamsuddin sang bajingan jatuh terjungkir ke sawah. Dan mengira itu deheman Ky mino. Kaprikornus setiap kali sang bajingan bertemu atau berpapasan dengan Ky Mino selalu menjauh karena takut ke Ky Mino. mengingat bencana tersebut, bermula dari itulah Ky Mino menjadi seorang pemberani.

Suatu hari Ky Mino sedang menciptakan sapu lidi tiba-tiba Ky Hosnan tiba dari pasar, kemudian muncullah impian K Mino untuk menggojlok Ky Hosnan. Ky Mino berkata:”Hai Madrai’ (Nama orisinil Ky Hosnan) kamu dipanggil Ibu Nyai katanya ikannya disuruh cepat dimasak.”Mendengar hal itu Ky Hosnan terburu-buru untuk mencuci dan memasak ikan , ketika ikan sudah masak Ky Hosnan pribadi mengantarkan ke Ibu Nyai. Kemudian Ibu Nyai berkata : “Oh..kamu sudah tiba ?lo..ikannya sudah masak ? kok cepat. Mendengar hal itu Ky Hosnan menyadari bahwa dirinya sudah dipermainkan oleh Ky Mino.

Setelah beberapa hari dari bencana tersebut ketika Ky Mino datang dari menyabit (cari rumput) dan diketahui oleh Ky Hosnan, maka disaat itulah muncullah impian untuk membalas Ky Mino. Ahirnya Ky Hosan berkata pada Ky Mino: “Hai Mino, cepat kau dipanggil Kiai katanya kau mau diajak Mios (bepergian). Ahirnya Ky Mino meletakkan rumputnya dan segera mandi. Setelah berpenampilan rapi Ky Mino menghadap sang Guru, dan betapa terkejutnya Ky Mino ketika sang Guru berkata : “ Kamu sudah datang Mino? dan tolong kuda-kuda itu dikasih makan.Dengan bencana tersebut maka Ky Mino menyadari bahwa dirinya dibalas oleh Ky Hosnan.

Pesan sang Guru ( KH Syamsuddin ) kepada Ky Mino.

“ Cong be’en mon terro aobeeh kalakonnah eteppa’en ojen derres, be’en duli adua’ cong”(nak, kau kalau ingin berubah kelakuannya, ketika hujan deras, kau cepat berdo’a) Selelah pulang dari pondok dan berkeluarga, Konon di jabung ada pabrik dan Ky Mino bekerja di pabrik tersebut, sepulangnya dari pabrik di pertengahan jalan di guyur hujan yang sangat deras, ketika itu juga Ky Mino pribadi ber do’a dengan menjerit dan ber do’a “  Duh gusteh obe’aki kalakuan kauleh gusteh ”(Duh Gusti, rubahlah kelakuan hambamu ini Gusti!.) doa tersebut  di lakukan karena Ky Mino ingat kepada dawuh (pesan) sang Guru.

Kepatuhan, Ketaatan dan ketakutan Ky Mino pada Gurunya ( KH. Moh, Hasan Genggung )

Ketika bulan Ramadhan Ky Mino menjaga jidur (beduk) ketika ada di pondok untuk menjaga adzan maghrib, disuatu ketika maghrib kurang 1 menit Ky Mino pribadi memukul beduk dan pukulan beduk tersebut di dengar oleh Ky Moh Hasan, Lalu Ky Moh Hasan bertanya, “ siapa nepbu jidur kik buruh.?” (sipa yang menabuh beduk barusan) mendengar seruhan Gurunya tersebut Ky Mino pribadi jatuh pingsan dikarnakan sangat takut dan ta’dimnya pada sang Guru.

Pesan terahir K. Mino

Suatu ketika menjelang wafat K. Mino yang sedang berbaring di tempat tidur, kemudian Nyai Maryam berkata ; “ dek remma jih empian pon palemanah? de’ remmah bawah umur en?” (gimana jih (haji) sampean sudah mau pulang? Bagaimana dengan anak-anaknya?) lalu K. Mino menjawab, “  Dinah engko’ endik anak lakek e dinnak (K. Jalal) (tidak apa-apa, saya punya anak pria disini !! (K. Jalal)) e berek engkok endik anak lakek kiah (K. Fauzi) (dibarat, (desa sumberan)saya juga punya anak pria !! (K. Fauzi)),  K. Mino berkata lagi “ ye mon santreh, mon endik kapentingan; ye ngajih neng kobornah engko” , surat yasin sareng tahlil, ye etue akinah bikengkok “. (dan santri, kalau punya kepentingan, ya ngaji di pesareanku, surat yasin dan tahlil, ya akan saya do’akan !!)

Perkembangan Pesantren Nurul Qodim

Pada awal didirikan oleh Kiai Mino, pesantren ini hanyalah sebuah musholla yang kemudian bermetamorfosis sebuah masjid. Dari waktu ke waktu, banyak orang bau tanah yang mengirimkan putra-putrinya untuk menimba ilmu. Mendapati perkembangan jumlah santri itu, Kiai Mino kemudian mendirikan tempat acara mencar ilmu mengajar yang layak dan nyaman. Maka, berdirilah gedung madrasah sebanyak tiga lokal. Sayang, empat tahun kemudian acara mencar ilmu mengajar di gedung madrasah anyar itu “bubar”. Itu terjadi sesudah ada hambatan dari sektor tenaga pengajar.

“Kegiatan mencar ilmu mengajar di madrasah itu terus merosot hingga hasilnya vakum karena kurangnya tenaga pengajar dan minimnya kemudahan pendidikan,” terang Pengasuh Pesantren Nurul Qadim dikala ini Kiai Hasan Abdul Jalal Hasyim.

Madrasah diniyah (madin) yang awalnya berjaya itu, tinggal kenangan. Lokal kelas dan sejumlah kemudahan lainnya mulai tidak terurus. Hal itu berlangsung hingga dengan tahun 1964. Ditahun yang sama, menantu Kiai Mino, Kiai Nuruddin Musyiri mencoba kembali membangun madin itu dari tidur panjangnya.

Alumnus Pesantren Zainul Hasan (Zaha) Genggong Pajarakan itu membangunkan madin dengan menentukan proses mencar ilmu mengajar di pagi hari. Madrasah anyar itu diberi nama Madrasah Ibtidaiyah Nurul Hasan. Tidak hanya itu, Kiai Nuruddin juga membuka kembali asrama santri yang sempat mangkrak. Syukur, kini madin yang penuh dengan pelajaran-pelajaran salaf itu semakin berjaya.

“Sejak itu, pesantren ini terus berkembang pesat. Santrinya ada yang dari Madura, Cirebon, Banyuwangi, Jember dan paling banyak dari masyarakat sekitar pesantren,” terperinci Kiai Hasan.

Kiai Nuruddin bersama KH.  Hasan Abdul Jalal (putra almarhum Kiai Mino) terus berupaya membuatkan sektor pendidikan di pesantrennya. Terlebih, sesudah melihat banyak santrinya yang telah lulus dari madin masih ingin terus mondok. Sayangnya, pesantren belum mempunyai sekolah lanjutan. Melihat hal itu, Kiai Nuruddin bersama Kiai Jalal pundak membahu pada tahun 1970 mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Tetapi pelajarannya khusus pelajaran-pelajaran salaf bersumber dari kitab-kitab peninggalan ulama-ulama salaf. Atau lebih populer dengan sebutan kitab kuning.

Empat tahun kemudian atau pada tahun 1974, pesantren Nurul Qadim kembali kebingungan dengan alumni MTs-nya. Mereka galau mencari sekolah lanjutan. Kebingungan itu hasilnya dijawab oleh pihak pesantren dengan mendirikan Madrasah Aliyah (MA).

“Semua itu dilakukan untuk melanjutkan pelajaran yang sudah diperoleh di madin. Begitu juga yang aliyah (MA) untuk melanjutkan pelajaran yang sudah didapat sewaktu masih di MTs,” kenangnya bangga.

Dengan berkembangnya sektor pendidikan, berdampak pula pada semakin membludaknya santri. Sehingga pada tahun 1979, pihak pesantren kembali mendirikan asrama untuk santri putri. Asrama itu diberi nama Pesantren Putri Nurul Qadim Banat I. “Alhamdulillah, jumlah santri semakin banyak. Sehingga harus kembali mendirikan asrama santri putri dengan nama Pesantren Putri Nurul Qadim Banat II pada tahun 1988 silam,” pungkasnya.

Scroll to Top