Syarat Binatang Qurban, Syarat Berkurban Idul Adha

cybermoeslem – Hari Raya Idul Adha identik dengan pemotongan binatang kurban/qorban. Bagi seorang muslim yang bisa berkurban, maka sangat dianjurkan untuk melakukan ibadah kurban dengan hewan-hewan kurban yang sudah ditentukan secara syariat.

Di indonesia khususnya, saat berkurban memakai binatang kambing dan/atau sapi. Dimana kita juga diperbolehkan untuk patungan binatang kurban. Untuk info selengkapnya mengenai hal ini, silakan bisa pelajari artikel yang berjudul “Hukum Patungan Kurban Sapi dan Kambing

Syarat-syarat Hewan untuk Berkurban

 

Ada 6 syarat yang harus diperhatikan dalam menentukan binatang kurban, diantaranya :

  1. Hewan Ternak
    Harus dari golongan binatang ternak, yaitu; unta, sapi dan kambing, baik domba, biri-biri, atau yang lainnya. Hal ini menurut Firman Allah SWT
    وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُواْ اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِّن بَهِيمَةِ الاَْنْعَامِ

    Artinya :
    “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), semoga mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka”. (QS. al Hajj: 67)

    Binatang ternak adalah: unta, sapi dan kambing, ini yang sudah tidak abnormal lagi bagi orang arab. Demikian pernyataan al Hasan, Qatadah, dan yang lainnya.

  2. Usia Hewan sudah sesuai Syariat
    Hewan yang untuk berkurban harus mencapai usia tertentu yang telah disyari’atkan, yaitu; jadza’ah dari kambing, atau tsaniyah dari binatang lainnya. Berdasarkan sabda Rasulullah SAW:
    لا تذبحوا إلا مسنة إلا أن تعسر عليكم فتذبحوا جذعة من الضأن . رواه مسلم

    Artinya :
    “Janganlah kalian menyembelih kecuali musinnah, namun kalau kalian sulit mendapatkannya maka sembelihlah jadza’ah dari kambing”. (HR. Muslim)

    Musinnah yaitu tsaniyah ke atas (usia satu tahun), jadza’ah yaitu di bawahnya.

    • Tsaniy dari unta, yang berumur 5 tahun
    • Tsaniy dari sapi, yang berumur 2 tahun
    • Tsaniy dari kambing, yang berumur 1 tahun
    • Sedangkan jadza’ah, yang berumur setengah tahun

    Maka tidak sah kurban seseorang kalau usia hewannya di bawah tsaniy dari unta, sapi dan kambing. dan usia di bawah jadza’ah dari domba/biri-biri.

  3. Hewan Sehat (Tidak Cacat)
    Hewan kurban harus selamat dari cacat. Yang menjadikannya dihentikan dijadikan binatang kurban, yaitu ada empat hal:
    • Matanya buta sebelah, yaitu; bermata satu, atau salah satu matanya muncul hampir keluar, atau juling.
    • Hewannya sakit, yang ciri-cirinya nampak jelas, seperti; panas yang menjadikannya duduk terus dan tidak mau makan, atau kena penyakit kudis yang merusak daging dan mensugesti kesehatan tubuhnya, atau luka yang dalam yang mensugesti kesehatannya.
    • Hewannya pincang, yang menghalangi binatang tersebut untuk bisa berjalan menyerupai biasanya.
    • Sangat kurus yang bisa menjadikannya strees,

    Berdasarkan sabda Rasulullah SAW saat ditanya bahwa binatang kurban harus terhindar dari (cacat) apa saja?, dia mengisyaratkan dengan jarinya dan bersabda:

    أربعاً : العرجاء البين ظلعها ، والعوراء البين عورها ، والمريضة البين مرضها ، والعجفاء التي لا تنقى “. رواه مالك في الموطأ من حديث البراء بن عازب

    Artinya :
    “empat hal: pincang yang jelas, yang buta sebelah, sakit yang terang sakitnya, yang sangat kurus”. (HR. Malik di dalam “Muwatha’ “ dari hadits al Barra’ bin ‘Azib.

  4. Hewan Kurban yaitu Milik Kurbani (Orang yang berkorban)
    Hewan kurban harus menjadi milik qurbani sepenuhnya, atau yang mendapat izin untuk berkurban, sesuai dengan yang ditetapkan syari’at atau mendapat persetujuan dari pemilik binatang kurban. Dan tidak sah berkurban dengan binatang yang bukan miliknya, menyerupai : hasil ghasab, mencuri, mengambil paksa dengan alasan yang bathil; alasannya tidak sah mendekatkan diri kepada Allah dengan bermaksiat kepadanya. Adapun wali dari anak yatim kurbannya sah atas nama anak tersebut dan diambilkan dari hartanya, kalau sudah menjadi kebiasaan setempat, dan akan merasa duka kalau tidak berkurban.
    Kurbannya wakil sah, kalau sudah mendapat restu dari pemilik harta.
  5. Hewan Kurban tidak berkaitan dengan hak orang lain, dan tidak sah berkurban dengan harta yang digadaikan.
  6. Waktu Penyembelihan Kurban
    Hewan kurban harus disembelih pada waktu yang telah ditentukan oleh syari’at, yaitu; mulai sesudah shalat idul adha hingga terbenamnya matahari pada tanggal 13 Dzul Hijjah (akhir hari tasyrik). jadi masa sembelihan yaitu 4 hari, barang siapa yang menyembelih sebelum shalat id atau sesudah terbenamnya matahari pada tanggal 13 Dzul Hijjah, maka kurbannya menjadi tidak sah, menurut hadits Bukhori dari al Barra’ bin ‘Azib –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda- bersabda:
    من ذبح قبل الصلاة فإنما هو لحم قدمه لأهله وليس من النسك في شيء

    Artinya :
    “Barang siapa yang berkurban sebelum shalat, maka sembelihannya menjadi masakan untuk keluarganya dan bukan ibadah (kurban) sama sekali”.

    Jundub bin Sufyan al Bajali –radhiyallahu ‘anhu- berkata: Saya menyaksikan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

    من ذبح قبل أن يصلي فليعد مكانها أخرى

    Artinya :
    “Barang siapa yang menyembelih sebelum shalat, maka ia harus mengulanginya dengan binatang lain (setelah shalat)”.

    Dan dari Nabisyah al Hudzali –radhiyallahu ‘anhu- berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

    أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكر لله عز وجل

    Artinya :
    “Hari-hari tasyriq yaitu hari makan dan minum, dan berdzikir kepada Allah –‘Azza wa Jalla- “. (HR. Muslim)

Itulah Syarat-syarat Berkuban hari raya idul adha. Dibolehkan menyembelih binatang kurban pada siang ataupun malam hari, namun pada siang hari lebih utama, dan pada hari raya (tanggal 10 Dzul Hijjah) sesudah shalat pribadi lebih utama, dan setiap hari sesudah tanggal 10 lebih baik dari berikutnya; dengan dasar bersegera mengerjakan kebaikan.

Pelajari juga: Kriteria Hewan Qurban Pilihan Rasulullah SAW

Scroll to Top