√Tanda-Tanda Orang Meninggal Dengan Khusnul Khotimah Pesan Yang Tersirat Doa

Blog Khusus Doa – Setiap insan tentu menginginkan di selesai hayatnya atau saat meninggal dunia dalam keadaan khusnul khotimah. Karena dengan khusnul khotimah, Insya Allah orang tersebut akan mendapat syurga di alam darul abadi nanti. Amin.

Mungkin kita tidak akan pernah tahu bagaimana nanti saat kita meninggal, apakah khusnul khotimah atau sebaliknya. Namun sebagai insan kita selalu berusaha semoga supaya diakhir khayat nanti kita semua khusnul khotimah, dengan berbuat bagi dikeseharian kita, bertaqwa kepada Allah SWT serta selalu memohon dan berdoa semoga ditutup usia nanti dalam keadaan baik atau khusnul khotimah.

(Pelajari juga: Bacaan Doa Khusnul Khotimah, Doa Agar Ditutup Usia dalam Kebaikan)

Keutamaan Meninggal Dunia di Hari Jum’at bagi Orang Muslim)

  • Syahid di medan perang
    Allah Ta’ala berfirman,
    وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

    Artinya :
    “Janganlah kau menerka bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapat rizki.” (QS. Ali Imran: 169)

    Dalam hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan banyak keutamaan orang yang mati di medan jihad. Dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Bagi orang syahid di sisi Allah ia beroleh enam perkara, adalah diampuni dosanya pada awal mengalirnya darahnya, diperlihatkan tempat duduknya di surga, dilindungi dari adzab kubur, kondusif dari kengerian yang besar (hari kiamat), dipakaikan komplemen iman, dinikahkan dengan hurun ‘in (bidadari surga), dan diperkenankan memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan kerabatnya.” (HR. Turmudzi 1764, Ibnu Majah 2905, dan yang lainnya)

    Dalam hadis lain, ada seorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    “Ya Rasulullah, kenapa kaum mukminin mendapat ditanya dalam kubur mereka kecuali orang yang mati syahid?”

    Jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    “Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai ujian kesabaran baginya.” (HR. Nasai 2065 dan dishahihkan al-Albani)

  • Meninggal sesudah bersabar dengan ujian yang Allah berikan
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Siapakah syahid berdasarkan kalian?”

    ‘Orang yang mati di jalan Allah, itulah syahid.’ Jawab para sobat serempak.

    “Berarti orang yang mati syahid di kalangan umatku hanya sedikit.” Lanjut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    ‘Lalu siapa saja mereka, wahai Rasulullah?’ tanya sahabat.

    Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan daftar orang yang bergelar syahid,

    “Siapa yang terbunuh di jalan Allah, beliau syahid. Siapa yang mati (tanpa dibunuh) di jalan Allah beliau syahid, siapa yang mati alasannya wabah penyakit Tha’un, beliau syahid. Siapa yang mati alasannya sakit perut, beliau syahid. Siapa yang mati alasannya tenggelam, beliau syahid.” (HR. Muslim 1915).

    Dalam hadis lain, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Siapa yang terbunuh alasannya membela hartanya maka beliau syahid.” (HR. Bukhari 2480).

    Dalam hadis lain dari Jabir bin Atik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Selain yang terbunuh di jalan Allah, mati syahid ada tujuh: mati alasannya tha’un syahid, mati alasannya karam syahid, mati alasannya sakit tulang rusuk syahid, mati alasannya sakit perut syahid, mati alasannya terbakar syahid, mati alasannya tertimpa benda keras syahid, perempuan yang mati alasannya melahirkan syahid.” (HR. Abu Daud 3111 dan dishahihkan Al-Albani).

    Ketika mejelaskan hadis daftar orang yang mati syahid selain di medan jihad, Al-Hafidz Al-Aini mengatakan,

    “Mereka mendapat gelar syahid secara status, bukan hakiki. Dan ini karunia Allah untuk umat ini, dimana Dia menyebabkan peristiwa alam yang mereka alami (ketika mati) sebagai pembersih atas dosa-dosa mereka, dan ditambah dengan pahala yang besar, sehingga mengantarkan mereka mencapai derajat dan tingkatan para syuhada hakiki. Karena itu, mereka tetap dimandikan, dan ditangani sebagaimana umumnya mayit kaum muslimin.” (Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 14/128).

  • Meninggal dalam keadaan berjaga (ribath) fi sabilillah (di tempat perbatasan negeri muslim dan kafir).
    Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu menyebutkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    “Berjaga-jaga (di jalan Allah) sehari dan semalam lebih baik daripada puasa sebulan dan shalat sebulan. Bila ia meninggal, amalnya yang biasa ia lakukan saat masih hidup terus dianggap berlangsung dan diberikan rizkinya serta kondusif dari fitnah (pertanyaan kubur).” (HR. Muslim 5047)

  • Meninggal dalam keadaan bederma shalih.
    Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Siapa yang mengucapkan La ilaaha illallah alasannya mengharapkan wajah Allah yang beliau menutup hidupnya dengan amal tersebut maka beliau masuk surga. Siapa yang berpuasa sehari alasannya mengharapkan wajah Allah yang beliau menutup hidupnya dengan amal tersebut maka beliau masuk surga. Siapa yang bersedekah dengan satu sedekah alasannya mengharapkan wajah Allah yang beliau mengiri hidupnya dengan amal tersebut maka beliau masuk surga,” (HR. Ahmad 23324 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

  • Nah, kalau kita menemui gejala di atas, semoga orang yang meninggal tersebut benar-benar dalam keadaan khusnul khotimah, dan semoga kita semua nanti di selesai khayatnya dalam keadaan baik. Amin.

    JIKA ARTIKEL INI BERMANFAAT, SHILAKAN SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN

    Scroll to Top