Ukraina Sebut 50 Pasukan Rusia Tewas Dan Enam Pesawat Tempur Hancur

Ukraina Sebut 50 Pasukan Rusia Tewas dan Enam Pesawat Tempur Hancur

TRIBUNNEWS.COM – Militer Ukraina menyampaikan sekitar 50 pasukan Rusia tewas dan enam pesawat tempur hancur di tengah peperangan di timur negara itu, Aljazeera melaporkan.

Sebelumnya, militer Ukraina melaporkan bahwa mereka sudah menembak jatuh lima pesawat Rusia ketika menangkis serangan Rusia.

Namun, hal berlainan disampaikan Kementerian Pertahanan Rusia, yang menyampaikan pasukannya sudah menekan fasilitas pertahanan udara militer dan melumpuhkan infrastruktur pangkalan militer Ukraina.

Kementerian itu membantah klaim bahwa pesawat tempur Rusia ditembak jatuh di atas Ukraina.

Dikutip dari AP News, perang antara Rusia dan Ukraina pecah setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menginformasikan pasukannya melancarkan serangan ke negara tetangga dalam pidato yang disiarkan televisi Kamis pagi.

Serangan tiba pertama dari udara, tapi kemudian penjaga perbatasan Ukraina merilis rekaman kamera keselamatan yang menyediakan barisan kendaraan militer Rusia menyeberang ke kawasan yang dikuasai pemerintah Ukraina dari Krimea.

Ledakan besar terdengar di ibu kota Kyiv, Kharkiv di timur, dan Odesa di barat dan warga Ukraina melarikan diri dari beberapa kota.

Para pemimpin dunia mengecam dimulainya invasi dengan konsekuensi yang luas.

Tindakan Rusia sanggup memicu korban besar, menggulingkan pemerintah Ukraina yang terpilih secara demokratis, serta mengacaukan geopolitik dan keseimbangan keselamatan Eropa pasca Perang Dingin.

Pemerintah dari Amerika Serikat (AS) hingga Asia dan Eropa merencanakan hukuman gres setelah berminggu-minggu gagal mengupayakan penyelesaian diplomatik.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menginformasikan darurat militer, menyampaikan Rusia sudah menargetkan infrastruktur militer Ukraina.

Warga Ukraina yang sudah usang bersiap untuk kemungkinan serangan didesak untuk tinggal di rumah dan tidak ketakutan bahkan ketika pihak berwenang Ukraina melaporkan rentetan artileri dan serangan udara ke sasaran di seluruh negeri.

Setelah berminggu-minggu menyangkal rencana untuk menyerang, Putin membenarkan tindakannya dalam pidato televisi semalam.

Putin menyatakan serangan itu diperlukan guna melindungi warga sipil di Ukraina timur, di mana klaim tersebut diprediksi AS cuma selaku alasan untuk invasi.

Putin menuduh AS dan sekutunya mengabaikan permintaan Rusia untuk menangkal Ukraina bergabung dengan NATO.

Putin juga mengklaim bahwa Rusia tidak berniat untuk menduduki Ukraina tapi akan bergerak untuk “demiliterisasi” dan menenteng mereka yang melaksanakan kejahatan ke pengadilan.

Orang-orang berlangsung di Kyiv tengah di depan Monumen Kemerdekaan pada 24 Februari 2022.
Orang-orang berlangsung di Kyiv tengah di depan Monumen Kemerdekaan pada 24 Februari 2022. (AFP/DANIEL LEAL)

Penyebab Rusia Serang Ukraina

Seperti diketahui, kawasan yang kini disebut Ukraina, Rusia, dan Belarusia yakni pecahan dari Kievan Rus.

Kievan Rus yakni negara adikuasa era pertengahan yang berpusat di tepi Sungai Dnieper, nyaris 1.200 tahun yang lalu.

Namun, Rusia dan Ukraina memiliki bahasa, sejarah, dan politik yang berbeda.

Putin  telah beberapa kali mengklaim bahwa Rusia dan Ukraina yakni “satu”, pecahan dari “peradaban Rusia” yang juga meliputi negara tetangga Belarusia.

Sementara itu, Ukraina menolak klaim Putin tersebut.

Ukraina mengalami dua revolusi pada 2005 dan 2014. Keduanya menolak supremasi Rusia.

Ukraina malah mencari jalan untuk bergabung dengan Uni Eropa dan NATO (North Atlantic Treaty Organization) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara.

Putin pun sungguh murka dengan kemungkinan adanya pangkalan NATO di perbatasannya apabila Ukraina bergabung dengan aliansi tersebut.

Sebab NATO yakni aliansi militer yang diresmikan karena kompetisi blok Barat dengan Uni Soviet dan sekutunya pasca-Perang Dunia II.

Anggota NATO diisi negara-negara sekutu Amerika menyerupai Inggris.

Konflik Rusia dan Ukraina 2014

Konflik Rusia dan Ukraina sebenarnya sudah terjadi sejak 2014.

Saat itu, Ukraina menggulingkan presiden  yang pro-Rusia yakni Viktor Yanukovych.

Pelengseran Yanukovych memicu pertentangan dalam pemerintahan Ukraina yang terbagi menjadi dua kalangan yakni penunjang Uni Eropa dan penunjang Rusia.

Putin pun menggunakan kekosongan kekuasaan untuk mencaplok Krimea dan mendukung pemberontakan dari kalangan separatis atau penunjang Rusia di provinsi tenggara Donetsk dan Luhansk.

Campur tangan Rusia atas permasalahan Ukraina didasarkan pada kepentingan politik dan ekonomi.

Letak geopolitik Krimea yang strategis ingin dimanfaatkan Rusia untuk memperkuat pengaruh di tempat Eropa Timur dan Timur Tengah.

Konflik Rusia dan Ukraina tersebut meningkat menjadi perang terpanas di Eropa, serta sudah menewaskan lebih dari 13.000 orang dan jutaan orang mengungsi.

Saat pertentangan Rusia dan Ukraina tahun 2014, militer Ukraina kelemahan peralatan dan demoralisasi, sementara pemberontak memiliki “konsultan” dan persenjataan Rusia.

Namun pada pertentangan Rusia dan Ukraina ketika ini, Ukraina jauh lebih berefek secara militer dan ribuan sukarelawan yang menolong menghalau separatis siap untuk melakukannya lagi.

Ukraina berbelanja atau menerima persenjataan mutakhir dari Barat dan Turki, tergolong rudal Javelin yang terbukti mematikan bagi tank separatis.

Serta drone Bayraktar yang memainkan tugas penting dalam perang tahun kemudian antara Azerbaijan dan Armenia.

Sementara itu, Ukraina sudah mendorong pembangunan domestik dan buatan senjata beberapa di antaranya sama efektifnya dengan persenjataan Barat.

Baca juga postingan lain terkait Konflik Rusia Vs Ukraina

(Tribunnews.com/Ica/Hasanudin Aco)

Scroll to Top